Agribisnis Indonesia by Noer Rachman Hamidi

Ketika Manusia Tidak Mampu Bersyukur dalam Mengelola Bumi.

Posted by Noer Rachman Hamidi


Ketika para ahli pakan ternak mengkonversi biji-bijian seperti jagung- kedelai dlsb menjadi pakan ternak, yang terjadi adalah shortage pangan bagi manusia.

Ketika para ahli energi mengubah penggunaan jagung menjadi bioethanol, masyarakat yang bahan pokok pangannya jagung sampai melakukan huru hara karena menjadi sangat mahalnya harga bahan pokok mereka.

Begitupun juga....
Ketika para pejuang lingkungan hendak mengurangi pencemaran di muka bumi dengan mengganti bahan –bahan kimia dalam kehidupan sehari-hari seperti penggunaan plastic dlsb. yang terjadi justru meningkatnya bahan baku dari nabati – yang membutuhkan lahan yang luas untuk penanamannya, butuh air yang banyak untuk pertumbuhannya dst.

Walhasil...
Ketika manusia berusaha mengatasi masalahnya bidang demi bidang, masalah yang ditimbulkan di bidang lainnya malah bisa menjadi lebih besar dari masalah yang dicoba atasi.

Maka manusia membutuhkan petunjuk dari yang mengetahui seluruh sisi dari setiap persoalan, tetapi siapa yang mengetahui seluruh sisi ini ? Dialah Yang Maha Tahu ! maka petunjuk dari Dia Yang Maha Tahu tentu sudah meliputi segala sisi yang terkait.

Bahkan jawaban untuk segala macam persoalan itu termasuk hal yang dijanjikannya :  “…Dan Kami turunkan Kitab (Al-Qur’an) kepadamu untuk menjelaskan segala sesuatu, sebagai petunjuk,  serta rahmat dan kabar gembira bagi orang yang berserah diri (muslim)”. (QS 16:89)

Sekarang pertanyaannya adalah bagaimana konkritnya Al-Qur’an memberi petunjuk agar semua kebutuhan manusia yang tercakup dalam 5F, yaitu: Food, Fuel, Fiber, Fodder and Feedstock.
Dan bagaimana 5F tersebut tercukupi dengan seimbang ?

Ada satu surat di Al-Qur’an yaitu surat An-Nahl yang juga disebut surat An-Ni’mah karena berisi sejumlah nikmat yang diberikan oleh Allah untuk manusia. Di surat inilah antara lain terdapat seluruh jawaban untuk kebutuhan manusia – termasuk di dalamnya 5 F tersebut.

Bila saja kita mau mengikuti petunjuk di surat ini – dan juga detilnya di surat-surat lainnya, maka manusia tidak akan pernah bingung dalam menggunakan lahan dan produk hasil buminya – karena semuanya sudah ada alokasinya masing-masing.

Food,
Untuk makanan (Food), alokasinya adalah dari tanaman-tanaman semusim seperti padi-padian, biji-bijian dan buah-buahan dari tanaman menahun (QS 16 :11). Manusia juga dapat jatah makan  dari daging ternak dan bahkan juga dari susunya (QS 16:66). Masih kategori makanan adalah juga obat-obatan seperti madu ( QS 16: 69).

Fuel,
Untuk bahan bakar (Fuel), alokasinya adalah  dari tanaman juga, khususnya buah-buahan tertentu seperti zaitun dan bahkan kurma dan anggur (QS 16:11 dan 67). Ketiganya bisa dimakan sebagai makanan prioritasnya, tetapi bisa juga jadi bahan bakar bila diperlukan dalam kondisi tertentu.  Bahkan bahan bakar fosil kita kini juga dahulunya adalah dari tanaman – jutaan tahun lalu.

Zaitun bisa digunakan sebagai bahan bakar secara eksplisit juga dijelaskan di surat lain (QS 24:35), sedangkan kurma dan anggur bisa jadi bahan bakar tersirat di ayat yang berbunyi : “…Dan dari buah kurma dan anggur kamu membuat minuman yang memabukkan dan rezeki yang baik…” (QS 16:67)

Bila kurma dan anggur dibuat minuman yang memabukkan – alcohol , maka memproduksi dan menjual belikannya –pun tidak boleh. Tetapi bagaimana bisa menjadi rezeki yang baik ?

