Agribisnis Indonesia by Noer Rachman Hamidi
Showing posts with label quran inspirasi pertanian. Show all posts
Showing posts with label quran inspirasi pertanian. Show all posts

Memulai Kemakmuran dari Domba

Posted by Noer Rachman Hamidi


Pekerjaan memakmurkan bumi ini adalah pekerjaan yang sangat komplek – multi dimensi. Usia manusia yang terbatas, pengalaman dan kecerdasannya-pun terbatas – tidak akan pernah mampu menguasai keseluruhan dimensi tersebut. Lantas bagaimana manusia yang penuh keterbatasan ini bisa mengemban tugas yang sangat kompleks tersebut ? tidak ada jalan lain kecuali dengan mengikuti petunjukNya.

Bila kita hanya mengandalkan kecerdasan dan pengalaman kita, bisa jadi perbuatan yang kita kira baik itu justru berdampak buruk bagi orang lain.  Ketika orang-orang super kaya bersama dengan perusahaan-perusahaan benih dunia membuat Doomsday Seed Fault di laut Barent dekat kutub utara – untuk konon katanya mengamankan benih dunia ketika 'kiamat' tiba ! – yang terjadi malah hampir satu milyar orang kelaparan sebelum 'kiamat' itu tiba.

Sebaliknya, hal kecil - sederhana yang kita lakukan dengan mengikuti petunjukNya atau mengikuti contoh-contoh NabiNya – bisa jadi tersimpan di dalamnya hikmah yang sangat besar – baik hikmah itu kita ketahui atapun belum/tidak kita ketahui.

Misalnya syariat ber-Qurban yang akan rame-rame kita lakukan dalam sepekan yang akan datang. Siapa yang memberi contoh ?, yang memberi contoh adalah Nabi Ibrahim 'Alaihi Salam dan Putranya 'Ismail 'Alaihi salam. Apa yang dicontohkannya ? menyembelih seekor sembelihan yang besar. Para ahli tafsir menyebutkan bahwa yang disebut sembelihan yang besar itu adalah domba atau gibas yang besar dan sempurna (QS 37:107).

Lalu manusia sekarang berfikir ekonomis dan manfaat jangka pendek menurut logikanya sendiri – yang terbatas, yaitu ada paham menyembelih sapi lebih baik karena dagingnya banyak – banyak masyarakat yang bisa menikmati daging pada hari itu.

Meskipun tidak ada yang melarangnya dan berqurban dengan sapi, unta, kerbau dan lain sebagainya semuanya baik – yang tidak baik hanyalah yang tidak berqurban ! tetapi alangkah baiknya lagi kalau kita bisa mencontoh sedekat mungkin dengan contoh aslinya – yaitu menyembelih domba atau gibas yang besar.

Dagingnya tentu tidak sebanyak sapi, tetapi dampak pada dimensi-dimensi lainnya yang insyaAllah sangat luas. Bila qurban-qurban kita kembali ke domba, maka masyarakat akan rame-rame memelihara domba. Apalagi ketika domba-domba ini digembala juga dalam rangka mengikuti perintahNya (QS 20 :54), ketaatan yang satu melahirkan ketaatan berikutnya, manfaat yang satu menggerakkan manfaat berikutnya.

Akibat domba-domba yang digembalakan di tempat-tempat yang juga ditunjukanNya (QS 16:10), maka negeri ini akan menjadi negeri kebun-kebun buah dari segala macam buah-buahan yang ada (QS 16:11). Negeri yang seperti ini dipuji Allah sebagai negeri yang baik – Baldatun Thayyibatun Wa Rabbun Ghafuur (QS 34;15).

Negeri yang baik, mampu memberi makan cukup bagi rakyatnya – kita tidak perlu lagi impor buah malah meng-ekspornya, kita-pun tidak perlu lagi impor daging dan susu.  Daging domba ini adalah daging yang sekarang disebut the world healthiest food sebagai makanan tersehat didunia, mereka menyebut khusus the grass-fed-lamb yaitu daging domba yang diberi makan rumput (digembala di rerumputan !).

Susu domba selain menjadi minuman yang bersih dan mudah diminum (QS  16:66 ), juga sangat efektif untuk berbagai pengobatan penyakit. Tidak perlu industri farmasi yang canggih-canggih untuk ini, tinggal mengumpulkan dan mengemasnya secara baik saja – sudah akan menjadi industri obat-obatan yang tidak kalah dengan industri obat-obatan milik kapitalis yang telah menjadikan obat sangat mahal.

Ketika domba semakin banyak, ada potensi industri baru yaitu industri pakaian dari kulit atau bulu domba. Bahkan pakaian dari kulit dan bulu domba inipun ada di petunjukNya yaitu di surat An-Nahl 80-81. Kita bisa menjadi produsen dan eksportir pakaian terbaik dunia, tidak seperti sekarang kita menjadi importer untuk pakaian yang sebenarnya  tidak begitu bermutu.

Dari contoh kecil dan sederhana yaitu mengembalikan qurban sedekat mungkin dengan contoh aslinya ini saja – kita insyaAllah sudah bisa menggerakkan seluruh dimensi kemakmuran yang ada. Keturunan kita akan lebih baik, alam kita akan lebih baik, lapangan pekerjaan terbuka luas, demikian pula dengan potensi ekonomi riil dalam negeri yang bisa digarap oleh masyarakat luas.

Barangkali dampak yang begitu luas dalam pertumbuhan yang berkelanjutan inilah maka domba juga disebut sebagai harta muslim terbaik dalam hadits shahih berikut :  "Waktunya akan datang bahwa harta muslim yang terbaik adalah domba yang digembala di puncak gunung dan tempat jatuhnya hujan. Dengan membawa agamanya dia lari dari beberapa fitnah (kemungkaran atau pertikaian sesama muslim)". (H.R. Bukhari)

Maka yang kita perlu lakukan di usia yang terbatas dan kemampuan juga terbatas ini adalah bagaimana kita mengerjakkan saja perintah-perintahNya dan menjauhi apa-apa yang dilarangNya, maka kita insyaAllah akan semakin dekat dengan takwa – dan orang bertakwa dijanjikan rezeki yang tanpa batas atau tanpa dhihitung ( QS  3:27 ;24:38; 40:40), dan dari sumber yang tidak disangka-sangka  (QS 65:3)  ! InsyaAllah. ‎


agribisnis indonesia, alfaafa, sejarah alfaafa, desain pertanian qurani, resolusi pertanian, resolusi peternakan, budidaya tanaman zaitun, budidaya tanaman kurma, membangun ketahanan pangan, kemakmuran umat memakmurkan petani kebun quran

SelengkapnyaMemulai Kemakmuran dari Domba

Resolusi Pertanian, Perkebunan dan Peternakan

Posted by Noer Rachman Hamidi


Awalnya dahulu manusia makan dari hewan dan tumbuh-tumbuhan yang bisa diperoleh dari alam sekitarnya. Kemudian bertahap manusia mampu menyeleksi tanaman-tanaman yang bisa dibudi dayakan, ternak yang bisa dijinakkan dan digembalakan, mampu mengelola air dan mempertahankan kesuburan, mampu mengatasi penyakit, menggunakan tenaga diluar tenaga manusia dst. Sampai di sini manusia masih bisa memenuhi kebutuhannya dari alam sekitar.

Kemudian ketika manusia mampu melakukan perjalanan jauh, mulailah sejumlah hasil pertanian diperdagangkan dari tempat-tempat yang jauh. Ini adalah suatu kebaikan karena dengan cara itu manusia bisa saling kenal mengenal dan saling memenuhi kebutuhannya. Bahkan untuk era yang sangat panjang, sekitar delapan abad di masa Islam menguasai perdagangan dunia – dunia Islam mengelola perdagangan hasil pertanian setidaknya di tiga benua yaitu Eropa, Afrika dan Asia. Bukan hanya hasilnya, Umat Islam pula yang menyebarkan sejumlah tanaman melintasi benua untuk bisa hidup di tanah-tanah yang baru.

Tercatat dalam sejarah tebu, sorghum, padi, lemon, kelapa, pisang, bayam dlsb. dibawa oleh umat Islam dari Asia dan Afrika ke Mediterania dan bahkan sebagian sampai kemudian ke benua Eropa. Sampai disini-pun perdagangan dan pengenalan tanaman-tanaman dunia masih memberi manfaat besar bagi umat manusia secara keseluruhan. Karena di jaman itu penduduk bumi terkonsentrasi di tiga benua yaitu Asia, Afrika dan Eropa – maka dapat dikatakan bahwa selama delapan abad umat Islam mengurusi pangan bagi penduduk dunia.

Lalu datanglah era kolonialisasi Eropa yang didominasi oleh Spanyol, Portugis, Belanda, Inggris dan juga Perancis. Mereka menjajah negeri-negeri kaya hasil alam untuk diekploitasi, dikuras habis hasil alamnya untuk membangun negeri-negeri mereka sendiri. Tidak sedikit kontribusi negeri-negeri jajahan untuk pembangunan Eropa untuk waktu yang lamanya sekitar empat abad, mulai dari abad ke 16 sampai pertengahan abad 20 ketika negeri-negeri jajahan beruntun merdeka seiring dengan berakhirnya Perang Dunia II.

Selama sekitar empat abad tersebut, para penjajah mengelola pangan dunia untuk keuntungan mereka sendiri. Negeri mereka makmur, tetapi negeri-negeri jajahan mereka di Asia, Afrika dan kemudian juga Amerika Selatan menjadi negeri-negeri yang miskin. Contoh klasiknya adalah kita di Indonesia yang bahkan pernah menjadi korban tanam paksa oleh kolonial tersebut.

Di paruh akhir dari abad ke 20 dan di awal abad 21 ini, lain lagi pengelola pangan bagi dunia itu. Pengelola pangan bukan lagi negara atau bangsa atau umat, tetapi segelintir pemain yang mengatas namakan perdagangan atau pasar bebas – yang mereka rela mengeksploitasi bangsanya sendiri sekalipun Demi keuntungan segelintir orang inilah berbagai produk dan hasil pertanian didatangkan dari negeri-negeri yang jauh sekalipun asal bisa memberikan keuntungan bagi (kelompok) mereka.

Produksi bahan pangan dalam negeripun terkendala oleh sumber-sumber produksi berupa bibit, pupuk, bahan kimia sampai pakan ternak yang dikuasai oleh segelintir kelompok usaha tertentu. Motif produksi dan peredaran bahan pangan sudah bukan lagi memenuhi kebutuhan bagi umat manusia, tetapi mengejar keuntungan semata. Pengelolaan produksi dan distribusi bahan pangan yang demikian itu hingga kini telah menimbulkan ketimpangan dan ironi yang luar biasa.

Negeri-negeri miskin dengan daya beli penduduknya yang rata-rata rendah justru harus membeli bahan pangan dari negeri maju – yang mengeruk keuntungan dari ekspor bahan pangan mereka itu. Petani dan peternak miskin harus membeli bibit, pupuk, obat-obatan dan bahkan pakan ternak dari konglomerasi tertentu. Di dunia saat ini ada sekitar 41 negara net exporters bahan pangan (kalori), mayoritasnya adalah negeri kaya seperti Amerika, Kanada, Australia, New Zealand, Perancis dlsb. Sementara itu yang menjadi net importers kalori adalah negeri yang pas-pas-an seperti Indonesia, India, Pakistan dan bahkan juga negeri-negeri miskin di Afrika, Asia Selatan, dan Amerika Tengah.

Ironi lain adalah ketimpangan distribusi bahan pangan dunia-lah yang telah menyebabkan sekitar 870 juta orang kekurangan gizi sementara ada 1 milyar orang di dunia kelebihan berat badan, 475 juta diantaranya bahkan sampai pada tingkatan obesitas. Pengelolaan bahan pangan dunia gaya kapitalisme juga membuat dunia tidak aman, rawan gejolak sosial, revolusi dan bahkan juga  perang. Krisis di Meksiko dengan Huru- Hara Tortilla awal 2007 bisa menjadi pelajaran bagi para pemimpin negeri yang suka mengandalkan impor untuk solusi kebutuhan pangannya.

