Agribisnis Indonesia by Noer Rachman Hamidi

Ber-Amal Sholeh Memakmurkan BumiNya

Posted by Noer Rachman Hamidi


Bumi ini insyaAllah bisa terus bertambah makmur – bila hal yang diperintahkan ke kita bersamaan dengan perintah menyembah dan mengesakanNya  disertai memakmurkan bumiNya (QS 11:61) – sungguh-sungguh kita laksanakan. Dan InsyaAllah kita semua bisa terlibat langsung dalam melakukannya.

Bahwa petunjuk Al-Qur’an itu detil dan jelas, ini antara lain ditunjukkan dengan sejumlah ayat di surat yang berbeda-beda yang saling menguatkan dan menjadi penjelas satu sama lainnya – kita temukan rangkaian ayat-ayat ini misalnya dalam ayat-ayat yang terkait dengan perintah untuk memakmurkan bumi tersebut di atas.

Untuk menjelaskan konvergensi ayat-ayat kemakmuran tersebut, bahkan bisa kita coba visualisasikan dalam ilustrasi tiga dimensi untuk menggambarkan sepotong bumi yang makmur. Untuk bisa kita lihat bersama dengan jelas, seandainya bumi yang makmur itu seperti bulatnya buah semangka – maka gambar dibawah adalah irisannya untuk 1/8 dari semangka tersebut.

Kemakmuran Berkelanjutan Secara Alami
Kita gunakan irisan ‘semangka’ ini untuk melihat proses pemakmuran yang terjadi di permukaan bumi dan didalamnya ( di bawah tanah) seperti yang dijelaskan di sejumlah ayat dalam berbagai surat.

Dalam hal kemakmuran bumi misalnya surat Yaasiin bercerita tentang bagaimana bumi yang mati (no 1 di gambar) dihidupkan dengan biji-bijian (QS 36 : 33), kemudian ayat 34-nya bercerita tentang kurma (2), anggur (3) dan mata air (4). Maka dua ayat ini bercerita suatu proses dari bumi yang mati sampai menjadi bumi yang subur dengan mata air yang memancar.

Bagaimana proses detilnya kok bisa demikian ? Setelah ditanami biji-bijian, dengan bantuan mikroba yang berkoloni pada perakarannya -  tanaman biji-bijian ini bisa langsung menyerap Nitrogen (N2) di udara dan mengubahnya untuk menjadi Nitrogen yang siap konsumsi oleh tanaman (NH3 kemudian NH4). Bumi yang mati, kini telah mulai hidup dengan unsur utama yang diperlukannya – yaitu Nitrogen.

Bersamaan dengan hadirnya Nitrogen tersebut, permukaan tanah akan tertutup oleh daun dari tanaman biji-bijian ini sehingga mencegah penguapan dari air hujan yang jatuh di permukaan tersebut serta menurunkan suhu permukaannya.

Dengan modal inilah maka kemudian tanah bisa ditanami oleh tanaman-tanaman berikutnya khususnya kurma dan anggur seperti di QS 36 ayat 34 tersebut. Perakaran kurma yang rapat dan dalam – bisa sampai 10 meter, membantu menahan air di dalam tanah.

Air yang tertahan ini terus merembas ke bawah dan dalam waktu yang lama akan menaikkan permukaan air tanah (water table). Water table ini adalah kodisi dimana permukaan air di dalam tanah memiliki tekanan 0 atm. Water table yang terus terisi akan naik mendekati permukaan tanah, maka bila ketemu bagian tanah yang posisinya sama atau lebih rendah dari water table ini – disitulah air akan memancar sebagai mata air (posisi no 4 dalam gambar).

Setelah ada mata air, maka lebih luas lagi opsi tanaman yang bisa kita tanam. Lahan berupa sawah ladang untuk menanam padi-padian-pun mulai terbentuk, maka di ayat berikutnya (QS 36 : 35) disebutkan bahwa kita bisa makan dari hasil usaha tangan kita – yaitu hasil bercocok tanam jenis padi-padian.

Komposisi kebun yang terdiri dari kurma, anggur dan kemudian sungai-sungai yang mengalir dibawahnya ini juga diungkapkan oleh Allah di Surat Al-Baqarah ayat 266. Senada dengan ini juga di surat Al-Kahfi (QS 18 : 32-33). Bila ilustrasi 1/8 semangka tersebut saya gandakan menjadi ¼ semangka – yaitu sisi kirinya yang sama persis seperti cermin dari gambar yang ada di kanan -  maka akan menjadi ilustrasi seperti di bawah.

Kebun Al-Kahfi

Dengan ilustrasi yang baru ini, kita akan jauh lebih mudah memahami dua kebun yang dijelaskan dalam dua ayat di surat Al-kahfi berikut.
“Dan berikanlah kepada mereka sebuah perumpamaan dua orang laki-laki, Kami jadikan bagi seorang di antara keduanya dua buah kebun anggur dan Kami kelilingi kedua kebun itu dengan pohon-pohon kurma dan di antara kedua kebun itu Kami buatkan ladang.

Kedua buah kebun itu menghasilkan buahnya, dan kebun itu tiada kurang buahnya sedikit pun dan Kami alirkan sungai di celah-celah kedua kebun itu” (QS 18 : 32-33)

Prinsip dua kebun yang mengindikasikan kemakmuran dan kebaikan sebuah negeri ini juga diceritakan oleh Allah dalam kasus kaum Saba : “Sesungguhnya bagi kaum Saba' ada tanda (kekuasaan Tuhan) di tempat kediaman mereka yaitu dua buah kebun di sebelah kanan dan di sebelah kiri. (Kepada mereka dikatakan): "Makanlah olehmu dari rezeki yang (dianugerahkan) Tuhanmu dan bersyukurlah kamu kepada-Nya. (Negerimu) adalah negeri yang baik dan (Tuhanmu) adalah Tuhan Yang Maha Pengampun". (QS 34 : 15)

Adapun disandingkannya kebun kurma dan anggur – yang disebut secara khusus oleh Allah di surat 13 : 4 bahwa diantara tanaman-tanaman itu ada yang berdampingan dan ada yang diunggulkan – pasti mengandung hikmah yang luar biasa dan hingga kini belum sepenuhnya bisa diungkapkan oleh ilmu pengetahuan pertanian yang paling modern sekalipun.

Karena bukan hanya di ayat ini kurma dan anggur disandingkan dalam penyebutannya, tetapi juga di sembilan ayat di surat-surat yang berbeda lainnya. Jadi totalnya ada sepuluh ayat dimana kurma dan anggur disebut secara berurutan, yaitu QS 13:4 ;  2 : 266;  6: 99;  13:4;  16:11; 16:67 ; 17:91; 18:32;  23:19 dan QS 36 :34.

Yang jelas kurma adalah tanaman yang bernilai tinggi dan demikian pula anggur, maka ketika keduanya berada dalam satu kebun – pastilah kebun itu memiliki hasil yang sangat tinggi – maka  keduanya juga disebutkan Allah sebagai rezeki yang baik (QS 16 :67).

Bila kebun kurma dan anggur inipun belum memberikan hasil yang maksimal, Allah turunkan resep berikutnya agar tanaman-tanaman ini berbuah banyak dan juga buah-buahan lainnya. Resep itu adalah menggembala sebagai mana ayat berikut :

“Dia-lah, Yang telah menurunkan air hujan dari langit untuk kamu, sebagiannya menjadi minuman dan sebagiannya (menyuburkan) tumbuh-tumbuhan, yang pada (tempat tumbuhnya) kamu menggembalakan ternakmu. Dia menumbuhkan bagi kamu dengan air hujan itu tanam-tanaman; zaitun, kurma, anggur dan segala macam buah-buahan. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar ada tanda (kekuasaan Allah) bagi kaum yang memikirkan.” (QS 16:10-11)

Jadi tempat menggembala terbaik-pun (no 10 di gambar) ternyata juga terkait dengan pohon kurma, anggur dan berbagai buah-buahan lainnya. Penggembalaan terbaik bukan di negeri-negeri padang rumput tempat dari mana kita mengimpor daging dan susu selama ini !, tetapi bisa jdi di negeri ini bila kita  bisa bener-bener melaksanakan petunjukNya.