Selain dimakan buahnya dan itu rezeki yang baik, ketika produk melimpah dan melebihi kebutuhan untuk makanan, maka buah-buah tersebut bisa diproses menjadi alcohol atau ethanol – bukan untuk diminum  – tetapi untuk bahan bakar. Memproduksi sampai jual beli bahan bakar tentu saja boleh, dan ini menjadi komoditi yang sangat vital di jaman modern ini – siapa yang menguasainya, mereka akan menguasai porsi rezeki yang baik itu.

Fiber,
Untuk Fiber atau serat yang disebut secara eksplisit adalah serat dari wool (domba), bulu binatang seperti kambing dan unta (QS 16:80). Yang disebut secara tersirat adalah serat yang digunakan lebah untuk membangun rumahnya (QS 16:68), karena lebah membuat rumah dari remah-remah dedaunan atau pepohonan.

Fodder,
Untuk Fodder atau pakan ternak adalah rumput di padang gembalaan yang tumbuh diantara pepohonan dan di tempat turunannya hujan (QS 16:10), maka kalau sumber utama daging kita adalah dari ternak yang digembalakan – tidak akan ada rebutan antara biji-bijian untuk makanan manusia dan biji-bijian pakan ternak. Biji-bijian utamanya untuk manusia, rumput-rumputan untuk ternak – jelas pembagiannya.

Feedstock,
Untuk Feedstock atau bahan baku yang disebut secara khusus adalah kulit binatang (QS 16:80) – yaitu untuk bahan rumah ketika kita dalam perjalanan maupun selagi menetap. Yang disebut secara umum bisa apa saja yang bisa digunakan sebagai bahan baku  untuk memenuhi kebutuhan manusia baik papan, sandang maupun lainnya (QS 16:81).

Karena masing masing jenis kebutuhan sudah ada alokasinya , tidak akan ada tumpang tindih antara satu kebutuhan dengan kebutuhan lainnya. Kita butuh material untuk membangun rumah dan membuat pakaian misalnya, tidak perlu berebut lahan dengan kebutuhan untuk tanaman pangan.  Semua bisa saling mengisi di satu hamparan lahan yang sama.

Ketika di suatu lahan pertanian kita menanam berbagai pohon buah, disitu juga tempat kita menggembala. Pohon buahnya menjadi berbuah banyak dengan adanya kotoran hewan, dan untuk pohon berbuah banyak dibutuhkan banyak penyerbukan yang utamanya menggunakan lebah. Buah banyak akan sejalan dengan madu banyak, dan beeswax atau lilin lebah yang banyak – yang terakhir ini bisa menjadi bahan baku yang semakin berharga.

Dari kombinasi ini sudah terjawab kebutuhan Food (termasuk obat), Fiber, Fodder dan sebagian Feedstock. Ketika kombinasi buah-buahan kita tambah dengan pisang, maka buahnya menambah Food, batangnya menjadi tambahan bahan baku atau Feedstock seperti bahan-bahan yang menjadi focus riset kami saat ini di bidang bioplastic, tree-free paper dan biocomposites.

Bila buah-buahannya kita tambah tiga buah spesifik yang disebut di ayat 11 dari Surat yang sama (An-Nahl) yaitu zaitun, kurma dan anggur ; maka tambah lagi pemenuhan kebutuhan Food itu dan satu lagi masalah terjawab yaitu Fuel. Ekses produksi zaitun bisa menjadi biodiesel, sedangkan ekses produksi anggur dan kurma menjadi bioethanol.

Maka demikianlah kebutuhan manusia bisa terjawab semuanya melalui petunjukNya dan bumiNya. Bumi insyaallah cukup untuk kita semua tinggal dan makmur didalamnya – bila kita mampu mensyukurinya - tidak kurang satu jengkalpun yang tersia-sia, insyaAllah. 


agribisnis indonesia, alfaafa, sejarah alfaafa, desain pertanian qurani, resolusi pertanian, resolusi peternakan, budidaya tanaman zaitun, budidaya tanaman kurma, membangun ketahanan pangan, kemakmuran umat memakmurkan petani kebun quran

SelengkapnyaKetika Manusia Tidak Mampu Bersyukur dalam Mengelola Bumi.

Menghadirkan Pekerjaan Terbaik

Posted by Noer Rachman Hamidi


Urbanisasi adalah penyakit kronis kota-kota besar dunia termasuk Indonesia yang hingga kini belum ketemu obatnya yang efektif. Selama sumber-sumber penghidupan atau pekerjaan terbaik adanya di kota-kota besar, maka selama itu pula masalah urbanisasi akan terus terjadi. Oleh sebab itu, untuk menghentikan arus urbanisasi – dan bahkan membalik arusnya menjadi deurbanisasi – daerah-daerah harus bisa menghadirkan sumber penghidupan atau pekerjaan terbaik. Bagaimana caranya ?