Demikian juga yang dialami negeri-negeri Afrika Utara dan Arab beberapa tahun terakhir Instabilitas keamanan pangan mudah menjadi pemicu kerawanan yang ditimbulkan oleh hiperinflasi harga pangan melalui setidaknya tiga trigger:
  • Pertama adalah ketika negara produsen tiba-tiba membutuhkan sendiri hasil panenannya untuk berbagai keperluan sendiri dengan berbagai alasan – seperti kasus Tortilla di Meksiko tersebut.
  • Kedua, sekitar 45 % penduduk dunia berada di 5 negara besar Asia yang produksi bahan pangannya pas-pasan. Mereka ini adalah China, India, Indonesia, Pakistan dan Bangladesh. Karena kebutuhan pangannya yang sangat besar, kegagalan swasembada pangan negara-nagara ini mudah untuk memicu gejolak harga pangan di seluruh dunia. Kenaikan kebutuhan jagung dan kedelai oleh China misalnya, akan dengan mudah melambungkan harga jagung dan kedelai di pasaran dunia – itupun kalau masih tersedia.
  • Ketiga, ketika negeri-negeri panik dalam memenuhi kebutuhan pangannya – mereka cenderung memacu produksi dengan agak ngawur – tidak berfikir dampak jangka panjang. Hutan-hutan dibabat untuk menjadi lahan pertanian yang mengakibatkan krisis air kemudian, padahal air ini sangat dibutuhkan untuk pertanian itu sendiri. Ketika untuk intensifikasi pertanian, lahan-lahan digerojok dengan pupuk-pupuk dan obat-obatan kimia – maka ini hanya mempercepat penurunan kwalitas dan kesuburan lahan  - yang dampaknya secara gradual justru juga malah menurunkan hasil pertanian jangka panjang.
Satu saja dari triggers tersebut bekerja sudah cukup membuat Huru Hara Tortilla di Meksiko, bagaimana bila dua atau tiga  triggers tersebut aktif bekerja secara bersamaan ?  Maka risiko krisis pangan bagi dunia itu adalah imminent – mungkin bisa terjadi dalam waktu dekat.

Lantas pertanyaannya adalah bagaimana kita bisa proaktif mencegah krisis itu terjadi ?

Bagaimana kita bisa mencari solusi agar negeri ini bisa selamat dari potensi krisis pangan tersebut ?

Bagaimana kita bukan hanya mengatasi krisis untuk negeri sendiri tetapi juga menjadi solusi bagi negeri lain – seperti yang dilakukan oleh Nabi Yusuf ‘Alaihi Salam ?

Bagaimana kita bisa menjadi bagian dai solusi dunia dan bukan malah menjadi bagian dari masalahnya ?

Tiga dari setiap delapan penduduk dunia tergolong miskin bila kita gunakan standar daya beli US$ 2/hari. Ini berarti ada sekitar 2.7 milyar penduduk dunia yang miskin yang sangat rentan terhadap krisis pangan. Oleh sebab itu krisis ini harus bisa diantisipasi, dicegah dan diminimisasi dampaknya - bukan hanya oleh pemerintah, tetapi juga oleh penduduk negeri-negeri seperti kita.

Bagaimana caranya ? sebagaimana penyebabnya yang diuraikan dalam tulisan sebelumnya bahwa krisis itu berasal dari ulah tangan-tangan manusia – seperti di era kolonialism dahulu dan kapitalisme kini – maka dari sinilah kita mencegah krisis itu agar jangan sampai terjadi.

Pertama yang harus dihindari adalah penguasaan sumber-sumber produksi hanya oleh segelintir pihak tertentu. Ini bisa lahan, sumber air,  benih, pupuk, obat-obatan, energy, pengetahuan dlsb. Sumber produksi utama seperti lahan, air dan energi harus dikelola secara bersama sebagaimana petunjuk Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam :

“Orang-orang muslim itu bersyirkah dalam tiga hal, dalam hal padang rumput, air dan api” (Sunan Abu Daud, no 3745)

Kuncinya ada di syirkah tersebut dan ini pengertiannya sangat luas, dalam tulisan "Syirkah (Kerjasama) didalam 3 Hal", bisa dicari bentuk-bentuk syirkah yang paling efektif untuk membangun ketahanan pangan itu.

Ketika petani kita tidak bersyirkah, penguasaan lahan mereka rata-rata terlalu kecil. Seandainya lahan mereka sudah subur-pun, tetap tidak memberi penghasilan yang memadai untuk Pak Tani dan keluarganya, lihat tulisan "Memakmurkan Petani”. Bila selama ini sudah ada bentuk-bentuk syirkah seperti di sejumlah Kelompok Tani dan Koperasi Unit Desa (KUD), namun belum berhasil membangun kemakmuran para petani dan belum juga membangun ketahanan pangan – maka barangkali perlu dicarikan bentuk-bentuk syirkah yang lain yang lebih efektif.

Urusan pangan ini adalah urusan yang sangat besar, namun agar mudah ditangani - maka urusan tersebut kita bisa  breakdown menjadi urusan-urusan yang lebih kecil - kita atasi masalah tersebut dari desa ke desa. Setelah menjadi skala desa, insyaAllah akan banyak yang (merasa) sanggup untuk melakukannya dan mudah-mudahan bener-bener sanggup.

Kita di Indonesia memiliki jumlah lulusan sarjana pertanian saat ini sekitar 34,000 per tahun. Asumsikan 80 % Muslim dan asumsikan 50% saja tertarik untuk mempraktekkan ilmunya di bidangnya, asumsikan dari sini 5 % saja yang tertarik untuk melandasi penerapan ilmunya dengan petunjuk Al-Qur’an, Hadits dan sirah – maka mestinya tidak sulit untuk memperoleh sekitar 680 orang kader inti pertanian setiap tahun yang mau dibekali dengan petunjuk-petunjukNya.

Mereka kemudian  diterjunkan ke desa-desa untuk menjadi prime mover dalam gerakan syirkah pertanian di desa-desa. Mulai dari memetakan potensi dan masalah yang ada di desa tersebut, mengatasi satu per satu masalah yang ada, mengefektifkan kerja petani, mencarikan mereka bibit-bibit tanaman yang dibutuhkan, mengelola pasar hasil bumi petani dengan konsep pasar Madinah, mempromosikan keluar negeri dengan konsep "promosi gratis menggunakan Google", mengolah hasil pertaniannya di lokasi bila perlu dengan menggunakan yang dibuat sendiri seperti www.manufaktur-indonesia.com, dlsb.dlsb.

Maka si sarjana pertanian ini akan seperti Abdurrahman bin Auf yang tanpa bekal di hari pertamanya terjun ke pasar, tetapi kemudian dia mampu bersyirkah dengan seluruh penduduk Madinah dan memakmurkan Madinah pada jamannya. Demikianlah si sarjana ini nanti berperan di desanya yang baru, dia membangun syirkah dengan seluruh petani dan penduduk desa untuk kemudian memakmurkannya.

Apa jaminannya bahwa si sarjana ini akan berhasil ? yang menjamin keberhasilan dia bukan kita, tetapi Allah Ta'ala !, itulah maka dipersyaratkan di atas si sarjana ini harus mau dibekali dengan Al-Qur’an, Hadits, sirah dlsb. adalah untuk membangun keimanan dan ketakwaannya. Yang dia lakukan di desa bukan hanya mengajari bertani dan berdagang tetapi juga membangun keimanan dan ketakwaan petani dan penduduk desa – baru setelah itulah jaminan keberkahan dari Allah berlaku untuk mereka (QS 7 : 96).

Di antara bentuk keimanan dan keberkahan itu adalah keyakinan bahwa AlQur’an memberi jawaban untuk seluruh masalah (QS 16:89), maka si sarjana pertanian akan mencari solusi dari setiap masalahnya di Al-Qur’an. Ketika ketemu tanah yang tandus dan mati apa yang dia harus lakukan (QS 36:33), ketika ketemu hasil bumi yang tidak memadai – apa pula yang dia harus lakukan (QS 13:4) dlsb.

Sebagai contoh dengan surat Abasa yang dia bisa ajarkan ke para petani untuk membacanya, menghafalkannya dan sekaligus mengamalkannya – dia akan bisa mengurusi seluruh kebutuhan pangan petani. Mulai dari kebutuhan protein dari biji-bijian (QS 80:27), kebutuhan karbohidrat dan lemak (QS 8029), kebutuhan vitamin dan mineral (QS 80 : 28 dan 31), kebutuhan tanaman obat (QS 80 :30) dan bahkan juga tanaman-tanaman untuk ternak mereka (QS 80 :31-32).

Setelah metode ini berhasil dengan 680 orang sarjana di 680 desa percontohan, tinggal diikuti dengan sarjana-sarjana berikutnya di desa-desa lainnya. Setiap tahun penambahan desa yang digarap, yang diterjunkan adalah dua kali dari yang sebelumnya – referensinya ada ditulisan sebelumnya ‘ Desain Pertanian menurut Al Qurani ’ . Maka dengan pendekatan ini insyaAllah Indonesia yang memiliki sekitar 74,000 desa akan bisa makmur dalam periode kurang dari 10 tahun.

Bagaimana kalau para sarjana pertanian tidak tertarik untuk membangun desa ?, tidak masalah karena banyak sarjana lain dan bahkan juga pemuda-pemuda terampil yang bisa diajari dengan konsep yang sama. Yang lebih penting bukan sarjana atau tidaknya, yang penting adalah mau menggunakan petunjukNya atau tidak.

Yang mendatangkan kemakmuran bukan kesarjanaannya, tetapi adalah keimanan dan ketakwaannya – maka inilah syarat utamanya. Untuk membekali para sarjana atau pemuda trampil tersebut terjun ke desa-desa, bisa saja dibentuk syirkah level berikutnya.

Yaitu syirkah para pemodal dengan para pemuda yang akan terjun ke desa-desa tersebut. Orang-orang yang tinggal di kota-kota seperti saya dan Anda-pun insyaAllah akan mau bersyirkah mendanai para pemuda yang akan memakmurkan desa dan insyaAllah juga akan memakmurkan negeri ini secara keseluruhan - bahkan juga negeri-negeri lain dengan pola yang sama.

