Agribisnis Indonesia by Noer Rachman Hamidi

Resolusi Pertanian, Perkebunan dan Peternakan

Posted by Noer Rachman Hamidi


Awalnya dahulu manusia makan dari hewan dan tumbuh-tumbuhan yang bisa diperoleh dari alam sekitarnya. Kemudian bertahap manusia mampu menyeleksi tanaman-tanaman yang bisa dibudi dayakan, ternak yang bisa dijinakkan dan digembalakan, mampu mengelola air dan mempertahankan kesuburan, mampu mengatasi penyakit, menggunakan tenaga diluar tenaga manusia dst. Sampai di sini manusia masih bisa memenuhi kebutuhannya dari alam sekitar.

Kemudian ketika manusia mampu melakukan perjalanan jauh, mulailah sejumlah hasil pertanian diperdagangkan dari tempat-tempat yang jauh. Ini adalah suatu kebaikan karena dengan cara itu manusia bisa saling kenal mengenal dan saling memenuhi kebutuhannya. Bahkan untuk era yang sangat panjang, sekitar delapan abad di masa Islam menguasai perdagangan dunia – dunia Islam mengelola perdagangan hasil pertanian setidaknya di tiga benua yaitu Eropa, Afrika dan Asia. Bukan hanya hasilnya, Umat Islam pula yang menyebarkan sejumlah tanaman melintasi benua untuk bisa hidup di tanah-tanah yang baru.

Tercatat dalam sejarah tebu, sorghum, padi, lemon, kelapa, pisang, bayam dlsb. dibawa oleh umat Islam dari Asia dan Afrika ke Mediterania dan bahkan sebagian sampai kemudian ke benua Eropa. Sampai disini-pun perdagangan dan pengenalan tanaman-tanaman dunia masih memberi manfaat besar bagi umat manusia secara keseluruhan. Karena di jaman itu penduduk bumi terkonsentrasi di tiga benua yaitu Asia, Afrika dan Eropa – maka dapat dikatakan bahwa selama delapan abad umat Islam mengurusi pangan bagi penduduk dunia.

Lalu datanglah era kolonialisasi Eropa yang didominasi oleh Spanyol, Portugis, Belanda, Inggris dan juga Perancis. Mereka menjajah negeri-negeri kaya hasil alam untuk diekploitasi, dikuras habis hasil alamnya untuk membangun negeri-negeri mereka sendiri. Tidak sedikit kontribusi negeri-negeri jajahan untuk pembangunan Eropa untuk waktu yang lamanya sekitar empat abad, mulai dari abad ke 16 sampai pertengahan abad 20 ketika negeri-negeri jajahan beruntun merdeka seiring dengan berakhirnya Perang Dunia II.

Selama sekitar empat abad tersebut, para penjajah mengelola pangan dunia untuk keuntungan mereka sendiri. Negeri mereka makmur, tetapi negeri-negeri jajahan mereka di Asia, Afrika dan kemudian juga Amerika Selatan menjadi negeri-negeri yang miskin. Contoh klasiknya adalah kita di Indonesia yang bahkan pernah menjadi korban tanam paksa oleh kolonial tersebut.

Di paruh akhir dari abad ke 20 dan di awal abad 21 ini, lain lagi pengelola pangan bagi dunia itu. Pengelola pangan bukan lagi negara atau bangsa atau umat, tetapi segelintir pemain yang mengatas namakan perdagangan atau pasar bebas – yang mereka rela mengeksploitasi bangsanya sendiri sekalipun Demi keuntungan segelintir orang inilah berbagai produk dan hasil pertanian didatangkan dari negeri-negeri yang jauh sekalipun asal bisa memberikan keuntungan bagi (kelompok) mereka.

Produksi bahan pangan dalam negeripun terkendala oleh sumber-sumber produksi berupa bibit, pupuk, bahan kimia sampai pakan ternak yang dikuasai oleh segelintir kelompok usaha tertentu. Motif produksi dan peredaran bahan pangan sudah bukan lagi memenuhi kebutuhan bagi umat manusia, tetapi mengejar keuntungan semata. Pengelolaan produksi dan distribusi bahan pangan yang demikian itu hingga kini telah menimbulkan ketimpangan dan ironi yang luar biasa.