Bila kita tanyakan kepada para pencari kerja terdidik di negeri ini, yaitu para sarjana tentang pekerjaan apa yang terbaik menurut mereka ? maka jawabannya akan berdasarkan pengalaman atau pendidikan mereka. Pekerjaan di industri keuangan, industri teknologi, telekomunikasi, manufacturing dlsb. adalah  yang kemungkinan besar menjadi pilihan mereka.

Hal yang tidak jauh berbeda jawabannya apabila ditanyakan kepada para pencari kerja dari kalangan yang berpendidikan lebih rendah, bedanya mereka membidik di tenaga-tenaga administratif-nya, buruh pabrik dan sejenisnya.

Karena jawaban mereka inilah, maka mereka akan berbondong-bondong ke kota besar mencari pekerjaan yang menurut mereka terbaik – karena jenis-jenis pekerjaan semacam ini adanya memang di kota-kota besar dan sekitarnya.

Kota besar dan sekitarnya menjadi padat melebihi daya dukung kehidupannya, dan berbagai problem bermunculan. Krisis perumahan, kelangkaan air bersih, pencemaran lingkungan, kekumuhan, kemacetan dan berbagai penyakit fisik, psikis sampai penyakit sosial adalah diantaranya.

Penyakit turunan dari masalah urbanisasi ini belum ketemu obatnya karena kita belum pernah mencari obat dari sumber yang seharusnya. Dimana obat atau solusi atas penyakit-penyakit ini seharusnya kita cari ? Dimana lagi kalau bukan di petunjuk kehidupan kita yang hakiki ?

Coba tanyakan apa pekerjaan yang terbaik menurut petunjukNya itu ? jawabannya antara lain akan muncul dari hadits nabiNya yang shahih. Apa yang diucapkan Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasalam adalah juga wahyu yang diwahyukan (QS 53:4), jadi yang terbaik menurut Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam adalah juga yang terbaik menurut Allah.

Sekarang kita perhatikan hadits sahih berikut : Dari Abu Hurairah R.A. dari Rasulullah SAW, beliau bersabda : 
“Di antara penghidupan (pekerjaan) manusia yang terbaik, adalah seorang laki-laki yang memegang kendali kudanya di jalan Allah. Dia terbang diatasnya (dia menaikinya dengan jalan yang cepat). Setiap mendengar panggilan perang dia terbang diatasnya dengan bersemangat untuk mencari kematian dengan jalan terbunuh (dalam keadaan syahid) atau menyongsong kematian ditempat datangnya.  Atau seorang laki-laki yang menggembala domba di puncak gunung dari atas gunung ini atau lembah dari beberapa lembah. Dia mendirikan sholat, memberikan zakat dan menyembah kepada Tuhannya hingga kematian datang kepadanya. Dia tidak mengganggu kepada manusia, dan hanya berbuat baik kepada mereka.” (H.R. Muslim).

Dari hadits tersebut di atas kini kita tahu bahwa pekerjaan terbaik itu berjihad, namun bila kita tidak dalam posisi untuk melakukannya saat ini – masih ada pekerjaan terbaik kedua yaitu menggembala domba di puncak-puncak gunung dan di lembah-lembah.

Sekarang kita tahu, ada pekerjaan terbaik menurut kita-kita seperti yang kita tanyakan ke para pencari kerja tersebut di atas. Adapula pekerjaan terbaik menurut Allah dan RasulNya, mana kira-kira yang hakiki kebenarannya ? yang menurut kita atau yang menurut Allah dan RasulNya ? ya mestinya yang terbaik secara hakiki adalah yang menurut Allah dan RasulNya !

Sekarang pertanyaannya adalah bisakah penghidupan atau pekerjaan terbaik menurut Allah dan RasulNya tersebut kita hadirkan kembali di jaman ini ? Jawabannya bukan hanya bisa, tetapi juga sekaligus bisa mengatasi penyakit kronis urbanisasi dan penyakit turunannya tersebut di atas.

Untuk menghadirkan pekerjaan terbaik di daerah-daerah, Intinya adalah menghadirkan pekerjaan yang bukan hanya terbaik menurut daerah atau menurut kita – tetapi terbaik menurut Allah dan RasulNya. Yang kita tawarkan ke masyarakat sebenarnya bukan hanya sekedar pekerjaan, tetapi peluang untuk bisa dieksplorasi sendiri oleh masyarakat, mulai dari yang berpendidikan rendah, para sarjana baru sampai juga peluang bagi kalangan eksekutif muda dan eksekutif senior sekalipun.