Dari syirkah bersama tersebut kita akan memiliki kekuatan di dalam membangun konsep pertanian terpadu dengan menggabungkan "hubungan antara Pertanian, Perkebunan dan Peternakan" sehingga sebagai petani dapat mandiri dalam mengelola pupuk organik, pakan untuk ternak, bahkan sumber energi untuk pertanian. Secara garis besar bisa kita kembangkan dari analisa berikut ini :
  1. Peternakan memerlukan pakan yang dapat diperoleh dari rumput-rumputan, kacang-kacangan, Alfaafa, jerami padu, jagung, singkong, hijauan dedaunan dari kebun buah-buahan yang diproses fermentasi menjadi pakan silase yang dapat bertahan sampai 12 bulan. Atas usaha ini biaya pakan untuk ternak dapat diturunkan sampai 70%, sehingga dapat menjadi keuntungan para petani. Contohnya dapat dilihat dalam tulisan "membuat Pakan untuk Sapi dan Kambing".
  2. Pertanian mendapatkan nutrisi untuk mengembalikan kesuburan tanah melalui Pupuk Organik dari hasil kotoran ternak yang telah di proses menjadi kompos. Proses pembuatan kompos dapat dibaca dalam tulisan "membuat Kompos Pupuk Kandang" dan  "Bahan Organik dan Proses Dekomposisi Pengomposan".
  3. Kompos yang dihasilkan, dapat memberikan suplai Nutrisi atau Unsur Hara Tanah yang diperlukan tanaman seperti: N, P, K, Ca, dll, juga dapat memperbaiki struktur tanah yang telah rusak dan meningkatkan daya ikat air dan mikroba yang bermanfaat. InsyaAllah tanah yang telah mati dapat dihidupkan kembali. Inilah program Konservasi Lahan Pertanian yang menghidupkan tanah yang telah mati menjadi tanah subur kembali atas ijinNya.
  4. Biaya produksi terutama pupuk anorganik seperti urea, TSP, KCL dll dapat ditekan seminimal mungkin atau bahkan sama sekali tidak dibutuhkan apabila tanah telah menjadi subur dengan alami. Adapun biaya dari pengadaan pupuk anorganik sebesar 45% dari biaya produksi dapat dihilangkan diganti dengan pupuk organik hasil produksi sendiri.
  5. Dengan program ini, kemakmuran petani menjadi meningkat, hanya dengan menurunkan biaya produksi yang efisien dan efektif (dari peternakan 70% dan dari pertanian 45%), insyaAllah dapat memperkuat kemandirian dari Pertanian, Perkebunan dan Peternakan, bahkan dalam bidang Energi.
  6. Hasil dari ber-syirkah ini, akan membuat program pertanian menjadi menarik, dapat membuka lapangan pekerjaan yang seluas-luasnya di bumi yang seharusnya ijo royo-royo ini, dan insyaAllah dapat membangun kemakmuran umat di negeri ini.
Desain yang terintegrasi dilahan yang cukup untuk pertanian, perkebunan, peternakan dan perikanan dapat diwujudkan dengan ilustrasi gambar berikut ini, (disesuaikan dengan kontur atau tinggi permukaan tanah). walaupun masih jauh dari sempurna, semoga bisa dijadikan bahan yang akan terus disempurnakan di kemudian hari.

Mudah-mudahan ini bisa menjadi wasilah kita untuk mendekatkan diri kepada Allah, agar Dia ridlo untuk memasukkan kita menjadi golongan kanan atas upaya kita untuk bisa memberi makan di harihari kelaparan ini (QS 90 : 12-18). Agar solusi ini tidak hanya menjadi wacana dan tulisan belaka, lets just do it !. InsyaAllah Allah Ta'ala akan membimbing kita memberikan banyak hikmah dan teman-teman se-visi di dalam mencapai kemakmuran umat ini. Amin YRA.

www.agribisnis-indonesia.com

SelengkapnyaResolusi Pertanian, Perkebunan dan Peternakan

Kemandirian Kebutuhan Minyak (dan Energi..?)

Posted by Noer Rachman Hamidi


Di antara sekian banyak tanaman yang ada di dunia, ada satu jenis tanaman yang keberkahannya secara eksplisit disebutkan di Al-Qur’an yaitu pohon zaitun.

“Allah (Pemberi) cahaya (kepada) langit dan bumi. Perumpamaan cahaya Allah, adalah seperti sebuah lubang yang tak tembus, yang di dalamnya ada pelita besar. Pelita itu di dalam kaca (dan) kaca itu seakan-akan bintang (yang bercahaya) seperti mutiara, yang dinyalakan dengan minyak dari pohon yang banyak berkahnya, (yaitu) pohon zaitun yang tumbuh tidak di sebelah timur (sesuatu) dan tidak pula di sebelah barat (nya), yang minyaknya (saja) hampir-hampir menerangi, walaupun tidak disentuh api. Cahaya di atas cahaya (berlapis-lapis), Allah membimbing kepada cahayaNya siapa yang Dia kehendaki, dan Allah memperbuat perumpamaan-perumpamaan bagi manusia, dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.” (QS 24:35).

Selama ini kita berasumsi bahwa zaitun ini adalah tanaman negeri-negeri Arab  dan Mediterania – karena produksi terbesar zaitun dunia memang di Mediterania – yaitu Spanyol dengan luas tanam sampai 2.33 juta hektar dengan produksi sekitar 6.94 juta ton per tahun.

Mungkinkah negeri kita ini menjadi produsen besar zaitun dunia ?

Kemungkinan itu tentu selalu ada, hanya yang diperlukan adalah pikiran terbuka kita untuk mau belajar, berusaha dan terus mencoba sesuatu yang berbeda – sambil tentu saja memohon pada Yang Maha Pencipta untuk memudahkan jalan kita. Hanya Dia yang bisa menumbuhkan segala jenis pepohonan itu sebagaimana firmanNya :

“Atau siapakah yang telah menciptakan langit dan bumi dan yang menurunkan air untukmu dari langit, lalu Kami tumbuhkan dengan air itu kebun-kebun yang berpemandangan indah, yang kamu sekali-kali tidak mampu menumbuhkan pohon-pohonnya? Apakah di samping Allah ada tuhan (yang lain)? Bahkan (sebenarnya) mereka adalah orang-orang yang menyimpang (dari kebenaran).” (QS 27:60).

Maka jelas bila Allah berkehendak – pohon zaitun-pun akan bisa tumbuh sebaik-baiknya di negeri kita ini. Ini dari tataran Ilahiahnya, sekarang bagaimana dari tataran ikhtiari manusianya ?

Pertama dari statistik pohon-pohon yang paling banyak ditanam manusia di dunia. Zaitun menduduki nomor 3 pohon terbanyak ditanam di dunia setelah kelapa dan sawit. Menariknya adalah di dua jenis pohon yang lebih banyak dari zaitun tersebut, Indonesia berada di urutan no 2 untuk kelapa (setelah Philippine)  dan nomor 1 untuk sawit (di atas Malaysia).

Luas tanaman sawit Indonesia saat ini lebih dari dua kalinya luas tanaman zaitun di Spanyol – yang merupakan penghasil zaitun terbesar dunia. Artinya dari ketersediaan lahan, mestinya sangat cukup bagi kita untuk bisa menanam zaitun secara masif dalam jumlah yang sangat besar – seperti ketika kita menanam sawit.

Sama-sama penghasil minyak, tetapi yang satu (zaitun) disebut keberkahannya secara spesifik di Al-Qur’an – mengapa tidak ini yang kita pilih ? Apakah tanaman ini cocok ditanam di tanah kita ? pertama dahulu sawit juga bukan tanaman asli kita, awalnya dibawa penjajah Belanda konon hanya 3 atau 4 benih dari Afrika Barat. Lihat kini Indonesia menjadi produsen sawit terbesar di dunia.

Kedua dari sisi geografis, zaitun tumbuh terbaik di daerah daerah subur yang beriklim panas. Kurang apa banyaknya daerah subur yang kita miliki ? dan kurang panas apa sekarang suhu rata-rata kita ? Tetapi mengapa kita menganggap penting zaitun ini ?
  • Pertama tentu karena keberkahannya yang disebutkan di Al-Qur’an tersebut di atas.
  • Kedua karena keberkahan tersebut juga terbukti secara ilmiah. Bila minyak sawit banyak diperdebatkan dampaknya pada kesehatan misalnya,  minyak zaitun sebaliknya begitu banyak diberitakan manfaatnya.
Dengan begitu banyaknya bukti ilmiah yang menunjang minyak zaitun ini, sejak sekitar sepuluh tahun lalu di Amerika bahkan minyak zaitun boleh dilabeli sebagai minyak kesehatan. Diantara yang terbukti secara ilmiah itu adalah menurunkan kolesterol, menurunkan resiko penyakit cardiovascular, menurunkan tekanan darah, meningkatkan keperkasaan seksual, mengurangi resiko penyakit saluran pernafasan, anticancer, antiseptic dan antimicrobial.

Dengan mengungkapkan kelebihan minyak zaitun tersebut, tidak berarti juga serta merta kita gantikan lahan-lahan sawit dengan zaitun – meskipun nantinya bisa jadi para pemilik lahan sawit akan hijrah ke zaitun dengan sendirinya bila mengetahui nilai ekonomisnya yang juga luar biasa.

Tetapi saya lebih tertarik untuk mengarahkan pohon zaitun ini sebagai tanaman rakyat, agar sebanyaknya rakyat nantinya bisa menanam dua pohon zaitun dari jenis yang berbeda di halaman rumah-rumahnya. Perlu dua jenis karena pohon zaitun memberi hasil maksimal bila bisa terjadi polinasi dari dua jenis yang berbeda, disamping juga meminimasi penjalaran penyakit.

Pohon zaitun bisa dibudi dayakan-oleh rakyat karena bahkan untuk mengolah sampai menjadi minyakpun tidak harus membutuhkan industri, seperti di negeri Jordania (saya sempat membeli minyak zaitun produksi rumah tangga dalam perjalanan ke Al Aqsa). Dengan peralatan dapur yang seadanya, Anda bisa membuat minyak zaitun terbaik Anda sendiri – yaitu yang disebut EVOO (Extra Virgin Olive Oil).

 

Saya membayangkan suatu saat rakyat negeri ini tidak perlu pusing oleh mahalnya minyak goreng, kelangkaan minyak tanah dlsb. Semua bisa diproduksi sendiri dari halaman rumahnya. Memang perlu waktu untuk sampai ke sana, tetapi kalau kita mulai sekarang – insyaAllah generasi anak cucu kita akan bisa mandiri dari sisi minyak yang sehat ini. Suatu saat kita akan bisa makan goreng-gorengan yang murah, enak dan sehat karena minyaknya kita buat sendiri dari jenis minyak yang terbukti aman dan bahkan menunjang kesehatan tersebut.

Kandungan lemak buah zaitun sekitar 15.3 % , jadi cukup tinggi rendemen setiap buahnya yang bisa menjadi minyak. Produktifitas hasil buah zaitun per pohon juga bisa sangat tinggi. Ketika di awal masa berbuah mulai dari sekitar 10 kg/ pohon ; ketika pohon terus membesar hasilnya untuk jenis zaitun tertentu bisa mencapai 1 ton/ pohon.

Bentuk keberkahan lain dari phon zaitun adalah usianya yang bisa sangat panjang, salah satu pohon zaitun di Athena dimana Plato dahulu bernaung untuk mendirikan Plato Academy-nya – konon hingga kini pohon tersebut masih hidup – berarti 2400-an tahun sudah usianya.

Lantas bagaimana kita bisa mulai menanam pohon keberkahan yang usianya bisa sampai ribuan tahun ini ? Mulai dari yang kita bisa, mulai dari yang kita ada. Tidak terbatas pada knowledge tetapi juga benih dan bahkan pelatihannya untuk membangun skills yang dibutuhkan.

Jadi selain kurma, untuk anggur kini kami juga sudah memiliki jalur perolehan benih dan pelatihannya untuk membangun ketrampilan berkebun anggur.

Untuk zaitun sendiri, ada sahabat saya yang tidak sengaja menyimpan zaitun terbaik yang dibawanya langsung dari tanah Syam – yang secara spesifik disebut keberkahannya dalam ayat Al-Qur’an tersebut di atas.

Dari buah segar zaitun yang dibawa langsung dari negeri Syam oleh tangan pertama inilah nantinya mudah-mudahan zaitun bisa tumbuh dan berkembang di negeri yang subur ijo royo-royo ini. Seperti juga sawit, bisa jadi dunia menunggu kita di negeri ini untuk memproduksi secara masal kurma, anggur dan zaitun ini – tiga jenis tanaman yang paling banyak disebut dan disandingkan di Al-Qur’an.

Mengapa nunggu kita ?, karena di negeri inilah lahan-lahan subur dalam skala sangat luas itu tersedia. Di negeri inilah ratusan juta  muslim tinggal, jutaan diantaranya rajin membaca Al-Qur’an, puluhan ribu diantaranya bahkan hafal Al-Qur’an – dan diantara mereka ini pastinya banyak yang sangat menguasai tafsir ayat-ayatNya dengan sangat baik.

