Agribisnis Indonesia by Noer Rachman Hamidi

Langkah Memulai Kemandirian Energi dan Pangan.

Posted by Noer Rachman Hamidi


Penggunaan renewable energy atau energi terbarukan, peningkatan efisiensi industri dan perbaikan pengelolaan tanah, hutan dan penggunaan tanah lainnya mengesankan ini adalah tugas para pelaku industri, pengusaha, ilmuwan dan pemerintah – mengesankan pekerjaan perbaikan lingkungan itu hanya 'tugas mereka' dan bukan tugas kita-kita.

Padahal bukankah setiap kita juga ingin berperan dalam memperbaiki lingkungan dan kehidupan itu kini dan nantinya untuk anak cucu kita ?, bukankah kita juga ingin tercatat sebagai orang yang berbuat kebaikan di muka bumi ini dan bukan yang merusaknya ? Lantas bagaimana kita bisa melakukannya ?

Pertama adalah menerima penugasanNya, bahwa setelah kita diperintahkan untuk menyembah kepadaNya dan meng-EsakanNya, tugas kita berikutnya adalah memakmurkan bumiNya (QS 11:61). Apa bentuk konkrit dari pekerjaan memakmurkan buminya ini ? Di antaranya ada dua jenis pekerjaan yang secara spesifik diperintahkan oleh Allah dan RasulNya dalam Al-Qur'an – yang ternyata bisa menjawab semua permasalahan tersebut di awal tulisan ini.

Pekerjaan  yang pertama adalah menggembala seperti yang diperintahkan Allah di dalam surat Thaa-Haa berikut : "Makanlah dan gembalakanlah binatang-binatangmu. Sesungguhnya pada yang demikian itu, terdapat tanda-tanda kekuasaan Allah bagi orang-orang yang berakal." (QS 20 :54)

Bahkan secara spesifik kita juga diberi tahu dimana tempat menggembala terbaik itu yaitu di tempat turunnya hujan dan di tempat tumbuhnya pepohonan : "Dia-lah, Yang telah menurunkan air hujan dari langit untuk kamu, sebagiannya menjadi minuman dan sebagiannya (menyuburkan) pohon-pohonan, yang pada (tempat tumbuhnya itu) kamu menggembalakan ternakmu." (QS 16:10)

Maka terkait tempat penggembalaan terbaik yang nantinya juga menjadi sumber makanan dari berbagai jenis buah-buahan di ayat lanjutannya (QS 16:11), kita juga diperintahkan menanam sampai hari kiamat, ini terungkap dalam hadits : "Jika hari kiamat telah tegak, sedang di tangan seorang diantara kalian terdapat bibit pohon kurma; jika ia mampu untuk tidak berdiri sampai ia menanamnya, maka lakukanlah". [HR. Ahmad]

Dua jenis pekerjaan yang satu secara spesifik diperintahkan di Al-Qur'an (menggembala) dan yang satu lagi diperintahkan secara spesifik  di dalam hadits tersebut di atas (menanam) ternyata adalah dua jenis pekerjaan yang terkait satu sama lain. Keduanya secara bersama-sama menjawab segala kebutuhan manusia hingga di jaman modern ini - yaitu kebutuhan makanan, energi, air bersih, udara bersih dan suhu yang nyaman bagi kehidupan di permukaan bumi.

Dalam hal makanan misalnya, fokus makanan kita yang selama ini pada beras dan gandum ternyata paling boros dalam penggunaan air dan energi dari tahap produksi sampai industrinya. Sawah membutuhkan begitu banyak air, yang bersaing dengan kebutuhan manusia akan air bersih. Gandum yang diproduksi dengah begitu banyak energi mulai dari produksi/penanamannya, transportasi sampai industri hilirnya – juga bersaing dengan kebutuhan energi lainnya. Begitu pula penanaman, pengolahan dan transportasi untuk bahan pangan seperti jagung, kedelai dan jenis biji-bijian lainnya.

Lantas bagaimana kita menyikapinya, lha apa terus tidak makan nasi, mie atau roti ? Kita tentu saja tetap boleh makan makanan dari jenis biji-bijian ini – tetapi dikembalikan pada proporsinya yang benar. Demikian pula fokusnya pada produksi bahan makanan yang boros sumber daya ini, dikurangi menjadi proporsional dengan jenis bahan makanan lainnya. Seperti apa proporsi yang seharusnya itu ?

Kita bisa menggunakan pendekatan ilmiah bahwa manusia butuh unsur makanan yang terdiri dari 1) karbohidrat, 2) protein, 3) lemak, 4) vitamin dan 5) mineral. Maka perhatian terhadap produksi dan konsumsi karbohidrat mestinya juga hanya kurang lebih 1/5 dari seluruh kebutuhan makanan kita. Jenis karbohidrat inilah yang utamanya dikontribusi oleh biji-bijian seperti  beras dan gandum.

Lebih menarik lagi kalau kita menggunakan rujukan Al-Qur'an, Allah menyebut jenis-jenis sumber makanan kita di surat Al-Anam : "…Kami keluarkan dari tanaman yang menghijau itu 1) butir yang banyak; dan 2) dari mayang kurma mengurai tangkai-tangkai yang menjulai, dan 3) kebun-kebun anggur, dan (Kami keluarkan pula) 4) zaitun dan 5) delima yang serupa dan yang tidak serupa..." (QS 6:99).