Bila ini kita lakukan, maka berlakulah janji Allah bahwa sumber-sumber makanan itu akan datang dari atas kita dan dari bawah kaki kita (QS 5:66), dan demikian pula keberkahannya akan datang dari langit dan dari bumi (QS 7 : 96).

Kemudian keberadaan mata air dan juga sungai sebagai salah satu indikator  kemakmuran juga disebutkan di sejumlah ayat-ayat yang sangat banyak, tetapi bagaimana kita bisa berbuat untuk berkontribusi dalam hadirnya mata air-mata air dan sungai-sungai ini ? Dengan menanam pohon dan khususnya kurma !.

Selain disebutkan secara khusus bahwa tanaman kurma ini memancarkan mata air (QS 36:34) dan mengalirkan anak sungai (QS 19 : 23-24) , hadits perintah menanam pohon sampai kiamat – itu juga khususnya untuk pohon kurma, meskipun tidak salah kalau kita menanam pohon lainnya juga. Yang jelas salah adalah bila kita tidak menaman pohon dan bahkan cenderung menebangnya saja !

“Jika hari kiamat telah tegak, sedang di tangan seorang diantara kalian terdapat bibit pohon kurma; jika ia mampu untuk tidak berdiri sampai ia menanamnya, maka lakukanlah”. [HR. Ahmad]

Apa yang terjadi di dalam tanah ketika kita menanam pohon kurma  di tanah yang kering sekalipun ?

Tanah yang kering adalah tanah yang tidak ada mata airnya, permukaan air tanah atau water table-nya (no 9) ada tetapi posisinya sangat dalam. Molekul-molekul air bisa jadi masih ada di zone tidak jenuh (no 7 pada  pada gambar di atas) – tetapi jumlahnya yang tidak memadai untuk diambil sebagai air untuk kebutuhan manusia dan ternak. Hanya system perakaran tanaman – khususnya kurma – yang masih bisa memanfaatkan air yang sangat sedikit ini.

Ketika air hujan turun dan ditahan di perakaran kurma ini, air merembes terus kebawah sampai kepada zona jenuh (no 8). Seperti tetesan-tetesan air hujan yang jatuh ke kolam, maka dia tidak terus bergerak kebawah lagi – perlahan-lahan dia mengangkat permukaan kolam – yang dalam hal ini adalah mengangkat permukaan water table.

Ketika proses ini berjalan terus, maka saatnya nanti akan tiba – dimana permukaan water table akan sampai di permukaan tanah – dan saat itulah mata air muncul.

Meskipun hanya Allah-lah yang bisa menyimpan air ini, kita sebagai khalifahNya diperintahkan untuk memakmurkan bumi antara lain melalui  penanaman pohon ini, karena dari pohon-pohon yang kita tanam tersebutlah air disimpan di dalam tanah dan dikeluarkanNya dalam bentuk terbaiknya yaitu mata air-mata air.

Sebagaimana air adalah sumber segala kehidupan, maka menanam pohon adalah bentuk konkrit keterlibatan manusia untuk bisa ikut melestarikan kehidupan di bumi ini. Sebaliknya menebang pohon tanpa diikuti penanaman kembali, menyedot air secara berlebihan dari dalam tanah tanpa upaya untuk ikut mengembalikannya lagi – adalah mengancam ketersediaan air bersih di bumi ini yang berarti juga mengancam kehidupan itu sendiri.

agribisnis indonesia, alfaafa, sejarah alfaafa, desain pertanian qurani, resolusi pertanian, resolusi peternakan, budidaya tanaman zaitun, budidaya tanaman kurma, membangun ketahanan pangan, kemakmuran umat memakmurkan petani kebun quran

SelengkapnyaBer-Amal Sholeh Memakmurkan BumiNya

Memulai Kemakmuran dari Domba

Posted by Noer Rachman Hamidi


Pekerjaan memakmurkan bumi ini adalah pekerjaan yang sangat komplek – multi dimensi. Usia manusia yang terbatas, pengalaman dan kecerdasannya-pun terbatas – tidak akan pernah mampu menguasai keseluruhan dimensi tersebut. Lantas bagaimana manusia yang penuh keterbatasan ini bisa mengemban tugas yang sangat kompleks tersebut ? tidak ada jalan lain kecuali dengan mengikuti petunjukNya.

Bila kita hanya mengandalkan kecerdasan dan pengalaman kita, bisa jadi perbuatan yang kita kira baik itu justru berdampak buruk bagi orang lain.  Ketika orang-orang super kaya bersama dengan perusahaan-perusahaan benih dunia membuat Doomsday Seed Fault di laut Barent dekat kutub utara – untuk konon katanya mengamankan benih dunia ketika 'kiamat' tiba ! – yang terjadi malah hampir satu milyar orang kelaparan sebelum 'kiamat' itu tiba.

Sebaliknya, hal kecil - sederhana yang kita lakukan dengan mengikuti petunjukNya atau mengikuti contoh-contoh NabiNya – bisa jadi tersimpan di dalamnya hikmah yang sangat besar – baik hikmah itu kita ketahui atapun belum/tidak kita ketahui.

Misalnya syariat ber-Qurban yang akan rame-rame kita lakukan dalam sepekan yang akan datang. Siapa yang memberi contoh ?, yang memberi contoh adalah Nabi Ibrahim 'Alaihi Salam dan Putranya 'Ismail 'Alaihi salam. Apa yang dicontohkannya ? menyembelih seekor sembelihan yang besar. Para ahli tafsir menyebutkan bahwa yang disebut sembelihan yang besar itu adalah domba atau gibas yang besar dan sempurna (QS 37:107).

Lalu manusia sekarang berfikir ekonomis dan manfaat jangka pendek menurut logikanya sendiri – yang terbatas, yaitu ada paham menyembelih sapi lebih baik karena dagingnya banyak – banyak masyarakat yang bisa menikmati daging pada hari itu.

Meskipun tidak ada yang melarangnya dan berqurban dengan sapi, unta, kerbau dan lain sebagainya semuanya baik – yang tidak baik hanyalah yang tidak berqurban ! tetapi alangkah baiknya lagi kalau kita bisa mencontoh sedekat mungkin dengan contoh aslinya – yaitu menyembelih domba atau gibas yang besar.

Dagingnya tentu tidak sebanyak sapi, tetapi dampak pada dimensi-dimensi lainnya yang insyaAllah sangat luas. Bila qurban-qurban kita kembali ke domba, maka masyarakat akan rame-rame memelihara domba. Apalagi ketika domba-domba ini digembala juga dalam rangka mengikuti perintahNya (QS 20 :54), ketaatan yang satu melahirkan ketaatan berikutnya, manfaat yang satu menggerakkan manfaat berikutnya.

Akibat domba-domba yang digembalakan di tempat-tempat yang juga ditunjukanNya (QS 16:10), maka negeri ini akan menjadi negeri kebun-kebun buah dari segala macam buah-buahan yang ada (QS 16:11). Negeri yang seperti ini dipuji Allah sebagai negeri yang baik – Baldatun Thayyibatun Wa Rabbun Ghafuur (QS 34;15).

Negeri yang baik, mampu memberi makan cukup bagi rakyatnya – kita tidak perlu lagi impor buah malah meng-ekspornya, kita-pun tidak perlu lagi impor daging dan susu.  Daging domba ini adalah daging yang sekarang disebut the world healthiest food sebagai makanan tersehat didunia, mereka menyebut khusus the grass-fed-lamb yaitu daging domba yang diberi makan rumput (digembala di rerumputan !).