Untuk masyarakat yang berpendidikan rendah, mereka bisa dididik menjadi para penggembala domba. Mungkin awalnya bisa jadi tidak menarik, karena ini sudah tidak dilakukan oleh mayoritas pekerja kita. Mereka hanya perlu diberi pemahaman, bahwa menggembala  domba adalah pekerjaan para nabi ! dan sampai akhir jaman-pun tetap akan relevan sesuai dengan hadits tersebut di atas.

Dari sisi penghasilan-pun inysaAllah tidak akan kurang nilainya dari yang mereka akan peroleh bila mereka bekerja di kota-kota besar sebagai tenaga administrative atau buruh pabrik. Penghasilan mereka akan bersifat variable dari perkalian pertambahan berat badan domba-domba yang dia gembalakan dengan  factor pengali tertentu - yang dikaitkan langsung dengan prosentase harga berat kotor domba yang lagi berlaku di pasar.

Untuk para sarjana baru, mereka bisa dididik menjadi supervisor para penggembala tersebut. Tugasnya adalah memanage portfolio domba-domba yang digembalakan oleh seluruh penggembala dalam kelolaannya. Seorang supervisor bisa mensupervisi ratusan penggembala dalam suatu wilayah tertentu.

Tugasnya ini meliputi supervisi kesehatannya, pendataan pertumbuhan berat domba-dombanya sampai mengatasi masalah-masalah yang terkait resiko, moral hazard dlsb. Bila ada domba yang mati, misalnya – supervisor harus tahu dimana domba tersebut dikuburkan untuk memastikan bahwa memang ada domba yang mati. Bila ada domba yang hilang dia harus berkoordinasi dengan kepolisian setempat selain mencari yang hilang juga mencegah kejadian serupa terulang. Bila ada penyakit, dia harus koordinasi dengan dokter hewan atau dinas kesehatan setempat dlsb.

Lantas bagaimana para sarjana ini digaji ? sama dengan para penggembala tadi yaitu prosentase tertentu dari pertambahan berat dari seluruh domba yang digembalakan oleh seluruh penggembala dalam supervisinya. Faktor prosentase-nya sendiri jauh lebih kecil dari prosentase para penggembala, tetapi dari jumlah domba yang jauh lebih banyak.

Untuk para eksekutif tugasnya lain lagi, merekalah yang akan menjalin hubungan dengan para gubernur, bupati, direksi perkebunan, direksi perhutani, pengelola jalan tol, pengelola kereta api dlsb. Intinya merekalah yang akan membuka pintu-pintu kerjasama dengan berbagai instansi terkait yang kita butuhkan lahannya untuk tempat para penggembala kita menggembalakan ternaknya.

Para eksekutif ini pula yang akan membuka pasar ketika hewan-hewan tersebut waktunya dipasarkan. Melalui kreatifitas mereka pula kita akan sampaikan pesan nyata bahwa salah satu daging terbaik bagi kesehatan menurut World Healthiest Food adalah daging domba yang digembalakan makan rumput yang disebut grass-fed lamb
(Reff: http://www.whfoods.com/genpage.php?tname=foodspice&dbid=117)

Daging domba bukan sumber penyakit, malah sebaliknya dia menjadi obat bagi sejumlah penyakit. Daging domba adalah salah satu bagian dari Mediterranean diet yang terkenal menurunkan resiko penyakit cardiovascular. Dia sumber lemak-lemak Omega-3 dan sekitar 40 % lemak daging domba yang makan rumput adalah berupa  oleic acid – yaitu asam yang biasanya ada di minyak zaitun yang memang diresepkan dalam tibbun nabawiyah sebagai obat bagi 70 penyakit !

Para eksekutif-lah yang akan membangun komunikasi efektif tentang keunggulan daging domba ini, cara penanganan dagingnya sampai sekaligus juga membangun kreasi-kreasi baru di masyarakat untuk berbagai masakan lezat berbasis daging domba.

Dari mana para eksekuif ini mendapatkan gajinya ? dia akan bisa menikmati bagian hasil dari proses penciptaan nilai – value creation process yang terjadi di industri per-dombaan yang sedang kita bangun bersama ini.