Bila penjajah Belanda yang tidak membaca Al-Qur’an saja bisa membuat rintisan yang kemudian menjadikan Indonesia produsen sawit terbesar di dunia ?, mengapa tidak kita untuk membuat rintisan agar kurma, anggur dan Sambil terus berusaha membenihkan biji-biji dari buah zaitun segar yang dibawa langsung dari tanah Syam tersebut, kita perlu terus berdo’a memohon pertolonganNya – karena hanya dia-lah yang sanggup menghidupkan tanaman dari biji-bijian tersebut.

“Sesungguhnya Allah menumbuhkan butir tumbuh-tumbuhan dan biji buah buahan. Dia mengeluarkan yang hidup dari yang mati dan mengeluarkan yang mati dari yang hidup. (Yang memiliki sifat-sifat) demikian ialah Allah, maka mengapa kamu masih berpaling?” (QS 6:95).

InsyaAllah kami siap berbagi know-how dan skills  pada waktunya setelah eksperimen-eksperimen ini berhasil. Amin YRA.

www.agribisnis-indonesia.com

SelengkapnyaKemandirian Kebutuhan Minyak (dan Energi..?)

Mencukupi Kebutuhan Nutrisi di Negeri ini

Posted by Noer Rachman Hamidi


Sejak kecil kita mengenal konsep empat sehat lima sempurna sebagai kebutuhan nutrisi makanan kita sehari-hari. Yang belum nyambung hingga kini adalah konsep pemenuhan kebutuhan untuk bisa makan secara empat sehat lima sempurna ini.

Saya belum pernah tahu misalnya, apakah ada koordinasi antara departemen yang mengurusi kesehatan dengan departemen yang mengurusi pertanian. Mestinya harus nyambung antara kebutuhan makan kita yang sehat dengan apa-apa yang kita tanam.

Ada lima komponen utama yang seharusnya bisa dipenuhi secara cukup dan seimbang oleh apa-apa yang kita makan tersebut :
  • Pertama adalah karbohidrat yang diperlukan untuk menyediakan energi bagi aktifitas kita sehari-hari.
  • Kedua adalah lemak yang juga menjadi sumber energi yang sangat efektif, disamping juga ikut berperan membangun tubuh.
  • Ketiga adalah protein yang fungsi utamanya membangun tubuh, menyediakan energi dan juga ikut mengatur fungsi-fungsi tubuh.
  • Keempat adalah mineral yang berfungsi untuk membangun tubuh dan mengatur fungsifungsi tubuh, dan
  • yang terakhir adalah vitamin yang juga berfungsi untuk mengatur fungsi-fungsi tubuh.

Dengan lima komponen yang seimbang tersebutlah kita bisa beraktifitas secara cukup, sambil terus mengalami pertumbuhan sampai usia tertentu , terus mengalami  peremajaan sel-sel tubuh yang rusak dan segala fungsifungsi dalam tubuh kita juga dapat berjalan sempurna.

Maka ketika kita bercocok tanam misalnya, mustinya apa-apa yang kita tanam juga harus dapat menghasilkan lima hal tersebut secara seimbang. Kekurangan di salah satunya membuat kita harus meng-impor produk-produk yang terkait, apalagi kalau kekurangan itu di banyak komponen sekaligus. Konsentrasi pertanian kita masih seputar menghasilkan karbohidrat, inipun sering kurang sehingga perlu impor tambahannya dari waktu kewaktu.

Kita mungkin memproduksi lemak nabati secara cukup (dari minyak sawit) dan bahkan kita juga ekspor, tetapi kita memproduksi kebutuhan lainnya seperti sumber-sumber protein secara sangat tidak cukup.

Sumber protein nabati utama kita dari kedelai, namun kita hanya bisa memproduksinya sekitar 1/3 dari kebutuhan kita – sisanya harus kita impor dengan harga yang semakin mahal. Protein hewani-pun kita masih begitu banyak ketergantungan pada impor, baik itu berupa daging maupun susu. Hal yang sama terjadi pada pemenuhan unsur-unsur mikro seperti mineral dan vitamin.

Negeri yang ijo royo-royo ini masih terus digerojogi dengan buah-buahan impor. Di negeri katulistiwa yang paling kaya dengan biodiversity ini, sudah seharusnya kita mampu swasembada pangan dalam arti yang sesungguhnya. Bukan hanya swasembada karbohidrat atau lemak, tetapi juga dalam hal protein baik nabati maupun hewani, mineral dan juga vitamin-vitamin.

Lantas apa yang perlu kita tanam ?, banyak cara yang bisa dilakukan untuk mengidentifikasi tanaman-tanaman yang saling melengkapi untuk lima komponen utama tersebut di atas. Namun saya lebih suka menggunakan petunjukNya untuk memilih tanaman-tanaman ini. Dia Yang Maha Tahu, tentu juga sangat mengetahui apa-apa yang kita butuhkan.

Tanaman-tanaman yang disebutkan dalam KitabNya, ternyata sangat lengkap dalam memenuhi seluruh kebutuhan kita. Perhatikan mapping dalam ilustrasi di atas setelah dilengkapi dengan tanaman-tanaman Al-Qur’an untuk mengisi kebutuhan komponen makanan kita – seperti pada ilustrasi berikut :

Bahkan secara spesifik ketika kita diminta olehNya untuk memperhatikan apa yang kita makan (QS 80:24-32), termasuk didalamnya adalah untuk memperhatikan makanan untuk ternak kita (rumput-rumputan) – karena dari ternak tersebutlah kita kemudian akan bisa makan apa-apa yang tidak bisa kita peroleh dari tanaman.

Daging , susu, telur dan bahkan juga ikan melengkapi makanan kita secara sempurna dengan protein, lemak , mineral dan vitamin. Diluar tanaman-tanaman Al-Qur’an tersebut tentu juga masih bisa terus ditanam, bahkan untuk awalnya tanaman-tanaman Al-Qur’an ini bisa diarahkan untuk tanah-tanah yang selama ini tidak diproduktifkan.

Tanaman-tanaman tersebut insyaAllah bisa tumbuh baik di tanah kita yang gersang sekalipun, Anggur dan Zaitun sejak jaman Yunani kuno sudah dimanfaatkan untuk mengisi tanah-tanah yang gersang – dimana tanaman lain sulit tumbuh.

Kita juga belajar dari sejarah, bahwa selama 8 abad Islam menguasai dunia – umat ini yang waktu itu memimpin dari negeri-negeri Mediterania – mendatangkan tanaman-tanaman dari Asia antara lain beras, tebu dlsb untuk melengkapi kebutuhan makanan mereka, dan tanaman-tanaman dari Asia ini tumbuh baik di Mediterania sana.

Maka sebaliknya juga demikian, umat Islam yang hidup di jaman ini di negeri ini – sangat dimungkinkan untuk mendatangkan tanaman-tanaman yang semula habitatnya di Mediterania – untuk hidup dan tumbuh di negeri ini, melengkapi kebutuhan makanan kita yang kini lagi kedodoran karena salah urus dan tidak digunakannya petunjuk yang terang benderang.

Bila kita bisa menanam sendiri secara cukup apa-apa yang kita perlukan dalam makanan kita, insyaAllah negeri ini akan sehat secara jasmani dan juga sehat secara ekonomi. Lapangan kerja akan melimpah karena begitu banyak yang harus kita kerjakan, upah yang dibayarkan kepada para pekerja tersebut-pun akan berputar di dalam negeri karena untuk membeli produksi kita sendiri.

Namun sekali lagi ini tentu tidak semudah membalik telapak tangan, perlu kerja keras, kerja cerdas dan juga kerja ikhlas. Perlu kesabaran untuk menempuhnya, tetapi kalau tidak kita lakukan – lantas siapa yang akan melakukannya untuk kita dan anak-cucu keturunan kita ?
Wallahu A'lam.

www.agribisnis-indonesia.com

SelengkapnyaMencukupi Kebutuhan Nutrisi di Negeri ini

Menyiapkan makanan di sekitar kita

Posted by Noer Rachman Hamidi


Konon salah satu indikator negeri yang buruk atau negeri yang akan terus mengalami kemunduran itu adalah bila suatu negeri gemar menanam tanaman yang tidak bisa dimakan. Entah siapa yang mulai merumuskan indikator ini, tetapi ini juga sejalan dengan formulasi negeri yang sebaliknya – yaitu negeri yang baik menurut AlQur’an. Bila negeri yang baik itu adalah negeri yang di kanan dan kirinya kebun-kebun yang menghasilkan buah yang di makan.

“Sesungguhnya bagi kaum Saba' ada tanda (kekuasaan Tuhan) di tempat kediaman mereka yaitu dua buah kebun di sebelah kanan dan di sebelah kiri. (Kepada mereka dikatakan): "Makanlah olehmu dari rezeki yang (dianugerahkan) Tuhanmu dan bersyukurlah kamu kepada-Nya. (Negerimu) adalah negeri yang baik dan (Tuhanmu) adalah Tuhan Yang Maha Pengampun". (QS 34:15).

Maka yang sebaliknya juga sangat mungkin berlaku, negeri yang buruk adalah negeri yang tidak peduli untuk menanam tanaman yang bisa dimakan. Sesubur apapun suatu negeri, bila yang ditanam adalah tanaman-tanaman yang tidak dimakan – lantas dari mana rakyatnya akan memperoleh makanannya secara cukup dan berimbang ?

Tentu ini tidak berlaku untuk negeri-negeri yang secara khusus sudah ditetapkan oleh Allah sebagai negeri yang diberkahi seperti Syam, juga negeri yang dipenuhi buah-buahan atau makanan meskipun tidak perlu menanamnya – sebagai bentuk terkabulnya do’a bapak para nabi yaitu Mekah. Negeri kita bukan Syam dan bukan Mekah, maka bila rakyatnya tidak gemar menanam tanaman yang dimakan dikhawatirkan akan masuk kategori negeri yang buruk atau negeri yang mengalami kemunduran.

Gejala-gejalanya mudah dilihat di sekitar kita. Negeri yang subur ijo royo-royo ini baru berkutat di satu atau dua dari lima jenis makanannya – yaitu karbohidrat dan mungkin juga lemak (minyak). Kita tidak bisa mencukupi kebutuhan protein, vitamin dan mineral – yang sebagian besarnya harus diimpor.

Gejala lain juga mudah kita temukan di sepanjang jalan yang kita lalui baik tol maupun non-tol, baik jalan-jalan yang di kota maupun yang antar kota, juga di perumahan-perumahan yang elite maupun yang tidak elite. Perhatikan apa yang ditanam di tempat-tempat tersebut ?, dimakankah ?, rata-rata bukan dari jenis tanaman yang bisa dimakan.

Kita membuang begitu banyak kesempatan untuk menghasilkan makanan, padahal makanan inilah problem utama rakyat negeri ini dan juga negerinegeri lain di dunia. Lantas bagaimana solusinya agar kita bisa membalik arah, agar negeri yang sedang mengalami kemunduran ini berubah arah menuju kemakmurannya ?.

Agar rakyat bisa makan secara cukup dan seimbang dari hasil-hasil tanaman yang ditanam di tanah kita sendiri ? Jawabannya adalah, harus ada kerja keras membalik arah budaya ini. Dari mana memulainya ?, minimal dari tulisan-tulisan semacam ini.

Kemudian juga diikuti langkah nyata seperti yang kami lakukan di www.agribisnis-indonesia.com, insyaAllah kami akan mulai memberikan informasi kepada masyarakat secara gratis untuk belajar menanam tanaman-tanaman yang bisa dimakan.

Agar tidak reinvent the wheel, tanaman-tanaman yang bisa dimakan yang kami sosialisasikan ini – juga bukan tanaman coba-coba. Ilmu manusia terlalu sedikit dan umur nya terlalu pendek untuk bisa mengetahui secara bijak apa yang seharusnya ditanam untuk jangka panjang ini, maka kami ambilkan tanaman-tanaman yang namanya disebut secara langsung di Al-Qur’an.
Alhamdulillah 3 dari 5 tanaman-tanaman yang disebut tersebut telah terbukti berbuah  di dalam pot-pot yang kami coba yaitu Anggur, Tin dan Delima. Dua lagi yaitu Kurma dan Zaitun insyaallah juga akan bisa berbuah didalam pot dengan seijinNya, tinggal menunggu waktunya saja.