Negeri-negeri miskin dengan daya beli penduduknya yang rata-rata rendah justru harus membeli bahan pangan dari negeri maju – yang mengeruk keuntungan dari ekspor bahan pangan mereka itu. Petani dan peternak miskin harus membeli bibit, pupuk, obat-obatan dan bahkan pakan ternak dari konglomerasi tertentu. Di dunia saat ini ada sekitar 41 negara net exporters bahan pangan (kalori), mayoritasnya adalah negeri kaya seperti Amerika, Kanada, Australia, New Zealand, Perancis dlsb. Sementara itu yang menjadi net importers kalori adalah negeri yang pas-pas-an seperti Indonesia, India, Pakistan dan bahkan juga negeri-negeri miskin di Afrika, Asia Selatan, dan Amerika Tengah.

Ironi lain adalah ketimpangan distribusi bahan pangan dunia-lah yang telah menyebabkan sekitar 870 juta orang kekurangan gizi sementara ada 1 milyar orang di dunia kelebihan berat badan, 475 juta diantaranya bahkan sampai pada tingkatan obesitas. Pengelolaan bahan pangan dunia gaya kapitalisme juga membuat dunia tidak aman, rawan gejolak sosial, revolusi dan bahkan juga  perang. Krisis di Meksiko dengan Huru- Hara Tortilla awal 2007 bisa menjadi pelajaran bagi para pemimpin negeri yang suka mengandalkan impor untuk solusi kebutuhan pangannya.

Demikian juga yang dialami negeri-negeri Afrika Utara dan Arab beberapa tahun terakhir Instabilitas keamanan pangan mudah menjadi pemicu kerawanan yang ditimbulkan oleh hiperinflasi harga pangan melalui setidaknya tiga trigger:
  • Pertama adalah ketika negara produsen tiba-tiba membutuhkan sendiri hasil panenannya untuk berbagai keperluan sendiri dengan berbagai alasan – seperti kasus Tortilla di Meksiko tersebut.
  • Kedua, sekitar 45 % penduduk dunia berada di 5 negara besar Asia yang produksi bahan pangannya pas-pasan. Mereka ini adalah China, India, Indonesia, Pakistan dan Bangladesh. Karena kebutuhan pangannya yang sangat besar, kegagalan swasembada pangan negara-nagara ini mudah untuk memicu gejolak harga pangan di seluruh dunia. Kenaikan kebutuhan jagung dan kedelai oleh China misalnya, akan dengan mudah melambungkan harga jagung dan kedelai di pasaran dunia – itupun kalau masih tersedia.
  • Ketiga, ketika negeri-negeri panik dalam memenuhi kebutuhan pangannya – mereka cenderung memacu produksi dengan agak ngawur – tidak berfikir dampak jangka panjang. Hutan-hutan dibabat untuk menjadi lahan pertanian yang mengakibatkan krisis air kemudian, padahal air ini sangat dibutuhkan untuk pertanian itu sendiri. Ketika untuk intensifikasi pertanian, lahan-lahan digerojok dengan pupuk-pupuk dan obat-obatan kimia – maka ini hanya mempercepat penurunan kwalitas dan kesuburan lahan  - yang dampaknya secara gradual justru juga malah menurunkan hasil pertanian jangka panjang.
Satu saja dari triggers tersebut bekerja sudah cukup membuat Huru Hara Tortilla di Meksiko, bagaimana bila dua atau tiga  triggers tersebut aktif bekerja secara bersamaan ?  Maka risiko krisis pangan bagi dunia itu adalah imminent – mungkin bisa terjadi dalam waktu dekat.

Lantas pertanyaannya adalah bagaimana kita bisa proaktif mencegah krisis itu terjadi ?

Bagaimana kita bisa mencari solusi agar negeri ini bisa selamat dari potensi krisis pangan tersebut ?

Bagaimana kita bukan hanya mengatasi krisis untuk negeri sendiri tetapi juga menjadi solusi bagi negeri lain – seperti yang dilakukan oleh Nabi Yusuf ‘Alaihi Salam ?

Bagaimana kita bisa menjadi bagian dai solusi dunia dan bukan malah menjadi bagian dari masalahnya ?