Semua peran tersebut bisa terus dielaborasi oleh masing-masing pihak, sehingga akan terbangun industri per-dombaan yang solid sampai ke daerah-daerah terpencil. Saat itulah orang-orang yang sudah bekerja di kota-pun akan berbondong-bondong mencari kesempatan di pekerjaan terbaik ini di bukit-bukit dan di lembah-lembah !

Kita bisa saja memberikan ilustrasi angka-angka detil sampai perhitungan angka penghasilan para pihak tersebut di atas, tetapi tidaklah baik bila angka-angka penghasilan ini yang menjadi daya tarik awal. Karena bila hanya penghasilan yang menjadi motifnya, orang akan kecewa bila target penghasilannya tidak tercapai.

Kita ingin yang menjadi motif adalah karena membenarkan apa yang disampaikan oleh RasulNya yang berarti juga wahyu dari Allah sendiri. Bila RasulNya menyampaikan bahwa inilah pekerjaan terbaik kedua setelah berjihad, maka inilah yang kita ikuti tanpa banyak bertanya-tanya dan berhitung-hitung.

Di lapangan tentu saja akan ada ujian dalam berbagai bentuk kesulitan – maka inipun akan bisa kita tempuh dengan sukarela dan ikhlas karena niat kita hanya ingin mengamalkan petunjuk Allah dan RasulNya. Yang bergabung bukan yang ketika gagal nanti menagih janjinya, karena yang berjanji tentang pekerjaan terbaik ini adalah RasulNya yang berjanji tentang pekerjaan terbaik, maka kita ikuti bareng-bareng – kita hanyalah bagian yang sama dari rencana ini secara keseluruhan.

Janji siapa yang paling benar ? tentu janji Allah dan RasulNya. Padahal ada janji berikutnya setelah kita melaksanakan tugas kita menggembala (QS 16:10) ini, yaitu janji Allah untuk menyuburkan bumi dengan tanaman-tanaman semusim, degan zaitun, kurma, anggur dan seluruh buah-buahan lainnya (QS 16 :11).

Jadi hasil dari peogram ini  insyaAllah kedepannya akan menyuburkan negeri ini dengan limpahan hasil bumi dan segala  macam buah-buahan yang selama ini kita impor. Zaitun, kurma, anggur yang selama ini hanya kita sering dengar, insyaAllah akan menjadi tanaman kita sehari-hari. Begitu pula dengan berbagai jenis buah lainnya, negeri ini insyaAllah akan menjadi produsen terbesar buah-buahan dunia karena disinilah negeri tropis yang paling kaya bio diversity-nya dan disinilah petunjuk Allah kita jalankan.

Barangkali salah satunya dari multiplier effect-nya yang subhanallah tersebut diataslah harta terbaik yang dikabarkan oleh NabiNya itu juga terkait dengan domba.

Dari Abu Said Al-Khudri berkata : Rasulullah SAW bersabda : “Waktunya akan datang bahwa harta muslim yang terbaik adalah domba yang digembala di puncak gunung dan tempat jatuhnya hujan. Dengan membawa agamanya dia lari dari beberapa fitnah (kemungkaran atau pertikaian sesama muslim)”. (H.R. Bukhari)

Tentu saja di lapangan tidak semudah yang kita tulis, oleh sebab itu meluruskan niat sebelum Anda bergabung menjadi yang utama. Bila niat sudah lurus bahwa pekerjaan kita hanya salah satu sarana untuk mencari RidloNya semata, maka insyaAllah tidak ada tantangan yang terlalu besar untuk bisa kita taklukkan dengan ijinNya.

Wallahu A'lam.


agribisnis indonesia, alfaafa, sejarah alfaafa, desain pertanian qurani, resolusi pertanian, resolusi peternakan, budidaya tanaman zaitun, budidaya tanaman kurma, membangun ketahanan pangan, kemakmuran umat memakmurkan petani kebun quran
http://www.whfoods.com/genpage.php?tname=foodspice&dbid=117
SelengkapnyaMenghadirkan Pekerjaan Terbaik

Buah Pisang: Tanaman Surga

Posted by Noer Rachman Hamidi


Diantara ‘bocoran’ tanaman buah surga yang sudah bisa kita nikmati di dunia dan tumbuh dengan sangat baiknya di negeri ini  adalah pisang. Hanya mungkin negeri ini kurang perhatian saja, sehingga ketika  negeri jiran kita Philipina tahun lalu berhasil menempatkan dirinya menjadi exporter pisang no 3 di dunia setelah Ecuador dan Belgia, kita bahkan masih mengimpornya. Bila India bertekad ingin merebut pasar pisang dunia dengan pisang kebanggaan mereka yang diberi nama Mahabanana, kita masih bingung pisang yang mana yang akan kita unggulkan. Tetapi ini  sesungguhnya adalah peluang untuk kita semua. 