Kemampuan untuk tumbuh dan berbuah di dalam pot ini penting karena penduduk kota-kota besar rata-rata memiliki lahan yang sangat sempit atau bahkan tidak memiliki lahan sama sekali. Maka menanam buah dalam pot adalah solusinya , karena bisa dilakukan oleh siapa saja dan dimana saja. Bahkan juga oleh orang-orang yang masih mengontrak, karena tanamannya bisa dibawa pindah saat kontrakannya harus pindah.

Tanaman buah dalam pot ini juga akan mudah untuk diperjual-belikan, sehingga kelak akan ada pasar untuk jual beli tanaman/pohon-pohon buah dalam pot. Saat inipun kami memfasilitasi bagi yang ingin jual beli pohon buah dalam pot ini.

Yang kami bayangkan adalah suatu saat nanti akan meluas di masyarakat kegemaran menanam pohon-pohon yang menghasilkan makanan. Di kanan kiri kita atau dimanapun kita berjalan akan melihat kebun-kebun makanan, maka saat itulah negeri kita menjadi negeri yang baik seperti yang digambarkan dalam ayat tersebut di atas. InsyaAllah.

www.agribisnis-indonesia.com

SelengkapnyaMenyiapkan makanan di sekitar kita

Budidaya Tanaman Zaitun

Posted by Noer Rachman Hamidi


Dalam ‘Mencari Berkah Yang Hilang’, yang antara lain menjelaskan berkah sebagai sesuatu yang mengandung kebaikan yang amat sangat banyak. Malam yang berkah nilainya sekitar 29,500 kali dari malam yang lain, shalat di Masjidil Haram di kota Mekah yang diberkahi – nilainya bahkan 100,000 kali dari sholat di tempat yang lain. Bayangkan bila kita bisa menghadirkan keberkahan itu ke sekitar kita, antara lain melalui pohon yang diberkahi.

Menggunakan analogi nilai malam Lailatul Qadar dan kota Mekah yang diberkahi tersebut, insyaAllah akan memudahkan kita untuk bisa memahami bagaimana pohon yang diberkahi – yaitu zaitun – itu bisa menjadi berkah yang amat sangat banyak, yang nilainya puluhan ribu sampai seratus ribu kali pohon yang lain.
Untuk bisa berbagi memahami bagaimana keberkahan pohon zaitun itu dapat dijelaskan sebagai berikut:

Pohon zaitun yang berumur 1 tahun seperti pada gambar dibawah, Alhamdulillah bisa dengan relative mudah menghasilkan 3 pohon zaitun baru dengan teknologi micro-cutting di salah satu cabang atau rantingnya. Teknik ini hanya memerlukan 4 sampai 6 ruas daun (sekitar 10 cm) cabang atau ranting untuk bisa menjadi bakal pohon baru.

Setelah tahun ini (pohon usia 1 tahun)  menghasilkan 3 pohon baru, tahun depan insyaAllah akan ada minimal 3 cabang yang bisa dipotong lagi masingmasing menjadi 3 bibit baru. Artinya pohon yang setahun sekarang, ketika usianya dua tahun dia bisa menghasilkan 9 pohon baru plus 3 dari tahun sebelumnya, begitu seterusnya.

Dalam tujuh tahun sampai tahun 2020, satu pohon zaitun yang sekarang berumur satu tahun setelah beranak-pinak, insyaallah bisa menghasilkan sekitar 7 juta pohon. Ini dimungkinkan dengan teknik micro-cutting – yang hanya membutuhkan cabang/ranting kecil sepanjang sekitar 10 cm yang terdiri dari 4-6 ruas daun tersebut di atas.
Pekerjaan yang sangat besar dan berat yang tentu saja tidak bisa dilakukan sendiri. InsyaAllah pekerjaan besar tersebut akan kami share ilmunya dan bibitnya sehingga bisa dilakukan rame-rame oleh masyarakat luas. Pekerjaan besar lainnya adalah menemukan lahan di mana kita dapat bersama-sama menanam pohon tersebut nantinya.

Diperlukan luasan lahan sekitar 43 juta hektar untuk menanam pohon sejumlah ini atau sekitar 5 kali luasan tanaman kelapa sawit yang ada di Indonesia saat ini.
Tidak mungkinkah memperoleh luasan ini ? mungkin sih mungkin tetapi tentu tidak akan mudah karena 43 juta hektar lahan adalah setara kurang lebih 22 % dari luasan Indonesia. Bukan berarti kita akan menanami 22 % lahan Indonesia dengan zaitun, tetapi matematika ini untuk menunjukkan bahwa bahkan kalau kita mau memenuhi Indonesia dengan pohon zaitun-pun; benih yang sekarang ada sangat cukup untuk melakukannya.

Belanda hanya perlu membawa empat benih sawit untuk kemudian Indonesia menjadi produsen sawit terbesar di dunia dalam beberapa ratus tahun kemudian. Yang kita miliki kini bukan hanya empat benih, tetapi seribu benih – yang penggandaannya dengan micro-cutting bisa jauh lebih cepat ketimbang penggandaan sawit. Artinya secara matematis-pun menjadi sangat mungkin untuk menanam zaitun dengan cara yang se masif penanaman sawit.

Lebih dari itu zaitun adalah pohon yang diberkahi yang kabarnya langsung datang dari Yang Maha Tahu.

“Allah (Pemberi) cahaya (kepada) langit dan bumi. Perumpamaan cahaya Allah, adalah seperti sebuah lubang yang tak tembus, yang di dalamnya ada pelita besar. Pelita itu di dalam kaca (dan) kaca itu seakan-akan bintang (yang bercahaya) seperti mutiara, yang dinyalakan dengan minyak dari pohon yang banyak berkahnya, (yaitu) pohon zaitun yang tumbuh tidak di sebelah timur (sesuatu) dan tidak pula di sebelah barat (nya), yang minyaknya (saja) hampir-hampir menerangi, walaupun tidak disentuh api. Cahaya di atas cahaya (berlapis-lapis), Allah membimbing kepada cahayaNya siapa yang Dia kehendaki, dan Allah memperbuat perumpamaanperumpamaan bagi manusia, dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.” (QS 24:35).

Maka bila diperlukan ratusan tahun untuk menjadikan Indonesia produsen sawit terbesar di dunia, hanya perlu waktu sekitar 10 tahun bagi Indonesia untuk menyamai produksi minyak zaitunnya sama besar dengan produksi minyak sawit sekarang.

Data produksi minyak tersebut di atas hanya sampai tahun 2020 ketika mayoritas pohon belum berbuah, semua  pohon insyaAllah akan berbuah dalam empat tahun kemudian atau tahun 2023 - yaitu saat zaitun bisa menggantikan sawit kita sekarang.

Inilah barangkali bentuk keberkahan yang seharusnya bisa kita raih itu. Zaitun  tidak memerlukan pabrik untuk membuat minyaknya, artinya masyarakat bisa lebih mudah di-encourage untuk menanamnya dan mengolahnya sendiri. Jadi keberkahan itu bener-bener menjadi hak semua orang. Untuk lebih memudahkan cara melakukan "Pembibitan Zaitun dengan cara Micro Cutting", kita dapat simak dalam video di bawah ini:



Bahwa zaitun adalah pohon yang banyak berkahnya – itu sudah pasti benarnya karena Allah sendiri yang mengabarkannya, matematika di atas hanya alat bantu kita untuk memahami bagaimana keberkahan yang sangat banyak itu bisa kita hadirkan di sekitar kita. Tehnik micro-cutting untuk melipat gandakan pohon zaitun dari setiap 4-6 ruas daun tersebut insyaAllah juga akan menjadi bagian dari pelatihan di komunitas www.agribisnis-indonesia.com setelah seluruh hasil eksperimen kami menunjukkan hasil yang stabil. InsyaAllah.

www.agribisnis-indonesia.com

SelengkapnyaBudidaya Tanaman Zaitun

Semangat meng-Antisipasi Krisis

Posted by Noer Rachman Hamidi


Beberapa hari pasca Tsunami Aceh Desember 2004, kita menyaksikan antrian panjang orang-orang dari berbagai kalangan yang hendak terbang dengan pesawat Hercules di Halim Perdana Kusumah. Di Aceh sendiri listrik masih gelap dan bau mayat masih menyengat, tetapi ribuan orang dari berbagai profesi datang dari berbagai penjuru negeri – demi membantu anak negeri yang lagi berduka waktu itu.

Bisakah semangat dan keikhlasan para sukarelawan ini ditularkan untuk situasi lain ? Bukan hanya di Aceh, saya melihat semangat kerja dan keikhlasan yang sama ketika terjadi gempa di Jogja dan sekitarnya dua tahun kemudian,  juga musibah letusan gunung Merapi beberapa tahun kemudian.

Bahkan kita juga melihat kedasyatan etos kerja para sukarelawan yang peduli pada problem saudara-saudara kita yang jauh seperti  di Ghaza, Syria dlsb. Intinya adalah di setiap musibah, Alhamdulillah masyarakat kita bisa tergerak untuk bekerja dengan penuh semangat dan keikhlasan – demi membantu saudara-saudara kita yang lagi berduka. Semuanya insyaAllah baik, olehkarenanyalah semangat dan keikhlasan para sukarelawan tersebut perlu di ‘export’ untuk jenis pekerjaan lainnya.

Bila dalam setiap musibah kerja keras dan ikhlas bukan untuk diri sendiri itu mudah untuk dibangkitkan, bisakah kerja keras dan ikhlas yang reaktif terhadap bencana yang sudah terjadi ini ditularkan menjadi kerja keras dan ikhlas yang proaktif terhadap bencana yang belum muncul ? Bencana yang baru berupa ancaman atau bencana yang di-antisipasi ? Harusnya bisa, bila kita bisa membangkitkan kepedulian yang sama – senses of crisis yang sama antara musibah atau bencana yang sudah terjadi dengan bencana yang baru bersifat ancaman atau bencana yang bisa diantisipasi.

Tetapi bagaimana kita bisa mengatisipasi bencana ini ? dalam kisah Nabi Yusuf ‘Alaihi Salam kita bisa belajar bagaimana kita mengantisipasi musibah (kelaparan) itu dan bagaimana kita berbuat mencegahnya.

Di jaman ini ilmu pengetahuan dan teknologi informasi juga bisa sangat berguna untuk mengantisipasi kemungkinan-kemungkinan terjadinya bencana itu. Tanpa mengarti kecilkan musibah-musibah sebelumnya, krisis FEW (Food, Energy and Water) kedepan bisa menelan korban yang lebih banyak dari musibah-musibah tsunami, gempa bumi maupun letusan gunung berapi.

Bila prediksi McKinsey benar bahwa 17 tahun dari sekarang akan ada 25 juta orang Indonesia yang kesulitan untuk memperoleh air bersih, bisa dibayangkan besarnya korban jiwa yang ditimbulkan oleh krisis air ini saja.

Bila prediksi para ahli energi bahwa minyak kita akan habis dalam 10 tahun mendatang dan gas-pun akan habis dalam 30 tahun – bisa dibayangkan krisis energi saat itu dampaknya bagi rakyat kebanyakan. Krisis energi berdampak langsung pada keterjangkauan kebutuhan pokok – karena energi menjadi komponen utama dalam struktur biaya produksi dan transportasinya. Krisis energi, pasti berdampak pada krisis kebutuhan pokok lainnya.

Yang paling langsung dampaknya adalah krisis pangan, sebagai contoh kedelai yang selama ini menjadi komponen protein yang relatif terjangkau oleh masyarakat kita – kinipun mulai bergerak menjauh dari jangkauan rakyat kebanyakan. Krisis kedelai bisa menjadi model pembelajaran bagi krisis bahan pangan lainnya. Mengapa kedelai yang semula terjangkau, kini menjadi semakin tidak terjangkau ? jawabannya sederhana yaitu karena kita tidak mampu memproduksinya sendiri secara cukup.