Tiga dari setiap delapan penduduk dunia tergolong miskin bila kita gunakan standar daya beli US$ 2/hari. Ini berarti ada sekitar 2.7 milyar penduduk dunia yang miskin yang sangat rentan terhadap krisis pangan. Oleh sebab itu krisis ini harus bisa diantisipasi, dicegah dan diminimisasi dampaknya - bukan hanya oleh pemerintah, tetapi juga oleh penduduk negeri-negeri seperti kita.

Bagaimana caranya ? sebagaimana penyebabnya yang diuraikan dalam tulisan sebelumnya bahwa krisis itu berasal dari ulah tangan-tangan manusia – seperti di era kolonialism dahulu dan kapitalisme kini – maka dari sinilah kita mencegah krisis itu agar jangan sampai terjadi.

Pertama yang harus dihindari adalah penguasaan sumber-sumber produksi hanya oleh segelintir pihak tertentu. Ini bisa lahan, sumber air,  benih, pupuk, obat-obatan, energy, pengetahuan dlsb. Sumber produksi utama seperti lahan, air dan energi harus dikelola secara bersama sebagaimana petunjuk Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam :

“Orang-orang muslim itu bersyirkah dalam tiga hal, dalam hal padang rumput, air dan api” (Sunan Abu Daud, no 3745)

Kuncinya ada di syirkah tersebut dan ini pengertiannya sangat luas, dalam tulisan "Syirkah (Kerjasama) didalam 3 Hal", bisa dicari bentuk-bentuk syirkah yang paling efektif untuk membangun ketahanan pangan itu.

Ketika petani kita tidak bersyirkah, penguasaan lahan mereka rata-rata terlalu kecil. Seandainya lahan mereka sudah subur-pun, tetap tidak memberi penghasilan yang memadai untuk Pak Tani dan keluarganya, lihat tulisan "Memakmurkan Petani”. Bila selama ini sudah ada bentuk-bentuk syirkah seperti di sejumlah Kelompok Tani dan Koperasi Unit Desa (KUD), namun belum berhasil membangun kemakmuran para petani dan belum juga membangun ketahanan pangan – maka barangkali perlu dicarikan bentuk-bentuk syirkah yang lain yang lebih efektif.

Urusan pangan ini adalah urusan yang sangat besar, namun agar mudah ditangani - maka urusan tersebut kita bisa  breakdown menjadi urusan-urusan yang lebih kecil - kita atasi masalah tersebut dari desa ke desa. Setelah menjadi skala desa, insyaAllah akan banyak yang (merasa) sanggup untuk melakukannya dan mudah-mudahan bener-bener sanggup.

Kita di Indonesia memiliki jumlah lulusan sarjana pertanian saat ini sekitar 34,000 per tahun. Asumsikan 80 % Muslim dan asumsikan 50% saja tertarik untuk mempraktekkan ilmunya di bidangnya, asumsikan dari sini 5 % saja yang tertarik untuk melandasi penerapan ilmunya dengan petunjuk Al-Qur’an, Hadits dan sirah – maka mestinya tidak sulit untuk memperoleh sekitar 680 orang kader inti pertanian setiap tahun yang mau dibekali dengan petunjuk-petunjukNya.

Mereka kemudian  diterjunkan ke desa-desa untuk menjadi prime mover dalam gerakan syirkah pertanian di desa-desa. Mulai dari memetakan potensi dan masalah yang ada di desa tersebut, mengatasi satu per satu masalah yang ada, mengefektifkan kerja petani, mencarikan mereka bibit-bibit tanaman yang dibutuhkan, mengelola pasar hasil bumi petani dengan konsep pasar Madinah, mempromosikan keluar negeri dengan konsep "promosi gratis menggunakan Google", mengolah hasil pertaniannya di lokasi bila perlu dengan menggunakan yang dibuat sendiri seperti www.manufaktur-indonesia.com, dlsb.dlsb.

Maka si sarjana pertanian ini akan seperti Abdurrahman bin Auf yang tanpa bekal di hari pertamanya terjun ke pasar, tetapi kemudian dia mampu bersyirkah dengan seluruh penduduk Madinah dan memakmurkan Madinah pada jamannya. Demikianlah si sarjana ini nanti berperan di desanya yang baru, dia membangun syirkah dengan seluruh petani dan penduduk desa untuk kemudian memakmurkannya.