Juga ketika kita diminta memperhatikan makanan kita di surat Abasa : "…1) lalu Kami tumbuhkan biji-bijian di bumi itu, 2) anggur dan hijauan bergizi, 3) Zaitun dan pohon kurma, 4) tumbuh-tumbuhan (yang) lebat, 5) dan buah-buahan serta rumput-rumputan…" (QS 80 : 27-31)

Intinya mau menggunakan rujukan kebutuhan biologis ataupun rujukan petunjuk-petunjukNya, bahan makanan yang berupa biji-bijian yang umumnya adalah untuk kebutuhan karbohdrat – banyalah 1 dari 5 bahan atau jenis makanan yang kita butuhkan. Maka perhatian dan produksi jenis makanan biji-bijian inipun seharusnya hanya mendapatkan alokasi resources yang proporsional yaitu hanya sekitar 1/5 dari seluruh resources yang ada – baik berupa lahan, dana maupun tenaga kerja dan sumber daya lainnya.

Alokasi resources yang proporsional ini penting agar kita bisa mengalokasikan yang 4/5-nya atau 80%-nya untuk bahan atau sumber pangan lainnya. Sumber bahan pangan lainnya inilah yang sangat menarik untuk perbaikan kehidupan di bumi ini kedepan.

Kurma, anggur, zaitun, delima, tin, dan berbagai buah-buahan dan rerumputan tidak membutuhkan tanah sawah untuk tumbuhnya, tidak membutuhkan air yang banyak dan tidak pula membutuhkan resources yang besar untuk mengolah lahan dan kegiatan produksinya. Bila pada padi, gandum dan sejenisnya sekali tanam – sekali panen,  tidak demikian dengan tanaman jangka panjang seperti kurma dan buah-buahan. Bahan pangan dari hasil jenis tanaman pohon hanya perlu sekali menanam untuk sekian tahun yang akan datang - panen terus menerus tanpa perlu menanamnya lagi.

Sumber-sumber bahan makanan dari jenis tanaman jangka panjang inilah yang nantinya akan menjadi semakin penting bagi kelangsungan peradaban manusia ke depan, karena proporsinya akan mencapai sekitar 80 % dari seluruh bahan makanan yang ada. Menjadi semakin penting lagi karena pohon bukan hanya  menjadi  sumber pangan, tetapi juga sebagai media untuk mengelola air tanah, udara bersih , mengelola suhu permukaan bumi dan mengelola ecosystem kehidupan di permukaan bumi secara keseluruhan.

Tanaman-tanaman jangka panjang sangat sedikit membutuhkan pengolahan tanah atau bahkan tanpa membutuhkan pengolahan tanah ( minimum or no tilling) , sehingga aman dari erosi dan menyerap lebih banyak CO2 di dalam tanah dan melestarikan kesuburan tanah. CO2 inilah antara lain yang menjadi isu besar abad ini, dan masih banyak isu lain yang juga harus dipecahkan seperti ketersediaan tanah yang subur untuk pemenuhan kebutuhan akan bahan obat-obatan dlsb.

Efektifitas tanaman-tanaman jangka panjang ini untuk menjadi solusi bagi perbagai kebutuhan manusia akan semakin meningkat bila dikaitkan dengan penggembalaan ternak. Bahwa tanaman-tanaman ini khususnya tanaman buah-buahan membutuhkan Kalium untuk memperbanyak dan menguatkan buahnya, Kalium terbaik adalah dari kotoran ternak khususnya kencing domba. Sebaliknya ternak seperti domba membutuhkan bahan makanan dari rerumputan yang sangat beragam, rerumputan yang beragam ini tumbuh terbaik di antara pohon-pohonan.

Tanah-tanah yang digembala menjadi tanah yang gembur dan subur, menyerap lebih banyak CO2 dan semakin kondusif untuk tumbuhnya pepohonan – karena rumput yang dimakan ternak secara reguler akan memacu terbentuknya humus (bagian tanah yang sangat subur), memacu pertumbuhan biota tanah dan meningkatkan biomasa serta biological diversity di atas maupun di bawah tanah.

Bila untuk menyelamatkan lingkungan dan sekaligus menjawab berbagai kebutuhan kita ini dapat dilakukan dengan dua pekerjaan yang diperintahkan di Al-Quran dan Hadits tersebut di atas, menggembala dan menanam tanaman (buah) jangka panjang – sedangkan Allah dan RasulNya tidak  memerintahkan kita kecuali yang sesuai dengan kemampuan kita – maka insyaAllah kita semua akan bisa terlibat dalam pekerjaan ini. 

www.agribisnis-indonesia.com


Description: Langkah Memulai Kemandirian Energi dan Pangan.
Rating: 4.5
Reviewer: google.com
ItemReviewed: Langkah Memulai Kemandirian Energi dan Pangan.
Kami akan sangat berterima kasih apabila anda menyebar luaskan artikel Langkah Memulai Kemandirian Energi dan Pangan. ini pada akun jejaring sosial anda, dengan URL : http://www.agribisnis-indonesia.com/2014/10/langkah-memulai-kemandirian-energi-dan.html

Bookmark and Share

0 comments... Baca dulu, baru komentar

Post a Comment