Ketika kita harus berebut kedelai dari pasar internasional, dua masalah besar akan terus menghantui kita. Pertama adalah daya beli uang kita terhadap kedelai yang harus diimpor ini – bila daya beli uang kita cenderung menurun, maka harga kedelai pastinya akan cenderung terus melonjak – dan semakin tidak terjangkau oleh rakyat. Kedua adalah masalah supply-nya sendiri, China dengan jumlah penduduk 1.4 milyar sebenarnya hanya sekitar 5.5 kali jumlah penduduk kita yang mendekati 250 juta.

Tetapi menurut Index Mundi, tahun ini China akan mengambil supply kedelai dunia 33 kali lebih banyak dibandingkan dengan yang diambil Indonesia. China akan mengimpor sekitar 69 juta ton kedelai atau 66% supply pasar, sedangkan Indonesia ‘hanya’ akan mampu mengambil 2.1 juta ton kedelai dari pasar internasional atau hanya 2 % dari supply pasar. Mengapa China membutuhkan begitu banyak kedelai, seolah tidak proporsional dengan jumlah penduduknya ?, karena selain untuk kebutuhan pangan manusia langsung – kedelai juga digunakan untuk bahan pakan ternak di negeri itu.

Bahwa bahan pangan diperebutkan antar manusia di dunia yang semakin banyak, dan bukan hanya diperebutkan sesama manusia – tetapi juga dengan ternak mereka – inilah yang akan membuat ancaman krisis pangan itu akan semakin nyata kedepan. Tetapi ancaman krisis tidak harus menjadi kenyataan bila kita bisa bertindak benar pada waktu yang tepat. Ancaman krisis FEW yang bisa menelan korban lebih banyak dari tsunami, gempa bumi dan letusan gunung berapi – insyaallah bisa dicegah – bila bisa dibangun kesadaran akan adanya potensi musibah ini, kemudian juga digerakkan aksi-aksi kerja keras dan ikhlas sebagaimana ditunjukkan oleh masyarakat negeri ini di setiap kali menghadapi musibah.

Lantas konkretnya apa yang bisa kita lakukan ? dari sinilah munculnya gagasan untuk melahirkan suatu generasi yang mau berjihad – yaitu para sukarelawan yang proaktif men-antisipasi bencana dengan menggunakan petunjukNya dan segala kemampuan profesional agar ancaman atau potensi musibah itu tidak menjadi kenyataan.

Awalnya kita akan menggarap ancaman atau potensi musibah yang ditimbulkan oleh krisis tiga kebutuhan pokok yaitu FEW (Food, Energy and Water), maka silahkan para professional yang terkait dengan bidang-bidang ini bila mau bergabung lebih dahulu menjadi para sukarelawan professional di komunitas ini.

Bayangkan bila para professional pertanian/pangan, professional energi baru dan terbarukan dan professional pengelolaan air bisa dan mau bekerja keras dan ikhlas seperti para sukarelawan-sukarelawan tsunami, gempa bumi dan letusan gunung berapi – insyaAllah akan segera muncul solusi untuk antisipasi ancaman atau potensi musibah-musibah yang terkait FEW tersebut. InsyaAllah.

www.agribisnis-indonesia.com

SelengkapnyaSemangat meng-Antisipasi Krisis

Membangun Ketahanan Pangan dari lahan sendiri

Posted by Noer Rachman Hamidi

Menurut pengakuan Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Suryamin di Republika bulan lalu (04/03/2013), penurunan angka kemiskinan di Indonesia berjalan sangat lambat. “Sangat lambat. Salah satu penyebabnya karena tidak fokus dalam penanganannya” ungkap beliau di media tersebut.

Data kemiskinan terakhir (September 2012) menunjukkan angka resmi kemiskinan ini masih berada di 28.59 juta orang atau 11.66% dari penduduk Indonesia. Menurut saya, salah satu penyebab lestarinya kemiskinan ini adalah karena kita salah makan !

Kok bisa ? dalam tulisan terdahulu diungkapkan bahwa produksi pangan dunia itu saat ini cukup untuk memberi makan bagi lebih dari dua kali penduduk bumi. Tetapi karena bahan pangan itu diproduksi oleh negeri kaya yang tidak terjangkau oleh sebagian penduduk negeri miskin – maka kemiskinan dan kelaparan itu masih mewarnai sebagian dari penduduk bumi.

Untuk kasus kita di negeri ini, kita mengimpor  gandum untuk bahan makanan penduduk sampai pelosok-pelosok (mie dan sejenisnya) – padahal ini juga bukan makanan asli kita. Kita mengimpor sebagian beras, jagung, kedelai, susu, daging dlsb. dlsb. Intinya kita masih membeli makanan kita bukan memproduksinya sendiri secara cukup.

Untuk mampu membeli, kita butuh uang, sedang untuk bisa memiliki uang kita harus bekerja. Maka ketersediaan lapangan kerja menjadi salah satu kunci pengentasan kemiskinan itu. Bagaimana kalau sebagian besar lapangan kerja itu diambil oleh negeri lain – negeri yang memproduksi bahan makanan yang kita impor tersebut ? Bahkan konon kabarnya sudah menjadi strategi/kebijakan para pemimpin di negeri ini melalui Komite Ekonomi Nasional (KEN) yang mengusulkan bahwa untuk mengatasi pangan kita kedepan, kita harus mencari lahan diluar Indonesia katanya - lihat berita lengkapnya di Detik Finance (13/03/2013). Ulasannya di tulisan dalam "pentingnya kaum produsen dalam sebuah negara".

itulah lingkaran setan yang melestarikan kemiskinan itu. Lingkaran kemiskinan ini harus kita putuskan rantainya agar kemiskinan tidak lagi lestari. Tetapi bagaimana caranya ? salah satunya adalah dengan berhenti mengimpor makanan kita dan sekaligus juga menciptakan lapangan kerja di dalam negeri. Tetapi dari mana memulainya ? Rata-rata kepemilikan lahan petani di Indonesia hanya 0.34 ha per keluarga petani (BPS, 2010). Inipun rata-rata di Indonesia, rata-rata di wilayah padat penduduk seperti Pulau Jawa yang mewakili lebih dari separuh penduduk Indonesia – tentunya jauh lebih kecil lagi.


Lantas ditanami apa lahan yang sangat sempit tersebut ? disinilah masalahnya. Ketika kita berfikir bahwa bahan pangan kita harus beras, kedelai, jagung atau bahkan gandum - maka akan sulit sekali memproduksi bahan pangan yang ekonomis dengan luasan lahan tersebut. Untuk menanam padi diperlukan kerja keras luar biasa setiap musim tanam sampai panennya, diperlukan air yang banyak dan bahkan dalam kondisi alam kita sekarang juga dibutuhkan biaya pupuk dan insektisida yang besar. Walhasil produksi padi pak tani sering menjadi kurang sepadan dengan seluruh tenaga dan biaya yang dikeluarkannya.

Karena bertani menjadi kurang menarik, tenaga kerja pedesaan berbondong-bondong menuju perkotaan mencari kerja di kota – yang belum tentu juga ada. Akibatnya kini di Jawa, jumlah penduduk miskin itu nyaris berimbang antara di desa (8.7 juta) dan di kota (7.1 juta). Fakta ini sepertinya mensyiratkan bahwa pembanguan yang berpusat di kota – bukan menjadi solusi pengentasan kemiskinan itu.

Maka kita harus berani berfikir berbeda, bahwa makanan kita tidak harus semata tergantung dari padi, jagung, kedelai, gandum dan sejenisnya yang memerlukan skala ekonomis tertentu untuk dapat memproduksinya secara efisien. Makanan kita harus bisa ditanam secara ekonomis di luasan lahan yang sempit sekalipun. Makanan kita harus bisa ditanam dengan hasil cukup tanpa harus memerlukan input (tenaga kerja, biaya, benih, pupuk dlsb) yang besar, untuk inilah saya memilih kurma. Mengapa kurma ? selain petunjukNya itu mengarah pada tanaman ini – nilai ekonomis tanaman kurma juga mudah dinalar.

Perpohonnya hanya membutuhkan luasan area sekitar 64 m2, dia cukup ditanam sekali dan akan hidup sampai seratus tahun bahkan lebih. Artinya sekali ditanam, sampai generasi anak cucu sudah tidak lagi membutuhkan inputan yang banyak – untuk bisa menghasikan kurma secara terus menerus. Bila 0.34 ha tanah pak tani separuhnya anggap saja tanah gersang dan hanya yang gersang ini yang ditanami kurma – maka rata-rata petani bisa menanam sampai sekitar 26 pohon kurma.

Dengan asumsi separuh pohon jantan saja, petani masih memiliki 13 pohon kurma betina. (rasio betina ini bisa diperbanyak melalui teknik pembibitan kultur jaringan, tetapi saya ambil angka yang konservatif saja). Hasil pohon kurma yang baik sekali musim berkisar antara 80 kg s/d 300 kg, saya ambil yang terkecil 80 kg sekali musim dalam setahun (bisa dua kali , tetapi lagi-lagi saya ambil yang konservatif). Maka lahan gersang pak tani bisa memberikan hasil 13x80 kg = 1,040 kg setahun. Jumlah ini kurang lebih cukup untuk memenuhi kebutuhan kalori 3 orang dalam setahun.

Bayangkan hanya dengan memanfaatkan lahan gersang para petani, dengan effort yang minimal – karena sekali ditanam dia akan bertahan sampai beberapa generasi yang akan datang, kurma sudah bisa berkontribusi dalam memberikan bahan makanan yang cukup bagi penduduk negeri ini. Bila bahan makanan cukup dihasilkan di negeri ini, kita bisa menurunkan biaya impor bahan makanan kita dari negeri lain sampai ke titik minimumnya – disinilah lingkaran setan yang melestarikan kemiskinan itu mulai kita putus rantainya.

Penghematan dari impor bahan makanan ini bisa menjadi investasi yang menciptakan lapangan kerja dan membangun kemakmuran di negeri yang mandiri pangan ini nantinya. Kalau menurut ketua BPS diatas penyebab lambatnya laju penurunan kemiskinan itu karena penanganan yang kurang fokus, maka melalui tulisan ini saya tawarkan solusi yang fokus – fokus pada pengadaan kebutuhan pokok utama kita yaitu makanan, fokus pada petunjukNya dan lebih spesifik lagi fokus pada makanan para Nabi yaitu kurma.

www.agribisnis-indonesia.com

SelengkapnyaMembangun Ketahanan Pangan dari lahan sendiri

Budidaya Tanaman Kurma

Posted by Noer Rachman Hamidi


Suatu saat kami mencoba membagikan bibit kurma – namun karena ternyata banyak sekali peminat bibit kurma, hanya sebagian kecil saja yang bisa kami beri bibit kurma impor yang didatangkan dari pembibitan professional di luar negeri. Bagi peminat yang tidak kebagian – Anda tidak perlu kawatir, karena Anda bisa membibitkan sendiri dengan relatif mudah – bahkan bisa menjadi kegembiraan bagi Anda sekeluarga untuk melatih amal yang dianjurkan sampai menjelang hari kiamat ini, yaitu menanam !