Apa jaminannya bahwa si sarjana ini akan berhasil ? yang menjamin keberhasilan dia bukan kita, tetapi Allah Ta'ala !, itulah maka dipersyaratkan di atas si sarjana ini harus mau dibekali dengan Al-Qur’an, Hadits, sirah dlsb. adalah untuk membangun keimanan dan ketakwaannya. Yang dia lakukan di desa bukan hanya mengajari bertani dan berdagang tetapi juga membangun keimanan dan ketakwaan petani dan penduduk desa – baru setelah itulah jaminan keberkahan dari Allah berlaku untuk mereka (QS 7 : 96).

Di antara bentuk keimanan dan keberkahan itu adalah keyakinan bahwa AlQur’an memberi jawaban untuk seluruh masalah (QS 16:89), maka si sarjana pertanian akan mencari solusi dari setiap masalahnya di Al-Qur’an. Ketika ketemu tanah yang tandus dan mati apa yang dia harus lakukan (QS 36:33), ketika ketemu hasil bumi yang tidak memadai – apa pula yang dia harus lakukan (QS 13:4) dlsb.

Sebagai contoh dengan surat Abasa yang dia bisa ajarkan ke para petani untuk membacanya, menghafalkannya dan sekaligus mengamalkannya – dia akan bisa mengurusi seluruh kebutuhan pangan petani. Mulai dari kebutuhan protein dari biji-bijian (QS 80:27), kebutuhan karbohidrat dan lemak (QS 8029), kebutuhan vitamin dan mineral (QS 80 : 28 dan 31), kebutuhan tanaman obat (QS 80 :30) dan bahkan juga tanaman-tanaman untuk ternak mereka (QS 80 :31-32).

Setelah metode ini berhasil dengan 680 orang sarjana di 680 desa percontohan, tinggal diikuti dengan sarjana-sarjana berikutnya di desa-desa lainnya. Setiap tahun penambahan desa yang digarap, yang diterjunkan adalah dua kali dari yang sebelumnya – referensinya ada ditulisan sebelumnya ‘ Desain Pertanian menurut Al Qurani ’ . Maka dengan pendekatan ini insyaAllah Indonesia yang memiliki sekitar 74,000 desa akan bisa makmur dalam periode kurang dari 10 tahun.

Bagaimana kalau para sarjana pertanian tidak tertarik untuk membangun desa ?, tidak masalah karena banyak sarjana lain dan bahkan juga pemuda-pemuda terampil yang bisa diajari dengan konsep yang sama. Yang lebih penting bukan sarjana atau tidaknya, yang penting adalah mau menggunakan petunjukNya atau tidak.

Yang mendatangkan kemakmuran bukan kesarjanaannya, tetapi adalah keimanan dan ketakwaannya – maka inilah syarat utamanya. Untuk membekali para sarjana atau pemuda trampil tersebut terjun ke desa-desa, bisa saja dibentuk syirkah level berikutnya.

Yaitu syirkah para pemodal dengan para pemuda yang akan terjun ke desa-desa tersebut. Orang-orang yang tinggal di kota-kota seperti saya dan Anda-pun insyaAllah akan mau bersyirkah mendanai para pemuda yang akan memakmurkan desa dan insyaAllah juga akan memakmurkan negeri ini secara keseluruhan - bahkan juga negeri-negeri lain dengan pola yang sama.