Susu domba selain menjadi minuman yang bersih dan mudah diminum (QS  16:66 ), juga sangat efektif untuk berbagai pengobatan penyakit. Tidak perlu industri farmasi yang canggih-canggih untuk ini, tinggal mengumpulkan dan mengemasnya secara baik saja – sudah akan menjadi industri obat-obatan yang tidak kalah dengan industri obat-obatan milik kapitalis yang telah menjadikan obat sangat mahal.

Ketika domba semakin banyak, ada potensi industri baru yaitu industri pakaian dari kulit atau bulu domba. Bahkan pakaian dari kulit dan bulu domba inipun ada di petunjukNya yaitu di surat An-Nahl 80-81. Kita bisa menjadi produsen dan eksportir pakaian terbaik dunia, tidak seperti sekarang kita menjadi importer untuk pakaian yang sebenarnya  tidak begitu bermutu.

Dari contoh kecil dan sederhana yaitu mengembalikan qurban sedekat mungkin dengan contoh aslinya ini saja – kita insyaAllah sudah bisa menggerakkan seluruh dimensi kemakmuran yang ada. Keturunan kita akan lebih baik, alam kita akan lebih baik, lapangan pekerjaan terbuka luas, demikian pula dengan potensi ekonomi riil dalam negeri yang bisa digarap oleh masyarakat luas.

Barangkali dampak yang begitu luas dalam pertumbuhan yang berkelanjutan inilah maka domba juga disebut sebagai harta muslim terbaik dalam hadits shahih berikut :  "Waktunya akan datang bahwa harta muslim yang terbaik adalah domba yang digembala di puncak gunung dan tempat jatuhnya hujan. Dengan membawa agamanya dia lari dari beberapa fitnah (kemungkaran atau pertikaian sesama muslim)". (H.R. Bukhari)

Maka yang kita perlu lakukan di usia yang terbatas dan kemampuan juga terbatas ini adalah bagaimana kita mengerjakkan saja perintah-perintahNya dan menjauhi apa-apa yang dilarangNya, maka kita insyaAllah akan semakin dekat dengan takwa – dan orang bertakwa dijanjikan rezeki yang tanpa batas atau tanpa dhihitung ( QS  3:27 ;24:38; 40:40), dan dari sumber yang tidak disangka-sangka  (QS 65:3)  ! InsyaAllah. ‎


agribisnis indonesia, alfaafa, sejarah alfaafa, desain pertanian qurani, resolusi pertanian, resolusi peternakan, budidaya tanaman zaitun, budidaya tanaman kurma, membangun ketahanan pangan, kemakmuran umat memakmurkan petani kebun quran

SelengkapnyaMemulai Kemakmuran dari Domba

Langkah Memulai Kemandirian Energi dan Pangan.

Posted by Noer Rachman Hamidi


Penggunaan renewable energy atau energi terbarukan, peningkatan efisiensi industri dan perbaikan pengelolaan tanah, hutan dan penggunaan tanah lainnya mengesankan ini adalah tugas para pelaku industri, pengusaha, ilmuwan dan pemerintah – mengesankan pekerjaan perbaikan lingkungan itu hanya 'tugas mereka' dan bukan tugas kita-kita.

Padahal bukankah setiap kita juga ingin berperan dalam memperbaiki lingkungan dan kehidupan itu kini dan nantinya untuk anak cucu kita ?, bukankah kita juga ingin tercatat sebagai orang yang berbuat kebaikan di muka bumi ini dan bukan yang merusaknya ? Lantas bagaimana kita bisa melakukannya ?

Pertama adalah menerima penugasanNya, bahwa setelah kita diperintahkan untuk menyembah kepadaNya dan meng-EsakanNya, tugas kita berikutnya adalah memakmurkan bumiNya (QS 11:61). Apa bentuk konkrit dari pekerjaan memakmurkan buminya ini ? Di antaranya ada dua jenis pekerjaan yang secara spesifik diperintahkan oleh Allah dan RasulNya dalam Al-Qur'an – yang ternyata bisa menjawab semua permasalahan tersebut di awal tulisan ini.

Pekerjaan  yang pertama adalah menggembala seperti yang diperintahkan Allah di dalam surat Thaa-Haa berikut : "Makanlah dan gembalakanlah binatang-binatangmu. Sesungguhnya pada yang demikian itu, terdapat tanda-tanda kekuasaan Allah bagi orang-orang yang berakal." (QS 20 :54)

Bahkan secara spesifik kita juga diberi tahu dimana tempat menggembala terbaik itu yaitu di tempat turunnya hujan dan di tempat tumbuhnya pepohonan : "Dia-lah, Yang telah menurunkan air hujan dari langit untuk kamu, sebagiannya menjadi minuman dan sebagiannya (menyuburkan) pohon-pohonan, yang pada (tempat tumbuhnya itu) kamu menggembalakan ternakmu." (QS 16:10)

Maka terkait tempat penggembalaan terbaik yang nantinya juga menjadi sumber makanan dari berbagai jenis buah-buahan di ayat lanjutannya (QS 16:11), kita juga diperintahkan menanam sampai hari kiamat, ini terungkap dalam hadits : "Jika hari kiamat telah tegak, sedang di tangan seorang diantara kalian terdapat bibit pohon kurma; jika ia mampu untuk tidak berdiri sampai ia menanamnya, maka lakukanlah". [HR. Ahmad]

Dua jenis pekerjaan yang satu secara spesifik diperintahkan di Al-Qur'an (menggembala) dan yang satu lagi diperintahkan secara spesifik  di dalam hadits tersebut di atas (menanam) ternyata adalah dua jenis pekerjaan yang terkait satu sama lain. Keduanya secara bersama-sama menjawab segala kebutuhan manusia hingga di jaman modern ini - yaitu kebutuhan makanan, energi, air bersih, udara bersih dan suhu yang nyaman bagi kehidupan di permukaan bumi.

Dalam hal makanan misalnya, fokus makanan kita yang selama ini pada beras dan gandum ternyata paling boros dalam penggunaan air dan energi dari tahap produksi sampai industrinya. Sawah membutuhkan begitu banyak air, yang bersaing dengan kebutuhan manusia akan air bersih. Gandum yang diproduksi dengah begitu banyak energi mulai dari produksi/penanamannya, transportasi sampai industri hilirnya – juga bersaing dengan kebutuhan energi lainnya. Begitu pula penanaman, pengolahan dan transportasi untuk bahan pangan seperti jagung, kedelai dan jenis biji-bijian lainnya.

Lantas bagaimana kita menyikapinya, lha apa terus tidak makan nasi, mie atau roti ? Kita tentu saja tetap boleh makan makanan dari jenis biji-bijian ini – tetapi dikembalikan pada proporsinya yang benar. Demikian pula fokusnya pada produksi bahan makanan yang boros sumber daya ini, dikurangi menjadi proporsional dengan jenis bahan makanan lainnya. Seperti apa proporsi yang seharusnya itu ?

Kita bisa menggunakan pendekatan ilmiah bahwa manusia butuh unsur makanan yang terdiri dari 1) karbohidrat, 2) protein, 3) lemak, 4) vitamin dan 5) mineral. Maka perhatian terhadap produksi dan konsumsi karbohidrat mestinya juga hanya kurang lebih 1/5 dari seluruh kebutuhan makanan kita. Jenis karbohidrat inilah yang utamanya dikontribusi oleh biji-bijian seperti  beras dan gandum.

Lebih menarik lagi kalau kita menggunakan rujukan Al-Qur'an, Allah menyebut jenis-jenis sumber makanan kita di surat Al-Anam : "…Kami keluarkan dari tanaman yang menghijau itu 1) butir yang banyak; dan 2) dari mayang kurma mengurai tangkai-tangkai yang menjulai, dan 3) kebun-kebun anggur, dan (Kami keluarkan pula) 4) zaitun dan 5) delima yang serupa dan yang tidak serupa..." (QS 6:99).