Berikut adalah petunjuk sederhana bagi Anda yang tertarik untuk memulai membibitkan kurma Anda sendiri.
  1. Cari kurma yang enak dan Anda sukai di pasaran, daging buahnya silahkan dimakan dan kumpulkan bijinya.
  2. Kurma yang ada di pasaran ini memang tidak secara khusus diperuntukkan sebagai bibit, tetapi tidak masalah juga karena hasil percobaan kami – kira-kira 1/3 dari biji kurma tersebut insyaAllah bisa tumbuh.
  3. Rendam biji kurma tersebut dalam 24 jam, setelah itu bersihkan sisa-sisa daging buah yang masih ada. Ulangi sekali lagi untuk 24 jam berikutnya. Melalui cara ini kita hendak membersihkan biji kurma sampai benar-benar bersih dari sisa-sisa daging buah yang menempel. Bila masih ada daging buah yang menempel, ini bisa menjadi penyebab jamur – bila ada jamur maka biji tidak akan sempat tumbuh sudah keburu busuk oleh jamur.
  4. Biji yang telah benar-benar bersih, tempatkan pada kotak plastik yang terjaga kelembabannya. Caranya, ambil tempat makan anak-anak yang biasanya terbuat dari plastic (seperti Tupperware, tapi yang murah saja), kemudian didasarnya ditaruh kertas tisu yang dibasahkan. Biji kurma ditaruh di atas tisu basah ini dan kotak ditutup. Dengan demikian di dalam kotak akan tetap lembab untuk waktu yang lama.
  5. Kegembiraan Anda akan muncul setiap pagi ketika Anda membuka kotak menunggu biji kurma mulai tumbuh. Agar ini juga menjadi kebahagiaan di Akhirat nanti, maka niatkan bahwa perbuatan kecil ini adalah langkah awal Anda untuk ikut memberi makan bagi dunia sampai ratusan tahun yang akan datang.
  6. Sekitar hari ke 15, akan mulai ada biji yang mengeluarkan bintik putih. Makin hari makin membesar, itulah bakal akar. Tunggu sampai mencapai panjang satu atau dua sentimeter, kemudian pindahkan ke pot-pot kecil yang diisi media tanam – bisa dibeli di pedagang tanaman hias.
  7. Sekitar satu bulan di media tanam, dari akar putih tadi akan mulai muncul daun. Foto di samping adalah gambaran dari bibitbibit kurma yang sudah menghasilkan akar dan daun – hasil percobaan saya sendiri.
  8. Karena akar kemungkinan akan menembus pot kecil Anda, tempatkan pot-pot Anda pada baki yang berisi air – agar akar tidak kering dan membantu menjaga kelembaban tanah di dalam pot.
  9. Setelah daun mencapai ketinggian 60 cm atau lebih pindahkan ke polybag atau pot yang besar atau tanah yang sesuai. Dengan cara sederhana ini Anda sudah bisa menanam kurma.
Namun para professional perkebunan biasanya kurang suka cara ini karena tidak tahu apakah kurma yang Anda tanam itu nantinya tumbuh sebagia pohon kurma  jantan atau pohon kurma betina. Pekebun kurma pada umumnya suka kurma betina karena dialah yang menghasilkan buah kurma nantinya. Dan setiap satu kurma jantan cukup untuk dipakai benangsarinya untuk membuahi sekitar 20 pohon kurma betina. Oleh karenanya untuk tanaman komersial, biasanya ditumbuhkan bibitnya di laboratorium kultur jaringan yang bisa disetel jumlah jantan dan betinanya – seperti benih-benih yang kami impor dari pusat pembenihan professional di luar negeri tersebut di atas.

Dengan rasio 1:20, maka kebun kurma bisa memiliki hasil panenan yang tinggi karena mayoritasnya adalah kurma betina. Namun kelebihan ini kan matematika manusia seperti kita yang penuh kelemahan dan keterbatasan dalam ilmu. Apakah Allah Yang Maha Tahu tidak tahu rasio tersebut di atas ?, pasti  Dialah yang Maha Tahu itu. Tetapi kok Allah juga menjadikan jumlah kurma jantan dan betina itu relatif berimbang 1:1 di alam ? kalau kita menanam kurma dari biji kira-kira peluang jantan dan betina adalah 50 : 50 ?.

Jawabannya antara lain ada di hadits dari Abdullah bin Umar berikut :

“Ketika kami sedang duduk di sisi Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, lalu dihidangkan kurma yang sudah kering, Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda : “Sesungguhnya di antara pepohonan itu ada satu jenis pohon yang keberkahannya seperti seorang Muslim”. Lalu aku mempunyai perkiraan bahwa pohon itu adalah pohon kurma, aku berkeinginan menjawab : “wahai Rasulullah, itu adalah pohon kurma”, namun aku melihat bahwa di antara sepuluh orang yang ada aku adalah yang paling muda, maka akupun diam Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bemudian bersabda : “ Yaitu pohon kurma”” (HR. Muslim).

Karena keberkahan pohon kurma itu seperti keberkahan seorang muslim, maka banyaknya kurma jantan yang melebihi kebutuhan untuk sekedar membuahi kurma-kurma betina – pasti juga penuh keberkahan. Yang sudah ditemukan oleh manusia antara lain adalah benang sari yang tidak digunakan untuk membuahi kurma betina, dapat menjadi obat kesuburan yang luar biasa bagi manusia dan hewan.

Bila dimakan manusia, manusia yang memakannya akan perkasa dan anaknya banyak – ini yang antara lain disukai oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam yaitu bila umatnya memiliki anak yang banyak. Bila dimakan ternak menjadi obat kesuburan bagi ternak, ternak-ternak akan memiliki anak yang kuat dan banyak. Bisa mengatasi kebutuhan daging/protein hewani – yang kemudian juga memperbaiki keturunan kita umat manusia.

Walhasil setelah Anda bergembira setiap hari melihat pohon kurma Anda tumbuh, jangan kecewa bila sekian tahun yang akan datang ternyata pohon kurma yang Anda tanam adalah jantan. Jantannya pohon kurma-pun insyaAllah penuh berkah – bagi manusia, bagi ternak dan bagi anak cucu kita karena pohon kurma bisa berumur 100 tahun bahkan lebih. Mudah-mudahan kegembiraan kecil ini juga bisa mengantar kita pada kegembiraan yang sesungguhnya di Akhirat nanti. Amin...

www.agribisnis-indonesia.com

SelengkapnyaBudidaya Tanaman Kurma

Program Kemakmuran Umat

Posted by Noer Rachman Hamidi

Alhamdulillah Program Kemakmuran Umat (Baldatun Thoyyibatun WaRabbun Ghafuur) telah dimulai. Mungkin agak berbeda dengan majlis-majlis pada umumnya, majlis ini menekankan pada kerja atau amal nyata untuk mengatasi masalah-masalah konkrit yang kini dihadapi oleh masyarakat. Sehingga ilmu yang dikaji di majlis ini difokuskan secara maksimal untuk ilmu-ilmu yang menjadi landasan amal. Seperti apa bentuknya ?

Latar belakangnya adalah perintah kepada orang-orang beriman untuk bertakwa kepada Allah dan mencari wasilah (jalan) untuk mendekatkan diri kepadaNya, dan berjihad (berjuang secara sungguh-sungguh) di jalanNya.
"Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan carilah wasilah (jalan ) yang mendekatkan diri kepada-Nya, dan berjihadlah pada jalan-Nya, supaya kamu mendapat keberuntungan.” (QS 5 : 35).

Banyak wasilah atau jalan untuk mendekatkan diri kepadaNya ini yang memiliki rujukan yang kuat, antara lain selalu melaksanakan yang wajib dan kemudian melengkapinya dengan yang sunnah seperti dalam hadits Qudsi berikut :

Dari Abu Hurairah RadhiyAllahu ‘Anhu Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda :
"Sesungguhnya Allah Yang Maha Mulia dan Maha Besar berfirman: "Barangsiapa yang memusuhi waliKu, maka Aku telah mengumumkan perang kepadanya. HambaKu tidak mendekatkan diri kepadaKu dengan sesuatu yang paling Aku sukai dari pada sesuatu yang Aku fardhukan atasnya. HambaKu senantiasa mendekatkan diri kepadaKu dengan sunnat-sunnat sampai Aku mencintainya. Apabila Aku mencintainya maka Aku menjadi pendengarannya untuk mendengar, menjadi penglihatannya untuk melihat, menjadi tangannya untuk memukul dan menjadi kakinya untuk berjalan. Jika ia memohon kepadaKu, pasti Aku benar-benar memberinya. Jika ia memohon perlindungan kepadaKu, pasti Aku benar-benar melindunginya". (HR Bukhari).

Jalan berikutnya antara lain adalah dengan berinfaq. Ketika sebagian orang Arab Badui yang beriman memandang bahwa infaqnya untuk mendekatkan diri kepada Allah dan untuk memperoleh shalawat Rasul, pandangan ini dibenarkan oleh Allah melalui ayat berikut :

“Dan di antara orang-orang Arab Badui itu, ada orang yang beriman kepada Allah dan hari kemudian, dan memandang apa yang dinafkahkannya (di jalan Allah) itu, sebagai jalan mendekatkannya kepada Allah dan sebagai jalan untuk memperoleh doa Rasul. Ketahuilah, sesungguhnya nafkah itu adalah suatu jalan bagi mereka untuk mendekatkan diri (kepada Allah). Kelak Allah akan memasukkan mereka ke dalam rahmat (surga) Nya; sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS 9 :99).

Kemudian untuk kata Jaahidu dalam QS 5:35 tersebut di atas, Al Maududi (dalam Tafhim Al-Qur’an) menjelaskan maknanya sebagai usaha yang sungguh-sungguh untuk menyingkirkan atau melawan apapun, baik itu orang, partai, maupun kekuatan apapun –yang menghalangi kita dari jalan Allah. Maka dengan pemahaman QS 5 :35 tersebut, penjabaran visi membangun negeri yang Baldatun Thoyyibatun WaRabbun Ghafuur itu dapat diilustrasikan dalam grafik berikut
Majlis ini ingin ikut sekuat tenaga mewujudkan negeri yang Baldatun Thoyyibatun WaRabbun Ghafuur, bukan karena kita rakyat Indonesia, bukan karena kita mengejar kemakmuran semata, juga bukan karena kita ingin membangun kekuatan politik ataupun menduduki jabatan tertentu.

Kita ingin mewujudkan Baldatun Thoyyibatun WaRabbun Ghafuur karena kita ingin menjadi orang yang beriman, bertakwa dan mencari jalan untuk mendekatkan diri kepadaNya. Untuk ini kita perlu ilmu, baik itu ilmu-ilmu yang menunjang dan menjadi landasan amal ibadah khusus – maupun ilmu-ilmu untuk amal ibadah umum seperti bertani, berdagang, menguasai teknologi dlsb.

Kemudian ilmu ini bener-bener kita wujudkan dalam bentuk ibadah khusus seperti yang petunjukNya ada di Hadits Qudsi tersebut di atas, maupun ibadah umum berupa kerja nyata mengatasi problem-problem yang dihadapi di masyarakat. Karena isu utama untuk negeri ini masih di seputar pangan dan pasar, maka dua hal ini secara khusus mendapatkan penekanan di majlis ini.

Untuk urusan pangan kita fokus mengedukasi masyarakt untuk mampu mandiri pangan, atau setidaknya mengambil langkah mempersiapkan pangan bagi setiap jengkal lahan yang kita miliki. Pada kajian perdana kemarin sengaja dihadirkan Dr. Nugroho spesialis tanaman-tanaman organic, untuk mengajarkan masyarakat perkotaan untuk menjadi petani meskipun tidak memiliki lahan sekalipun.

Bertani tanaman pangan, khusunya tanaman-tanaman Al-Qur’an bahkan bisa dilakukan di dalam pot atau yang dikenal dengan tabulampot (tanaman buah dalam pot). Atap-atap rumah kita, bisa menjadi lahan yang sangat efektif untuk memanen matahari untuk tanaman-tanaman kita. Bahkan bila perlu menurut beliau, dak atap rumah kita bisa menjadi sawah organic dengan konsep dan bahanbahan yang kini sudah ada di kita.

Setelah kita tahu siapa-siapa yang bisa mewujudkan Baldatun Thoyyibatun WaRabbun Ghafuur, kita juga tahu cara untuk melakukannya dengan kombinasi antara ibadah-ibadah khusus dengan ibadah-ibadah umum, maka selanjutnya kita juga akan tahu seberapa jauh kita mendekati tujuan tersebut dengan indikator-indikator yang juga baku – indikator yang dikabarkan olehNya.