Secara ekonomi nilai perdagangan pisang dunia tahun lalu mencapai US$ 11.7 milyar , dan termasuk salah satu perdagangan komoditi yang tumbuh paling pesat di dunia. Tahun lalu saja pertumbuhannya mencapai 14.3 % , dan sejak tahun 2010-2014 kumulatif pertumbuhan mencapai 40 %.

Ironinya, negeri kita yang pisang bisa tumbuh dimana saja  - kita malah masih mengimpor pisang dalam jumlah besar. Nilainya hanya kalah dari impor jeruk, dan data terakhir masih menunjukkan nilai impor di kisaran  US$ 190 juta.

Dari sisi kesehatan, ‘bocoran’ buah surga ini juga sungguh luar biasa sehingga disebut buah kehidupan. Diantara daftar manfaatnya yang sangat panjang – ada yang mengidentifikasi sampai 25 manfaat - pisang mengandung tryptophan yang dalam tubuh kita kemudian berubah menjadi serotonin , suatu  neurotransmitter yang menghadirkan rasa bahagia di otak – tidak heran lha wong pisang adalah buah surga !

Dari skala mikro petani, sesungguhnya pisang juga tidak kalah menarik dengan tanaman-tanaman lainnya. Bila tanah terbaik sekarang adalah sawah yang bisa ditanami padi tiga kali dengan hasil rata-ratanya adalah sekitar 6 ton, dan harga jual gabah rata-rata Rp 4,000 saja ; maka dalam setahun hasil kotornya adalah 3 x 6,000 x Rp 4,000 = Rp 72,000,000,-.

Tanaman pisang intensif dapat memberikan hasil lebih dari 20 ton per tahun. Dengan harga jual petani sekarang di kisaran Rp 6,500/kg. Artinya satu hektar pisang bisa memberikan hasil kotor Rp 130 juta per tahun. Meskipun demikian saya tidak menganjurkan petani mengganti padi di sawahnya dengan pisang, karena di sisi beras-pun kita masih pas-pasan.

Kelebihan lain pisang adalah tidak perlu tanah sawah yang membutuhkan air terlalu banyak seperti padi, cukup ditanam sekali – selebihnya adalah anakan yang tumbuh terus menerus silih berganti – sehingga biaya penanaman dan perawatannya akan cenderung  menurun di tahun-tahun berikutnya.

Dengan perbagai kelebihan tersebut, masihkan kita di negeri yang seharusnya ijo royo-royo ini akan menjadi penonton saja dari perebutan pasar pisang dunia ? lebih dari itu masihkan kita akan membiarkan negeri ini menjadi pasar yang diperebutkan oleh negeri-negeri para pengekspor pisang dunia tersebut di atas ?

Semoga kita bisa menjadi kaum produsen yang menjadi solusi dunia dibidang pangan sebagai rasa syukur kita kepada Allah SWT yang memberikan kepada kita negeri yang memiliki tanah subur disertai sinar matahari dan hujan yang berlimpah. Aamiin, insyaAllah.


agribisnis indonesia, alfaafa, sejarah alfaafa, desain pertanian qurani, resolusi pertanian, resolusi peternakan, budidaya tanaman zaitun, budidaya tanaman kurma, membangun ketahanan pangan, kemakmuran umat memakmurkan petani kebun quran

SelengkapnyaBuah Pisang: Tanaman Surga

menghidupkan Bumi-Nya yang mati...

Posted by Noer Rachman Hamidi


Allah SWT menggambarkan umat terbaik (QS 3:110) yaitu umat Muhammad, Allah SWT menggunakan perumpamaannya seperti tanaman yang mengeluarkan tunasnya, kemudian tunas tersebut menjadi batang yang kuat dan terus membesar – tanaman yang menyenangkan bagi penanamnya (QS 48:29).

Perumpamaan ini selain memberikan semacam standar kwalitas umat yang seharusnya, juga menyimpan pelajaran tentang bercocok tanam yang baik tahap demi tahap. Mulai dari pemilihan biji yang baik, perkembangan tunas dan pembesaran batang – sampai kepada keindahan hasilnya.