Juga ketika kita diminta memperhatikan makanan kita di surat Abasa : "…1) lalu Kami tumbuhkan biji-bijian di bumi itu, 2) anggur dan hijauan bergizi, 3) Zaitun dan pohon kurma, 4) tumbuh-tumbuhan (yang) lebat, 5) dan buah-buahan serta rumput-rumputan…" (QS 80 : 27-31)

Intinya mau menggunakan rujukan kebutuhan biologis ataupun rujukan petunjuk-petunjukNya, bahan makanan yang berupa biji-bijian yang umumnya adalah untuk kebutuhan karbohdrat – banyalah 1 dari 5 bahan atau jenis makanan yang kita butuhkan. Maka perhatian dan produksi jenis makanan biji-bijian inipun seharusnya hanya mendapatkan alokasi resources yang proporsional yaitu hanya sekitar 1/5 dari seluruh resources yang ada – baik berupa lahan, dana maupun tenaga kerja dan sumber daya lainnya.

Alokasi resources yang proporsional ini penting agar kita bisa mengalokasikan yang 4/5-nya atau 80%-nya untuk bahan atau sumber pangan lainnya. Sumber bahan pangan lainnya inilah yang sangat menarik untuk perbaikan kehidupan di bumi ini kedepan.

Kurma, anggur, zaitun, delima, tin, dan berbagai buah-buahan dan rerumputan tidak membutuhkan tanah sawah untuk tumbuhnya, tidak membutuhkan air yang banyak dan tidak pula membutuhkan resources yang besar untuk mengolah lahan dan kegiatan produksinya. Bila pada padi, gandum dan sejenisnya sekali tanam – sekali panen,  tidak demikian dengan tanaman jangka panjang seperti kurma dan buah-buahan. Bahan pangan dari hasil jenis tanaman pohon hanya perlu sekali menanam untuk sekian tahun yang akan datang - panen terus menerus tanpa perlu menanamnya lagi.

Sumber-sumber bahan makanan dari jenis tanaman jangka panjang inilah yang nantinya akan menjadi semakin penting bagi kelangsungan peradaban manusia ke depan, karena proporsinya akan mencapai sekitar 80 % dari seluruh bahan makanan yang ada. Menjadi semakin penting lagi karena pohon bukan hanya  menjadi  sumber pangan, tetapi juga sebagai media untuk mengelola air tanah, udara bersih , mengelola suhu permukaan bumi dan mengelola ecosystem kehidupan di permukaan bumi secara keseluruhan.

Tanaman-tanaman jangka panjang sangat sedikit membutuhkan pengolahan tanah atau bahkan tanpa membutuhkan pengolahan tanah ( minimum or no tilling) , sehingga aman dari erosi dan menyerap lebih banyak CO2 di dalam tanah dan melestarikan kesuburan tanah. CO2 inilah antara lain yang menjadi isu besar abad ini, dan masih banyak isu lain yang juga harus dipecahkan seperti ketersediaan tanah yang subur untuk pemenuhan kebutuhan akan bahan obat-obatan dlsb.

Efektifitas tanaman-tanaman jangka panjang ini untuk menjadi solusi bagi perbagai kebutuhan manusia akan semakin meningkat bila dikaitkan dengan penggembalaan ternak. Bahwa tanaman-tanaman ini khususnya tanaman buah-buahan membutuhkan Kalium untuk memperbanyak dan menguatkan buahnya, Kalium terbaik adalah dari kotoran ternak khususnya kencing domba. Sebaliknya ternak seperti domba membutuhkan bahan makanan dari rerumputan yang sangat beragam, rerumputan yang beragam ini tumbuh terbaik di antara pohon-pohonan.

Tanah-tanah yang digembala menjadi tanah yang gembur dan subur, menyerap lebih banyak CO2 dan semakin kondusif untuk tumbuhnya pepohonan – karena rumput yang dimakan ternak secara reguler akan memacu terbentuknya humus (bagian tanah yang sangat subur), memacu pertumbuhan biota tanah dan meningkatkan biomasa serta biological diversity di atas maupun di bawah tanah.

Bila untuk menyelamatkan lingkungan dan sekaligus menjawab berbagai kebutuhan kita ini dapat dilakukan dengan dua pekerjaan yang diperintahkan di Al-Quran dan Hadits tersebut di atas, menggembala dan menanam tanaman (buah) jangka panjang – sedangkan Allah dan RasulNya tidak  memerintahkan kita kecuali yang sesuai dengan kemampuan kita – maka insyaAllah kita semua akan bisa terlibat dalam pekerjaan ini. 

www.agribisnis-indonesia.com


SelengkapnyaLangkah Memulai Kemandirian Energi dan Pangan.

Melatih hewan ternak domba

Posted by Noer Rachman Hamidi


Binatang cerdas pada umumnya seperti kambing atau domba dapat memiliki cukup kecerdasan untuk bisa diajari melaksanakan tugas-tugas tertentu. Kambing di peternakan Jonggol Farm misalnya, mereka sudah 5 tahun ini  bisa bergantian minum dari  tempat minum khusus yang disiapkan untuk mereka. Mereka juga bisa baris secara sukarela pagi dan sore setiap dilepas dari kandangnya untuk menuju area pemerahan susu. Maka teknik yang sama kami gunakan untuk melatih domba-domba untuk apa yang kami sebut penggembalaan presisi atau precision grazing.

Penggembalaan presisi adalah melatih hewan ternak khususnya domba untuk bisa digembalakan ditempat-tempat khusus, dimana dia tidak boleh memakan tanaman-tanaman disekitarnya dan tidak boleh melewati wilayah tertentu.

Teknik yang kami gunakan sederhana saja untuk menyesuaikan dengan tingkat kecerdasan domba-domba ini – yaitu teknik pembiasaan. Misalnya untuk memberi batas tanaman yang tidak boleh dimakan kami gunakan pagar bambu. Maka setiap kali mereka berusaha makan tanaman didalam pagar bambu tersebut, domba harus dihalau.

Untuk membatasi wilayah yang tidak boleh dilalui kami gunakan paranet (agar mudah digulung dan dipindah-pindahkan), maka setiap kali mereka berusaha menerobos paranet – domba-domba tersebut juga dihalau.

Dengan pembiasaan semacam ini domba-domba yang kita gembalakan tersebut lama-kelamaan akan tahu bahwa tanaman didalam pagar bambu tidak boleh dimakan, dan wilayah yang dibatasi paranet adalah bukan wilayah mereka.

Lantas apa manfaatnya penggembalaan presisi ini ? Kebun bisa kita kelola dengan sangat intensif karena kita bisa menanam tanaman-tanaman baru yang masih muda tanpa takut tanaman tersebut dimakan oleh domba-domba yang kita gembalakan disekitarnya.

Pada saat yang bersamaan - sambil makan rumput di sekitar tanaman-tanaman muda – domba-domba tersebut juga menebarkan pupuk organik terbaiknya. Dari sinilah pohon-pohon zaitun, kurma,  anggur dan segala jenis buah-buahan insyaAllah akan tumbuh terbaik seperti yang diisyaratkan di surat An-Nahl ayat 10-11.

Jadi penggembalaan presisi memberi manfaat bukan hanya untuk sekedar memberi makan pada domba-domba tersebut dengan sumber daya rumput yang ada di mana-mana, tetapi juga memperbaiki kesuburan lahan dimana domba-domba tersebut digembalakan.