Antara lain adalah negeri ini akan penuh keberkahan – penuh dengan kebaikan yang sangat banyak (QS 7:96), rakyat tercukupi kebutuhan pangannya dari kebun-kebun di seluruh negeri (QS 34:15), karena tanaman apapun yang kita tanaman menghasilkan buah yang banyak dengan rasa yang enak (QS 2 :58). Lantas kapan negeri Baldatun Thoyyibatun WaRabbun Ghafuur itu akan terwujud ?

Tentu tergantung kepada kehendakNya, kemudian juga terkait dengan sekuat apa kita – penduduk negeri ini semua - ingin mewujudkannya. Perubahan besar yang terjadi di Madinah pasca Hijrahnya Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam dengan kaum Muhajirin, terjadi dalam kurun waktu kurang dari sepuluh tahun. Muhammad Al-Fatih beserta pasukannya yang dipuji oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam sebagai pemimpin pasukan terbaik dan pasukannya juga pasukan terbaik, antara lain karena dia selalu melaksanakan yang wajib dan yang sunnah – sejak balig sampai penaklukan – yang waktunya kurang lebih juga sekitar sepuluh tahun ( balig umumnya sekitar 12-13 tahun dan saat penaklukan usianya 22 tahun).

AlFatih juga orang yang menguasai segala ilmu yang ada pada jamannya dan menguasai tujuh bahasa. Maka dari perbagai rujukan dan contoh-contoh tersebut di atas, secara bersama-sama , umat ini mestinya juga bisa membuat perubahan yang sangat besar, membalik arah dari umat yang termarginalkan dalam segala bidang menjadi umat yang memimpin segala bidang.

Bila tentu saja syaratnya terpenuhi. Dengan disiplin kita mendekatkan diri kepadaNya melalui pelaksanaan perintah-perintahNya yang wajib, kemudian melengkapinya dengan selalu melaksanakan yang sunnah. Kita juga melengkapi segala ilmu yang diperlukan untuk bidang-bidang amal yang akan kita laksanakan, kemudian kita juga bersungguh-sungguh beramal melaksanakan apa yang kita niatkan. Dengan sungguh-sungguh pula kita berjuaang menyingkirkan segala rintangan yang menghalangi kita dari jalanNya.

Yang masih meninggalkan (sebagian) sholat wajib, waktunya untuk berdisipilin melaksanakannya. Yang belum membiasakan diri sholat sunnah rawatib, waktunya untuk memulai melaksanakannya pula. Yang masih berat untuk bangun malam melaksanakan sholat malam, mulai sedikit demi sedikit melanggengkannya. Yang sudah rutin sholat malam, waktunya untuk terus meningkatkannya – dengan tambahan bacaan-bacaan, tambahan do’a-do’a – sampai bisa menikmati sholat malam itu dan sangat menyesal bila karena satu dan lain hal terlewat dari melakukannya.

Sejalan dengan itu semua, di siang hari kita berjuang dengan keras untuk meninggikan Agama ini dalam segala bidang yang kita bisa. InsyaAllah akan ada perubahan besar di negeri ini dalam waktu yang tidak lama, sekitar sepuluh tahun dari sekarang, perubahan besar menuju Baldatun Thayyibatun Warabbun Ghafuur.
Amin YRA.

www.agribisnis-indonesia.com

SelengkapnyaProgram Kemakmuran Umat

Desain Pertanian menurut Al Quran

Posted by Noer Rachman Hamidi

Indahnya ilmu itu adalah bila dia dibagi, dia tidak berkurang tetapi malah bertambah. Knowledge yang menggelinding seperti bola salju itu insyaAllah cukup untuk membuat grand design sebuah kebun yang tidak biasa, yaitu kebun yang berbasis Al-Qur’an. Apa isinya ?

Kebun ini di-design dengan petunjuk-petunjuk dalam sejumlah besar ayat-ayat Al-Qur’an – maka ayat-ayat inilah yang akan menjadi panglimanya, menjadi penentu arah dan pengambil kebijakan -  akan dibawa kemana kebun ini nantinya. Kemudian tentu serangkaian ilmu-ilmu terapan seperti perkebunan, pertanian, biologi, bio-teknologi dlsb. akan dikerahkan sebagai prajurit – untuk mengimplementasikannya di lapangan.


Sebagaimana panglima yang akan mengambil kebijakan strategis, maka ayat-ayat yang terkait dengan ke-aneka ragaman hayati itu dipetakan dahulu. Untuk mudahnya kita pahami, ayat-ayat tersebut divisualisasikan dalam ilustrasi di samping.

Ukuran bulatan disesuaikan dengan banyaknya suatu jenis tanaman disebut di Al-Qur’an, ini kurang lebih mewakili tingkat kepentingan tanaman tersebut bagi kehidupan manusia. Misalnya kurma, disebut sampai sekurangnya 20 kali – maka kurma ini yang kita gambar paling besar. Dari kurma inilah kita memulai rancangan kebun kita ini.

Kemudian tanaman-tanaman lain ada yang disebut dalam sejumlah ayat berdampingan dengan penyebutan kurma. Misalnya anggur, disebut tidak kurang dari 9 kali berdampingan dengan kurma. Zaitun, tidak kurang 5 kali disebut berdampingan dengan kurma. Delima disebut 3 kali berdampingan dengan kurma, demikian pula biji-bijian.

Biji-bijian (leguminosa) bahkan dalam dua ayat disebut mendahulu tumbuhnya kurma  (QS 36:33 ; QS 6:99), karena dia berfungsi sebagi tanaman perintis yang mengikat nitrogen dari udara. Dia mengantarkan lahan yang semula mati/gersang sampai layak untuk ditumbuhi kurma dan kemudian juga tanaman-tanaman lainnya.

Ada juga yang disebut tidak secara berdampingan tetapi masih dalam rangkaian ayat-ayat yang membahas hal yang sama, sehingga masih dalam konteks yang sama. Misalnya padi-padian yang melengkapi kebun kurma (QS 18:32) atau ditanam sesudah kebun kurma memancarkan air – setelah tanah subur (QS 36:35), untuk melengkapi kebutuhan tanaman pangan bagi manusia.

Dalam konteks yang sama dengan makanan bagi manusia, juga ada ayat yang mengisyaratkan pentingnya memperhatikan makanan ternak kita (QS 80 :32). Untuk itu kita juga harus menanam rumput-rumputan (QS 80 :31).

Ada juga pelajaran khusus dari Surga, yaitu tanaman buah pisang (QS 56:29) yang disebut di antara buah yang banyak – yang tidak disebutkan secara langsung namanya satu persatu (QS 56:32), disebut pula bahwa ada buah yang tidak berhenti dan tidak pula terlarang untuk mengambilnya (QS 56:33). Para ahli tanaman dan ahli buah tahu, bahwa pisang adalah buah yang tidak mengenal musim !.

Maka kurang lebih seperti ilustrasi di atas-lah isi kebun yang dirancang berdasarkan ayat-ayat Al-Qur’an itu. Mulai dari tanaman perintis dari jenis biji-bijian, kemudian masuk tanaman utama yaitu kurma. Berdampingan dengan kurma dalam jumlah mengikuti ukuran yang paling banyak adalah anggur, kemudian diikuti zaitun dan delima.

Untuk mengimbangi buah-buhan yang rata-rata ada musimnya masing-masing, diisi pula dengan buah yang tidak mengenal musim yaitu pisang. Di tanah subur yang terbentuk melalui ecosystem kebun ini, kemudian juga ditanam padi-padian seperti beras dan gandum – melengkapi makanan yang kita butuhkan.

Karena kita juga butuh makan daging, maka tidak lupa kita memperhatikan pakan ternak kita - untuk ini rumput-rumputan juga harus ditanam di tempat-tempat yang sesuai. Agar ternak kita tumbuh dengan gizi terbaik, maka di antara tanaman Anggur juga ditanam tanaman Alfaafa – yang secara khusus disebut sebagai tanaman yang bergizi tinggi.

Dalam Al-Qur’an bahasa Inggris terjemahan Yusuf Ali – QS 80 :26 diterjemahkannya menjadi  “and grapes and nutritious plants” (dan anggur dan tanaman bergizi tinggi), lebih menggigit ketimbang yang diterjemahkan dalam bahasa Indonesia “anggur dan sayur-sayuran”. Professor Zaghloul El Naggar – penulis mu’jizat Al-Qur’an – mengartikan tanaman bergizi tinggi itu adalah Alfaafa (Alfalfa - Medicago sativa), karena secara ilmiah memang juga terbukti bahwa tanaman inilah jenis tanaman yang memiliki gizi paling tinggi itu.

Tanaman Alfaafa yang membutuhkan sinar matahari yang banyak untuk pertumbuhannya, bisa hidup berdampingan dengan anggur karena karakter anggur yang merambat. Rambatan anggur bisa dibuat vertical seperti pagar tanaman, sehingga dia tumbuh sempurna tanpa memerlukan space yang banyak. Anggur bersimbiose dengan alfaafa yang mempertahankan suhu tanah dan mengikat nitrogen banyak-banyak di akarnya – untuk kesuburan lahan yang dibutuhkan tanaman anggur.

Maka sekali lagi perhatikan pada ilustrasi di atas, betapa satu demi satu tanaman saling melengkapi. Ada yang menyuburkan lahan, ada yang menghasilkan buah, ada yang memancarkan mata air, ada yang memberi hasil bercocok tanam, ada yang tetap berbuah ketika yang lain tidak berbuah, ada yang menyediakan pakan untuk ternak – yang kemudian memberi daging dan susu bagi manusia.

Maka inilah kurang lebih kebun pangan yang bisa berkelanjutan untuk mencukupi pangan bagi manusia sambil terus menjaga lingkungan itu.

Tentu ibarat bola salju, design ini masih perlu terus disempurnakan oleh yang lebih tahu. Tetapi bahwasanya design ini insyaAllah akan menjadi design yang sustainable, karena sekarang-pun Anda bisa melihat buktinya design serupa yang telah hidup lebih dari 2,000 tahun dan sampai sekarang masih ada – yaitu bukti food forest yang ada di Marocco – yang dapat Anda saksikan video-nya di link "Kebun Qur'ani di Marocco" ini.

Perhatikan baik-baik jenis-jenis tanaman yang disebutkan di video tersebut, Anda akan temukan hampir secara keseluruhan tanaman yang ada di design kebun berbasis Al-Qur'an  tersebut di atas – juga ada terwakili di food forest yang berumur lebih dari 2,000 tahun ini. Adapun prosedur kebun Qurani telah di petakan sesuai dengan ayat-ayatNya di bawah ini:

Prosedur ber-kebun/ber-tani sesuai dengan ayat-ayat-Nya
Ketika petunjuk itu begitu jelas (QS 2:185), dan bukti ilmiahnya di muka bumi begitu nyata (QS 51:20) – “Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan ?” (QS 55:13) ?

Jawabannya adalah tinggal kita ikuti petunjukNya itu dan semaksimal mungkin kita amalkan di lapangan. Insyaallah kami sedang merintis kebun percobaan ini di Jonggol, mudah-mudahan kelak bisa terus bisa disempurnakan oleh anak cucu kita dan digandakan di berbagai tempat lainnya. Tentu saja ini menyakut pekerjaan besar dan lama, maka melalui tulisan ini saya juga mengajak pembaca untuk membantu kami merealisasikannya – dengan cara apapun yang Anda bisa. InsyaAllah bersama-sama kita akan menggelindingkan bola salju yang lebih besar, bola salju yang memakmurkan dunia, bola salju yang menjadikan ayat-ayatNya sebagai panglima. InsyaAllah.

www.agribisnis-indonesia.com

SelengkapnyaDesain Pertanian menurut Al Quran