Dari syirkah bersama tersebut kita akan memiliki kekuatan di dalam membangun konsep pertanian terpadu dengan menggabungkan "hubungan antara Pertanian, Perkebunan dan Peternakan" sehingga sebagai petani dapat mandiri dalam mengelola pupuk organik, pakan untuk ternak, bahkan sumber energi untuk pertanian. Secara garis besar bisa kita kembangkan dari analisa berikut ini :
  1. Peternakan memerlukan pakan yang dapat diperoleh dari rumput-rumputan, kacang-kacangan, Alfaafa, jerami padu, jagung, singkong, hijauan dedaunan dari kebun buah-buahan yang diproses fermentasi menjadi pakan silase yang dapat bertahan sampai 12 bulan. Atas usaha ini biaya pakan untuk ternak dapat diturunkan sampai 70%, sehingga dapat menjadi keuntungan para petani. Contohnya dapat dilihat dalam tulisan "membuat Pakan untuk Sapi dan Kambing".
  2. Pertanian mendapatkan nutrisi untuk mengembalikan kesuburan tanah melalui Pupuk Organik dari hasil kotoran ternak yang telah di proses menjadi kompos. Proses pembuatan kompos dapat dibaca dalam tulisan "membuat Kompos Pupuk Kandang" dan  "Bahan Organik dan Proses Dekomposisi Pengomposan".
  3. Kompos yang dihasilkan, dapat memberikan suplai Nutrisi atau Unsur Hara Tanah yang diperlukan tanaman seperti: N, P, K, Ca, dll, juga dapat memperbaiki struktur tanah yang telah rusak dan meningkatkan daya ikat air dan mikroba yang bermanfaat. InsyaAllah tanah yang telah mati dapat dihidupkan kembali. Inilah program Konservasi Lahan Pertanian yang menghidupkan tanah yang telah mati menjadi tanah subur kembali atas ijinNya.
  4. Biaya produksi terutama pupuk anorganik seperti urea, TSP, KCL dll dapat ditekan seminimal mungkin atau bahkan sama sekali tidak dibutuhkan apabila tanah telah menjadi subur dengan alami. Adapun biaya dari pengadaan pupuk anorganik sebesar 45% dari biaya produksi dapat dihilangkan diganti dengan pupuk organik hasil produksi sendiri.
  5. Dengan program ini, kemakmuran petani menjadi meningkat, hanya dengan menurunkan biaya produksi yang efisien dan efektif (dari peternakan 70% dan dari pertanian 45%), insyaAllah dapat memperkuat kemandirian dari Pertanian, Perkebunan dan Peternakan, bahkan dalam bidang Energi.
  6. Hasil dari ber-syirkah ini, akan membuat program pertanian menjadi menarik, dapat membuka lapangan pekerjaan yang seluas-luasnya di bumi yang seharusnya ijo royo-royo ini, dan insyaAllah dapat membangun kemakmuran umat di negeri ini.
Desain yang terintegrasi dilahan yang cukup untuk pertanian, perkebunan, peternakan dan perikanan dapat diwujudkan dengan ilustrasi gambar berikut ini, (disesuaikan dengan kontur atau tinggi permukaan tanah). walaupun masih jauh dari sempurna, semoga bisa dijadikan bahan yang akan terus disempurnakan di kemudian hari.

Mudah-mudahan ini bisa menjadi wasilah kita untuk mendekatkan diri kepada Allah, agar Dia ridlo untuk memasukkan kita menjadi golongan kanan atas upaya kita untuk bisa memberi makan di harihari kelaparan ini (QS 90 : 12-18). Agar solusi ini tidak hanya menjadi wacana dan tulisan belaka, lets just do it !. InsyaAllah Allah Ta'ala akan membimbing kita memberikan banyak hikmah dan teman-teman se-visi di dalam mencapai kemakmuran umat ini. Amin YRA.

www.agribisnis-indonesia.com

Description: Resolusi Pertanian, Perkebunan dan Peternakan
Rating: 4.5
Reviewer: google.com
ItemReviewed: Resolusi Pertanian, Perkebunan dan Peternakan
Kami akan sangat berterima kasih apabila anda menyebar luaskan artikel Resolusi Pertanian, Perkebunan dan Peternakan ini pada akun jejaring sosial anda, dengan URL : http://www.agribisnis-indonesia.com/2014/02/resolusi-pertanian-perkebunan-dan-peternakan.html

Bookmark and Share

2 comments... Baca dulu, baru komentar

t tulus setyawan said...

Excellent .....

Mohon dapat memuat artikel pertanian yang juga mengkonservasi lahan, sebagaiman amanah dlm quran. bahwa kita dilarang untuk membuat kerusakan di bumi. apapun kegiatan kita. tetapi bagaimana kita dapat melestarikan kehidupan bumi, salah satu contoh, menghidupkan kembali lahan yg telah dirusak oleh kegiatan penambangan...

Gatry Amalia Sari said...

Terimakasih untuk infonya dan untuk referensi seputar pertanian silahkan kunjungi www.ps-agrie.gunadarma.ac.id
semoga bermanfaat

Post a Comment