Dari aplikasi penggembalaan presisi ini kemudian akan terbuka peluang lebar untuk kita semua, berikut beberapa diantaranya :

  1. Di kanan kiri tiga ruas tol  Jagorawi, Cikampek dan Cipularang saja dengan total panjang sekitar 165 km sudah cukup untuk menggembalakan sekitar 66,000 domba secara berkelanjutan. Bayangkan dengan peluang ekonominya, bila selama ini pengelola jalan tol membayar orang untuk membabat rumput kemudian mengubahnya dengan membayar orang yang sama tetapi kali ini untuk menggembala domba di tempat mereka biasa bekerja !
  2. Peluang yang sama tersebut akan menjadi sangat besar bila di-elaborasi lebih lanjut karena di Indonesia  menurut Bappenas panjang jalan tol akan mencapai 1,710 km tahun 2014 ini. Lebih besar lagi di kanan kiri jalur kereta api yang kini panjangnya mencapai 4,678 km.
  3. Di komplek-komplek perumahan besar dan di padang-padang golf selama ini dikeluarkan biaya yang besar hanya untuk menjaga kerapian rumput-rumputnya. Bagaimana kalau tempat-tempat tersebut digunakan untuk penggembalaan secara presisi ? selain rumputnya akan terpotong rapi, padang rumput yang ada akan terlestarikan dengan sendirinya oleh pupuk organik yang ditebar oleh domba-domba gembalaan sambil mereka makan.
  4. Pernah dihitung oleh rekan saya yang kepala cabang Bank Indonesia di Riau, bahwa di area kebun sawit di propinsi Riau saja ada potensi ekonomi senilai Rp 1,000 trilyun - bila lahan-lahan sawit tersebut juga digunakan untuk menggembala domba (bukan sapi !).

Peluang-peluang besar ini tentu saja akan tinggal peluang bila kita tidak melakukan langkah-langkah untuk mengelaborasinya, Alhamdulillah langkah-langkah awal itu kini telah bener-bener kita mulai – yaitu dengan melatih domba-domba kita untuk bisa digembalakan secara presisi. InsyaAllah.


agribisnis indonesia, alfaafa, sejarah alfaafa, desain pertanian qurani, resolusi pertanian, resolusi peternakan, budidaya tanaman zaitun, budidaya tanaman kurma, membangun ketahanan pangan, kemakmuran umat memakmurkan petani kebun quran

SelengkapnyaMelatih hewan ternak domba

Menyimak kembali tànaman Alfaafa dari Al Quran

Posted by Noer Rachman Hamidi


Solusi agar kita tidak meninggalkan generasi yang lemah sesudah kita, dan juga solusi agar anak-anak kita tumbuh sama tinggi dengan bangsa lain di dunia ini insyaallah sudah begitu jelas – tinggal menunggu tindakan nyata kita untuk mengimplementasikannya.

Salah satu solusi ini adalah hasil diskusi yang membahas surat An-Naba' (Berita Besar) ayat ke 16. Ayat tepatnya berbunyi "wa jannaatin alfaafa" yang oleh penterjemah Departemen Agama diartikan sebagai "dan kebun-kebun yang rindang". Mungkin karena keterbatasan bahasa Indonesia, ayat tersebut diatas diterjemahkan sama persis dengan ayat lain yang berbunyi "wa khadaa iqo ghulba" (QS 80 :30) yang terjemahannya juga "dan kebun-kebun yang rindang" .

Sangat bisa jadi Allah mempunyai maksud lain ketika menggunakan kalimat yang berbeda untuk menggambarkan "kebun-kebun yang rindang" tersebut. Bisa jadi alfaafa yang menurut ustadz saya dalam bahasa arab umumnya berarti "berkumpul, bercampur baur, berdekat-dekatan" untuk meggambarkan banyaknya pohon dalam kebun dlsb.; juga berarti nama jenis tanaman tertentu ?.

Di dunia ini memang ada tanaman luar biasa yang dalam bahasa Inggris disebut Alfalfa atau dalam bahasa latinnya disebut Medicago Sativa - bisa jadi ini adalah tanaman Alfaafa dalam ayat tersebut diatas !. Karena menurut sejarah tanaman ini sudah ada sejak 6,000 tahun sebelum Masehi , dan dokumen tertua yang ada menjelaksan tentang tanaman Alfalfa ini adalah dokumen di Turki yang ditulis kurang lebih 1300 tahun sebelum masehi. Jadi tanaman Alfalfa memang ada pada saat Al-Qur'an turun !.

Terlepas dari kebenaran yang masih perlu dikaji – yaitu apakah yang disebut di Al Qur'an sebagai "wa jannaatin alfaafa" ini adalah "kebun-kebun yang rindang" secara umum, atau secara khusus diarahkan untuk kebun Alfalfa. Yang jelas tanaman Alfalfa ini memang merupakan karunia yang luar biasa dari Allah untuk umat manusia di dunia.

Karunia tersebut antara lain adalah :

1. Akarnya yang sangat dalam masuk ketanah, selain menjadi penahan erosi yang sangat efektif juga dapat menyerap hampir seluruh unsur-unsur penting yang ada di dalam tanah.

2. Memiliki protein yang sangat tinggi, dari sebuah riset di Kroasia, tangkai Alfalfa bisa mengandung protein sampai sekitar 18% ; dan bahkan daunnya bisa diatas 30 %.

3. Dengan kandungan protein yang sangat tinggi tersebut, maka seluruh hewan ternak ruminansia (sapi, kerbau, kambing dlsb) akan sangat cepat tumbuh bila diberi makan dari Alfalfa ini.

4. Bahkan daun Alfalfa memiliki kandungan klorofil yang sangat tinggi yang bermanfaat untuk kesehatan manusia.

5. Dlsb.dlsb.

Lantas apa kaitannya tanaman Alfalfa ini dengan krisis berkurang tinggi-nya anak-anak Indonesia yang disebabkan oleh kurangnya makan daging ?.

Daging dari sapi, kambing dan lain sebagainya akan mudah dihasilkan dengan murah bila ditemukan tanaman yang mengandung protein tinggi seperti tanaman Alfalfa ini. Tidak heran negeri seperti Amerika menanam tambahan sekitar 9.2 juta hektar tanaman ini setiap tahunnya untuk makanan ternak mereka. Nilai ekonomi tanaman Alfalfa di negeri tersebut sangat tinggi ( nomor ketiga setelah jagung dan kedelai) karena menjadi sumber pakan ternak yang sangat efektif ini.

Lantas mengapa tidak kita tanam saja banyak-banyak agar kambing dan sapi kita cepat tumbuh – agar daging menjadi murah dan terjangkau oleh seluruh rakyat ?. Tidak mudah memang, beberapa pihak di tanah air sudah mencobanya tetapi belum berhasil.

Saat ini kita bisa membeli benih tanaman ini dari luar tetapi yang sudah dibuat infertile oleh produsennya. Inilah jahatnya mereka, mereka tidak menghendaki tanaman yang luar biasa ini tumbuh di negeri seperti Indonesia – agar negeri seperti kita ini tetap tergantung pada negara-negara tersebut untuk terus impor daginng dlsb.

Tetapi one way or another , kita harus bisa menumbuhkan tanaman ini banyak-banyak di negeri kita ini, agar kita bisa beternak kambing dan sapi banyak-banyak secara efisien. Agar anak-anak negeri ini mampu makan daging secara cukup kedepannya. Apalagi bila benar Alfalfa ini adalah tanaman yang disebut di surat An-Naba' tersebut diatas, pasti manfaatnya untuk seluruh umat manusia – tidak hanya bangsa negara maju saja.

Melihat potensi yang begitu besar ini, kami mengundang para ahli dan praktisi pertanian di seluruh Indonesia – yang memiliki pengetahuan atau pengalaman langsung dengan Alfalfa ini - untuk membantu kami membudi dayakan Alfalfa ini secara luas di Indonesia. Kami terbuka untuk berbagai bentuk kerjasama yang baik untuk membangun kegenerasi yang kuat kedepan, generasi penghafal Al-Qur'an yang minum susu kambing secara cukup dan juga makan daging yang cukup.

Siapa tahu Anda bisa menjadi bagian dari solusi atas masalah-masalah besar yang terkait dengan sumber pangan bangsa ini kedepan. Solusi yang petunjuknya sudah begitu jelas ada di Al-Qur'an . InsyaAllah bersama kita bisa !.



agribisnis indonesia, alfaafa, sejarah alfaafa, desain pertanian qurani, resolusi pertanian, resolusi peternakan,

SelengkapnyaMenyimak kembali tànaman Alfaafa dari Al Quran

Resolusi Peternakan

Posted by Noer Rachman Hamidi

“Dia menciptakan kamu dari diri yang satu kemudian Dia jadikan daripadanya istri dan Dia menurunkan untuk kamu delapan ekor hewan yang berpasangan dari binatang ternak…” (QS 39 :6).