Bahkan ketika Allah hendak menjelaskan tentang proses menghidupkan yang mati – agar kita meng-imani adanya kehidupan berikutnya setelah kehidupan yang ini - bersamaan dengan pelajaran keimanan ini - Allah juga selipkan pelajaran pertanian yang sangat komplit dari mulai bumi yang mati,  jenis-jenis tanaman yang seharusnya ditanam sampai pada urut-urutan penanaman.

Rangkaian ayat-ayat yang senada dengan surat Yaasiin 33-35 yang sudah banyak saya bahas sebelumnya, ada di rangkain ayat-ayat dari Surat Qaaf ayat 9-11 berikut :

“Dan Kami turunkan dari langit air yang banyak manfaatnya lalu Kami tumbuhkan dengan air itu pohon-pohon dan biji-biji tanaman yang diketam, dan pohon kurma yang tinggi-tinggi yang mempunyai mayang yang bersusun-susun, untuk menjadi rezeki bagi hamba-hamba (Kami), dan Kami hidupkan dengan air itu tanah yang mati (kering). Seperti itulah terjadinya kebangkitan.”

Perhatikan konsistensi ayat-ayat di surat Qaaf tersebut dengan yang ada di surat Yaasiin. Jenis tanaman yang digunakan untuk menghidupkan bumi yang mati, sampai urut-urtannya sama – yaitu dari biji-bijian kemudian kurma.

Bila saja para petani dan para pengambil keputusan di bidang pertanian negeri ini belajar dari ayat-ayat tersebut kemudian juga mengamalkannya, maka insyaAllah negeri ini tidak akan kekurangan pangan, tidak akan kehilangan kesuburan, kesejukan dan keindahannya.

Pertanyaan berikutnya adalah bagaimana kita bisa serius mentadaburi ayat-ayat tersebut untuk meningkatkan keimanan kita tetapi pada saat yang bersamaan juga mengamalkannya untuk tugas manusia memakmurkan bumi ? tidak ada jalan lain kecuali kita harus mau ber-exercise, bukan hanya dalam meningkatkan pemahaman semata, tetapi juga ketrampilan dalam mengamalkannya. InsyaAllah.

agribisnis indonesia, alfaafa, sejarah alfaafa, desain pertanian qurani, resolusi pertanian, resolusi peternakan, budidaya tanaman zaitun, budidaya tanaman kurma, membangun ketahanan pangan, kemakmuran umat memakmurkan petani kebun quran

Selengkapnyamenghidupkan Bumi-Nya yang mati...

Ber-Amal Sholeh Memakmurkan BumiNya

Posted by Noer Rachman Hamidi


Bumi ini insyaAllah bisa terus bertambah makmur – bila hal yang diperintahkan ke kita bersamaan dengan perintah menyembah dan mengesakanNya  disertai memakmurkan bumiNya (QS 11:61) – sungguh-sungguh kita laksanakan. Dan InsyaAllah kita semua bisa terlibat langsung dalam melakukannya.

Bahwa petunjuk Al-Qur’an itu detil dan jelas, ini antara lain ditunjukkan dengan sejumlah ayat di surat yang berbeda-beda yang saling menguatkan dan menjadi penjelas satu sama lainnya – kita temukan rangkaian ayat-ayat ini misalnya dalam ayat-ayat yang terkait dengan perintah untuk memakmurkan bumi tersebut di atas.

Untuk menjelaskan konvergensi ayat-ayat kemakmuran tersebut, bahkan bisa kita coba visualisasikan dalam ilustrasi tiga dimensi untuk menggambarkan sepotong bumi yang makmur. Untuk bisa kita lihat bersama dengan jelas, seandainya bumi yang makmur itu seperti bulatnya buah semangka – maka gambar dibawah adalah irisannya untuk 1/8 dari semangka tersebut.

Kemakmuran Berkelanjutan Secara Alami
Kita gunakan irisan ‘semangka’ ini untuk melihat proses pemakmuran yang terjadi di permukaan bumi dan didalamnya ( di bawah tanah) seperti yang dijelaskan di sejumlah ayat dalam berbagai surat.

Dalam hal kemakmuran bumi misalnya surat Yaasiin bercerita tentang bagaimana bumi yang mati (no 1 di gambar) dihidupkan dengan biji-bijian (QS 36 : 33), kemudian ayat 34-nya bercerita tentang kurma (2), anggur (3) dan mata air (4). Maka dua ayat ini bercerita suatu proses dari bumi yang mati sampai menjadi bumi yang subur dengan mata air yang memancar.