Dalam ayat lain (QS 6 : 143-144), delapan ekor hewan yang berpasangan (4 pasang) tersebut adalah dua ekor ( sepasang) domba, sepasang kambing, sepasang unta dan sepasang sapi.

Dari ayat-ayat tersebut kita dapat menangkap satu pesan yang sangat jelas bahwa sesungguhnya disediakan sumber-sumber daging yang sangat cukup untuk kehidupan kita di bumi ini. Disediakan olehNya dalam pasangan-pasangan untuk menjamin kelangsungan keturunannya, untuk sejalan dengan pertumbuhan kebutuhan manusia yang menjadi sangat banyak.

Jadi jumlah penduduk yang banyak tidak bisa kita jadikan alasan terus kita tidak bisa makan daging yang cukup. Lantas mengapa kita tidak atau belum mampu mengkonsumi daging yang cukup seperti negeri-negeri yang lain ?

Barangkali kita belum melaksanakan perintahNya untuk memakmurkan bumi ini ! (QS 11:61). Padahal semua resources-nya ada di kita dan petunjuk cara-cara memakmurkan bumi ini juga begitu jelas dan detil.

3 Input untuk memakmurkan bumi
Illustrasi disamping  menggambarkan bahwa tiga komponen untuk memakmurkan bumi – bahkan dari kondisi ekstremnya (bumi yang matipun) – semua ada di kita. Biji-bijian, hujan dan ternak – semuanya ada. Bahkan dari empat pasang hewan ternak yang disebutkan di Al-Qur’an tersebut di atas tiga diantaranya yaitu domba, kambing dan sapi sudah sangat familiar di kita. Sedangkan untuk unta hanya karena kita belum mencobanya saja sehingga terasa asing.

Terpadunya petunjuk untuk menggunakan ketiga unsur tersebut dalam memakmurkan bumi dapat kita lihat di ayat berikut :

“Dia-lah, Yang telah menurunkan air hujan dari langit untuk kamu, sebagiannya menjadi minuman dan sebagiannya (menyuburkan) tumbuh-tumbuhan, yang pada (tempat tumbuhnya) kamu menggembalakan ternakmu.” (Qs 16:10)

Sangat bisa jadi kita tidak bisa makan daging secara cukup tersebut karena kita meninggalkan petunjuk yang sangat jelas tersebut. Kita punya hujan banyak, tanaman hijauan-pun juga masih sangat banyak. Tetapi siapa di antara kita yang masih menggembala ternaknya ?

Bila kita amati berternak kambing dan domba, kita dapat belajar bahwa ternyata ‘menggembala’ inilah kata kuncinya. Tidak heran mengapa seluruh nabi juga menggembala kambing !. Dengan menggembala bukan hanya kita bisa memberi makan ternak kita secara murah, tetapi juga mempertahankan kesuburan lahan melalui kotoran ternak yang menyebar.

Barangkali kita beralasan kini tidak ada lagi lahan gembalaan yang cukup. Tetapi alasan ini-pun sulit diterima. Lahan gembalaan bisa diantara tanaman-tanaman produktif yang ada (QS 80 : 24-32) seperti tanah-tanah perkebunan dan kehutanan. Bila dilakukan pengaturan yang baik malah bisa dilakukan di pinggir-pinggir jalan tol dan bahkan juga di padang golf yang banyak di Jabodetabek ini !

Dengan menggunakan hewan gembalaan maka pengelola jalan tidak perlu repot-repot memotong rumput, rumput sudah ada pemotongnya yang alami sekaligus menyuburkannya. Demikian pula para pengelola lapangan golf.

Intinya adalah tinggal faktor kemauan kita untuk berfikir serius dalam mengatasi ketimpangan dalam konsumsi daging yang bisa melemahkan umat ini.

Wallahu A'lam.

Agribisnis Indonesia

SelengkapnyaResolusi Peternakan

Resolusi Pertanian, Perkebunan dan Peternakan

Posted by Noer Rachman Hamidi


Awalnya dahulu manusia makan dari hewan dan tumbuh-tumbuhan yang bisa diperoleh dari alam sekitarnya. Kemudian bertahap manusia mampu menyeleksi tanaman-tanaman yang bisa dibudi dayakan, ternak yang bisa dijinakkan dan digembalakan, mampu mengelola air dan mempertahankan kesuburan, mampu mengatasi penyakit, menggunakan tenaga diluar tenaga manusia dst. Sampai di sini manusia masih bisa memenuhi kebutuhannya dari alam sekitar.

Kemudian ketika manusia mampu melakukan perjalanan jauh, mulailah sejumlah hasil pertanian diperdagangkan dari tempat-tempat yang jauh. Ini adalah suatu kebaikan karena dengan cara itu manusia bisa saling kenal mengenal dan saling memenuhi kebutuhannya. Bahkan untuk era yang sangat panjang, sekitar delapan abad di masa Islam menguasai perdagangan dunia – dunia Islam mengelola perdagangan hasil pertanian setidaknya di tiga benua yaitu Eropa, Afrika dan Asia. Bukan hanya hasilnya, Umat Islam pula yang menyebarkan sejumlah tanaman melintasi benua untuk bisa hidup di tanah-tanah yang baru.

Tercatat dalam sejarah tebu, sorghum, padi, lemon, kelapa, pisang, bayam dlsb. dibawa oleh umat Islam dari Asia dan Afrika ke Mediterania dan bahkan sebagian sampai kemudian ke benua Eropa. Sampai disini-pun perdagangan dan pengenalan tanaman-tanaman dunia masih memberi manfaat besar bagi umat manusia secara keseluruhan. Karena di jaman itu penduduk bumi terkonsentrasi di tiga benua yaitu Asia, Afrika dan Eropa – maka dapat dikatakan bahwa selama delapan abad umat Islam mengurusi pangan bagi penduduk dunia.

Lalu datanglah era kolonialisasi Eropa yang didominasi oleh Spanyol, Portugis, Belanda, Inggris dan juga Perancis. Mereka menjajah negeri-negeri kaya hasil alam untuk diekploitasi, dikuras habis hasil alamnya untuk membangun negeri-negeri mereka sendiri. Tidak sedikit kontribusi negeri-negeri jajahan untuk pembangunan Eropa untuk waktu yang lamanya sekitar empat abad, mulai dari abad ke 16 sampai pertengahan abad 20 ketika negeri-negeri jajahan beruntun merdeka seiring dengan berakhirnya Perang Dunia II.

Selama sekitar empat abad tersebut, para penjajah mengelola pangan dunia untuk keuntungan mereka sendiri. Negeri mereka makmur, tetapi negeri-negeri jajahan mereka di Asia, Afrika dan kemudian juga Amerika Selatan menjadi negeri-negeri yang miskin. Contoh klasiknya adalah kita di Indonesia yang bahkan pernah menjadi korban tanam paksa oleh kolonial tersebut.

Di paruh akhir dari abad ke 20 dan di awal abad 21 ini, lain lagi pengelola pangan bagi dunia itu. Pengelola pangan bukan lagi negara atau bangsa atau umat, tetapi segelintir pemain yang mengatas namakan perdagangan atau pasar bebas – yang mereka rela mengeksploitasi bangsanya sendiri sekalipun Demi keuntungan segelintir orang inilah berbagai produk dan hasil pertanian didatangkan dari negeri-negeri yang jauh sekalipun asal bisa memberikan keuntungan bagi (kelompok) mereka.

Produksi bahan pangan dalam negeripun terkendala oleh sumber-sumber produksi berupa bibit, pupuk, bahan kimia sampai pakan ternak yang dikuasai oleh segelintir kelompok usaha tertentu. Motif produksi dan peredaran bahan pangan sudah bukan lagi memenuhi kebutuhan bagi umat manusia, tetapi mengejar keuntungan semata. Pengelolaan produksi dan distribusi bahan pangan yang demikian itu hingga kini telah menimbulkan ketimpangan dan ironi yang luar biasa.

Negeri-negeri miskin dengan daya beli penduduknya yang rata-rata rendah justru harus membeli bahan pangan dari negeri maju – yang mengeruk keuntungan dari ekspor bahan pangan mereka itu. Petani dan peternak miskin harus membeli bibit, pupuk, obat-obatan dan bahkan pakan ternak dari konglomerasi tertentu. Di dunia saat ini ada sekitar 41 negara net exporters bahan pangan (kalori), mayoritasnya adalah negeri kaya seperti Amerika, Kanada, Australia, New Zealand, Perancis dlsb. Sementara itu yang menjadi net importers kalori adalah negeri yang pas-pas-an seperti Indonesia, India, Pakistan dan bahkan juga negeri-negeri miskin di Afrika, Asia Selatan, dan Amerika Tengah.

Ironi lain adalah ketimpangan distribusi bahan pangan dunia-lah yang telah menyebabkan sekitar 870 juta orang kekurangan gizi sementara ada 1 milyar orang di dunia kelebihan berat badan, 475 juta diantaranya bahkan sampai pada tingkatan obesitas. Pengelolaan bahan pangan dunia gaya kapitalisme juga membuat dunia tidak aman, rawan gejolak sosial, revolusi dan bahkan juga  perang. Krisis di Meksiko dengan Huru- Hara Tortilla awal 2007 bisa menjadi pelajaran bagi para pemimpin negeri yang suka mengandalkan impor untuk solusi kebutuhan pangannya.

Demikian juga yang dialami negeri-negeri Afrika Utara dan Arab beberapa tahun terakhir Instabilitas keamanan pangan mudah menjadi pemicu kerawanan yang ditimbulkan oleh hiperinflasi harga pangan melalui setidaknya tiga trigger:
  • Pertama adalah ketika negara produsen tiba-tiba membutuhkan sendiri hasil panenannya untuk berbagai keperluan sendiri dengan berbagai alasan – seperti kasus Tortilla di Meksiko tersebut.
  • Kedua, sekitar 45 % penduduk dunia berada di 5 negara besar Asia yang produksi bahan pangannya pas-pasan. Mereka ini adalah China, India, Indonesia, Pakistan dan Bangladesh. Karena kebutuhan pangannya yang sangat besar, kegagalan swasembada pangan negara-nagara ini mudah untuk memicu gejolak harga pangan di seluruh dunia. Kenaikan kebutuhan jagung dan kedelai oleh China misalnya, akan dengan mudah melambungkan harga jagung dan kedelai di pasaran dunia – itupun kalau masih tersedia.
  • Ketiga, ketika negeri-negeri panik dalam memenuhi kebutuhan pangannya – mereka cenderung memacu produksi dengan agak ngawur – tidak berfikir dampak jangka panjang. Hutan-hutan dibabat untuk menjadi lahan pertanian yang mengakibatkan krisis air kemudian, padahal air ini sangat dibutuhkan untuk pertanian itu sendiri. Ketika untuk intensifikasi pertanian, lahan-lahan digerojok dengan pupuk-pupuk dan obat-obatan kimia – maka ini hanya mempercepat penurunan kwalitas dan kesuburan lahan  - yang dampaknya secara gradual justru juga malah menurunkan hasil pertanian jangka panjang.
Satu saja dari triggers tersebut bekerja sudah cukup membuat Huru Hara Tortilla di Meksiko, bagaimana bila dua atau tiga  triggers tersebut aktif bekerja secara bersamaan ?  Maka risiko krisis pangan bagi dunia itu adalah imminent – mungkin bisa terjadi dalam waktu dekat.

Lantas pertanyaannya adalah bagaimana kita bisa proaktif mencegah krisis itu terjadi ?

Bagaimana kita bisa mencari solusi agar negeri ini bisa selamat dari potensi krisis pangan tersebut ?

Bagaimana kita bukan hanya mengatasi krisis untuk negeri sendiri tetapi juga menjadi solusi bagi negeri lain – seperti yang dilakukan oleh Nabi Yusuf ‘Alaihi Salam ?

Bagaimana kita bisa menjadi bagian dai solusi dunia dan bukan malah menjadi bagian dari masalahnya ?

Tiga dari setiap delapan penduduk dunia tergolong miskin bila kita gunakan standar daya beli US$ 2/hari. Ini berarti ada sekitar 2.7 milyar penduduk dunia yang miskin yang sangat rentan terhadap krisis pangan. Oleh sebab itu krisis ini harus bisa diantisipasi, dicegah dan diminimisasi dampaknya - bukan hanya oleh pemerintah, tetapi juga oleh penduduk negeri-negeri seperti kita.

Bagaimana caranya ? sebagaimana penyebabnya yang diuraikan dalam tulisan sebelumnya bahwa krisis itu berasal dari ulah tangan-tangan manusia – seperti di era kolonialism dahulu dan kapitalisme kini – maka dari sinilah kita mencegah krisis itu agar jangan sampai terjadi.

Pertama yang harus dihindari adalah penguasaan sumber-sumber produksi hanya oleh segelintir pihak tertentu. Ini bisa lahan, sumber air,  benih, pupuk, obat-obatan, energy, pengetahuan dlsb. Sumber produksi utama seperti lahan, air dan energi harus dikelola secara bersama sebagaimana petunjuk Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam :

“Orang-orang muslim itu bersyirkah dalam tiga hal, dalam hal padang rumput, air dan api” (Sunan Abu Daud, no 3745)

Kuncinya ada di syirkah tersebut dan ini pengertiannya sangat luas, dalam tulisan "Syirkah (Kerjasama) didalam 3 Hal", bisa dicari bentuk-bentuk syirkah yang paling efektif untuk membangun ketahanan pangan itu.

Ketika petani kita tidak bersyirkah, penguasaan lahan mereka rata-rata terlalu kecil. Seandainya lahan mereka sudah subur-pun, tetap tidak memberi penghasilan yang memadai untuk Pak Tani dan keluarganya, lihat tulisan "Memakmurkan Petani”. Bila selama ini sudah ada bentuk-bentuk syirkah seperti di sejumlah Kelompok Tani dan Koperasi Unit Desa (KUD), namun belum berhasil membangun kemakmuran para petani dan belum juga membangun ketahanan pangan – maka barangkali perlu dicarikan bentuk-bentuk syirkah yang lain yang lebih efektif.

Urusan pangan ini adalah urusan yang sangat besar, namun agar mudah ditangani - maka urusan tersebut kita bisa  breakdown menjadi urusan-urusan yang lebih kecil - kita atasi masalah tersebut dari desa ke desa. Setelah menjadi skala desa, insyaAllah akan banyak yang (merasa) sanggup untuk melakukannya dan mudah-mudahan bener-bener sanggup.

Kita di Indonesia memiliki jumlah lulusan sarjana pertanian saat ini sekitar 34,000 per tahun. Asumsikan 80 % Muslim dan asumsikan 50% saja tertarik untuk mempraktekkan ilmunya di bidangnya, asumsikan dari sini 5 % saja yang tertarik untuk melandasi penerapan ilmunya dengan petunjuk Al-Qur’an, Hadits dan sirah – maka mestinya tidak sulit untuk memperoleh sekitar 680 orang kader inti pertanian setiap tahun yang mau dibekali dengan petunjuk-petunjukNya.

Mereka kemudian  diterjunkan ke desa-desa untuk menjadi prime mover dalam gerakan syirkah pertanian di desa-desa. Mulai dari memetakan potensi dan masalah yang ada di desa tersebut, mengatasi satu per satu masalah yang ada, mengefektifkan kerja petani, mencarikan mereka bibit-bibit tanaman yang dibutuhkan, mengelola pasar hasil bumi petani dengan konsep pasar Madinah, mempromosikan keluar negeri dengan konsep "promosi gratis menggunakan Google", mengolah hasil pertaniannya di lokasi bila perlu dengan menggunakan yang dibuat sendiri seperti www.manufaktur-indonesia.com, dlsb.dlsb.

Maka si sarjana pertanian ini akan seperti Abdurrahman bin Auf yang tanpa bekal di hari pertamanya terjun ke pasar, tetapi kemudian dia mampu bersyirkah dengan seluruh penduduk Madinah dan memakmurkan Madinah pada jamannya. Demikianlah si sarjana ini nanti berperan di desanya yang baru, dia membangun syirkah dengan seluruh petani dan penduduk desa untuk kemudian memakmurkannya.

Apa jaminannya bahwa si sarjana ini akan berhasil ? yang menjamin keberhasilan dia bukan kita, tetapi Allah Ta'ala !, itulah maka dipersyaratkan di atas si sarjana ini harus mau dibekali dengan Al-Qur’an, Hadits, sirah dlsb. adalah untuk membangun keimanan dan ketakwaannya. Yang dia lakukan di desa bukan hanya mengajari bertani dan berdagang tetapi juga membangun keimanan dan ketakwaan petani dan penduduk desa – baru setelah itulah jaminan keberkahan dari Allah berlaku untuk mereka (QS 7 : 96).

Di antara bentuk keimanan dan keberkahan itu adalah keyakinan bahwa AlQur’an memberi jawaban untuk seluruh masalah (QS 16:89), maka si sarjana pertanian akan mencari solusi dari setiap masalahnya di Al-Qur’an. Ketika ketemu tanah yang tandus dan mati apa yang dia harus lakukan (QS 36:33), ketika ketemu hasil bumi yang tidak memadai – apa pula yang dia harus lakukan (QS 13:4) dlsb.

Sebagai contoh dengan surat Abasa yang dia bisa ajarkan ke para petani untuk membacanya, menghafalkannya dan sekaligus mengamalkannya – dia akan bisa mengurusi seluruh kebutuhan pangan petani. Mulai dari kebutuhan protein dari biji-bijian (QS 80:27), kebutuhan karbohidrat dan lemak (QS 8029), kebutuhan vitamin dan mineral (QS 80 : 28 dan 31), kebutuhan tanaman obat (QS 80 :30) dan bahkan juga tanaman-tanaman untuk ternak mereka (QS 80 :31-32).

Setelah metode ini berhasil dengan 680 orang sarjana di 680 desa percontohan, tinggal diikuti dengan sarjana-sarjana berikutnya di desa-desa lainnya. Setiap tahun penambahan desa yang digarap, yang diterjunkan adalah dua kali dari yang sebelumnya – referensinya ada ditulisan sebelumnya ‘ Desain Pertanian menurut Al Qurani ’ . Maka dengan pendekatan ini insyaAllah Indonesia yang memiliki sekitar 74,000 desa akan bisa makmur dalam periode kurang dari 10 tahun.

Bagaimana kalau para sarjana pertanian tidak tertarik untuk membangun desa ?, tidak masalah karena banyak sarjana lain dan bahkan juga pemuda-pemuda terampil yang bisa diajari dengan konsep yang sama. Yang lebih penting bukan sarjana atau tidaknya, yang penting adalah mau menggunakan petunjukNya atau tidak.

Yang mendatangkan kemakmuran bukan kesarjanaannya, tetapi adalah keimanan dan ketakwaannya – maka inilah syarat utamanya. Untuk membekali para sarjana atau pemuda trampil tersebut terjun ke desa-desa, bisa saja dibentuk syirkah level berikutnya.

Yaitu syirkah para pemodal dengan para pemuda yang akan terjun ke desa-desa tersebut. Orang-orang yang tinggal di kota-kota seperti saya dan Anda-pun insyaAllah akan mau bersyirkah mendanai para pemuda yang akan memakmurkan desa dan insyaAllah juga akan memakmurkan negeri ini secara keseluruhan - bahkan juga negeri-negeri lain dengan pola yang sama.

Dari syirkah bersama tersebut kita akan memiliki kekuatan di dalam membangun konsep pertanian terpadu dengan menggabungkan "hubungan antara Pertanian, Perkebunan dan Peternakan" sehingga sebagai petani dapat mandiri dalam mengelola pupuk organik, pakan untuk ternak, bahkan sumber energi untuk pertanian. Secara garis besar bisa kita kembangkan dari analisa berikut ini :
  1. Peternakan memerlukan pakan yang dapat diperoleh dari rumput-rumputan, kacang-kacangan, Alfaafa, jerami padu, jagung, singkong, hijauan dedaunan dari kebun buah-buahan yang diproses fermentasi menjadi pakan silase yang dapat bertahan sampai 12 bulan. Atas usaha ini biaya pakan untuk ternak dapat diturunkan sampai 70%, sehingga dapat menjadi keuntungan para petani. Contohnya dapat dilihat dalam tulisan "membuat Pakan untuk Sapi dan Kambing".
  2. Pertanian mendapatkan nutrisi untuk mengembalikan kesuburan tanah melalui Pupuk Organik dari hasil kotoran ternak yang telah di proses menjadi kompos. Proses pembuatan kompos dapat dibaca dalam tulisan "membuat Kompos Pupuk Kandang" dan  "Bahan Organik dan Proses Dekomposisi Pengomposan".
  3. Kompos yang dihasilkan, dapat memberikan suplai Nutrisi atau Unsur Hara Tanah yang diperlukan tanaman seperti: N, P, K, Ca, dll, juga dapat memperbaiki struktur tanah yang telah rusak dan meningkatkan daya ikat air dan mikroba yang bermanfaat. InsyaAllah tanah yang telah mati dapat dihidupkan kembali. Inilah program Konservasi Lahan Pertanian yang menghidupkan tanah yang telah mati menjadi tanah subur kembali atas ijinNya.
  4. Biaya produksi terutama pupuk anorganik seperti urea, TSP, KCL dll dapat ditekan seminimal mungkin atau bahkan sama sekali tidak dibutuhkan apabila tanah telah menjadi subur dengan alami. Adapun biaya dari pengadaan pupuk anorganik sebesar 45% dari biaya produksi dapat dihilangkan diganti dengan pupuk organik hasil produksi sendiri.
  5. Dengan program ini, kemakmuran petani menjadi meningkat, hanya dengan menurunkan biaya produksi yang efisien dan efektif (dari peternakan 70% dan dari pertanian 45%), insyaAllah dapat memperkuat kemandirian dari Pertanian, Perkebunan dan Peternakan, bahkan dalam bidang Energi.
  6. Hasil dari ber-syirkah ini, akan membuat program pertanian menjadi menarik, dapat membuka lapangan pekerjaan yang seluas-luasnya di bumi yang seharusnya ijo royo-royo ini, dan insyaAllah dapat membangun kemakmuran umat di negeri ini.
Desain yang terintegrasi dilahan yang cukup untuk pertanian, perkebunan, peternakan dan perikanan dapat diwujudkan dengan ilustrasi gambar berikut ini, (disesuaikan dengan kontur atau tinggi permukaan tanah). walaupun masih jauh dari sempurna, semoga bisa dijadikan bahan yang akan terus disempurnakan di kemudian hari.

Mudah-mudahan ini bisa menjadi wasilah kita untuk mendekatkan diri kepada Allah, agar Dia ridlo untuk memasukkan kita menjadi golongan kanan atas upaya kita untuk bisa memberi makan di harihari kelaparan ini (QS 90 : 12-18). Agar solusi ini tidak hanya menjadi wacana dan tulisan belaka, lets just do it !. InsyaAllah Allah Ta'ala akan membimbing kita memberikan banyak hikmah dan teman-teman se-visi di dalam mencapai kemakmuran umat ini. Amin YRA.

www.agribisnis-indonesia.com

SelengkapnyaResolusi Pertanian, Perkebunan dan Peternakan