Bagaimana proses detilnya kok bisa demikian ? Setelah ditanami biji-bijian, dengan bantuan mikroba yang berkoloni pada perakarannya -  tanaman biji-bijian ini bisa langsung menyerap Nitrogen (N2) di udara dan mengubahnya untuk menjadi Nitrogen yang siap konsumsi oleh tanaman (NH3 kemudian NH4). Bumi yang mati, kini telah mulai hidup dengan unsur utama yang diperlukannya – yaitu Nitrogen.

Bersamaan dengan hadirnya Nitrogen tersebut, permukaan tanah akan tertutup oleh daun dari tanaman biji-bijian ini sehingga mencegah penguapan dari air hujan yang jatuh di permukaan tersebut serta menurunkan suhu permukaannya.

Dengan modal inilah maka kemudian tanah bisa ditanami oleh tanaman-tanaman berikutnya khususnya kurma dan anggur seperti di QS 36 ayat 34 tersebut. Perakaran kurma yang rapat dan dalam – bisa sampai 10 meter, membantu menahan air di dalam tanah.

Air yang tertahan ini terus merembas ke bawah dan dalam waktu yang lama akan menaikkan permukaan air tanah (water table). Water table ini adalah kodisi dimana permukaan air di dalam tanah memiliki tekanan 0 atm. Water table yang terus terisi akan naik mendekati permukaan tanah, maka bila ketemu bagian tanah yang posisinya sama atau lebih rendah dari water table ini – disitulah air akan memancar sebagai mata air (posisi no 4 dalam gambar).

Setelah ada mata air, maka lebih luas lagi opsi tanaman yang bisa kita tanam. Lahan berupa sawah ladang untuk menanam padi-padian-pun mulai terbentuk, maka di ayat berikutnya (QS 36 : 35) disebutkan bahwa kita bisa makan dari hasil usaha tangan kita – yaitu hasil bercocok tanam jenis padi-padian.

Komposisi kebun yang terdiri dari kurma, anggur dan kemudian sungai-sungai yang mengalir dibawahnya ini juga diungkapkan oleh Allah di Surat Al-Baqarah ayat 266. Senada dengan ini juga di surat Al-Kahfi (QS 18 : 32-33). Bila ilustrasi 1/8 semangka tersebut saya gandakan menjadi ¼ semangka – yaitu sisi kirinya yang sama persis seperti cermin dari gambar yang ada di kanan -  maka akan menjadi ilustrasi seperti di bawah.

Kebun Al-Kahfi

Dengan ilustrasi yang baru ini, kita akan jauh lebih mudah memahami dua kebun yang dijelaskan dalam dua ayat di surat Al-kahfi berikut.
“Dan berikanlah kepada mereka sebuah perumpamaan dua orang laki-laki, Kami jadikan bagi seorang di antara keduanya dua buah kebun anggur dan Kami kelilingi kedua kebun itu dengan pohon-pohon kurma dan di antara kedua kebun itu Kami buatkan ladang.

Kedua buah kebun itu menghasilkan buahnya, dan kebun itu tiada kurang buahnya sedikit pun dan Kami alirkan sungai di celah-celah kedua kebun itu” (QS 18 : 32-33)

Prinsip dua kebun yang mengindikasikan kemakmuran dan kebaikan sebuah negeri ini juga diceritakan oleh Allah dalam kasus kaum Saba : “Sesungguhnya bagi kaum Saba' ada tanda (kekuasaan Tuhan) di tempat kediaman mereka yaitu dua buah kebun di sebelah kanan dan di sebelah kiri. (Kepada mereka dikatakan): "Makanlah olehmu dari rezeki yang (dianugerahkan) Tuhanmu dan bersyukurlah kamu kepada-Nya. (Negerimu) adalah negeri yang baik dan (Tuhanmu) adalah Tuhan Yang Maha Pengampun". (QS 34 : 15)

Adapun disandingkannya kebun kurma dan anggur – yang disebut secara khusus oleh Allah di surat 13 : 4 bahwa diantara tanaman-tanaman itu ada yang berdampingan dan ada yang diunggulkan – pasti mengandung hikmah yang luar biasa dan hingga kini belum sepenuhnya bisa diungkapkan oleh ilmu pengetahuan pertanian yang paling modern sekalipun.

Karena bukan hanya di ayat ini kurma dan anggur disandingkan dalam penyebutannya, tetapi juga di sembilan ayat di surat-surat yang berbeda lainnya. Jadi totalnya ada sepuluh ayat dimana kurma dan anggur disebut secara berurutan, yaitu QS 13:4 ;  2 : 266;  6: 99;  13:4;  16:11; 16:67 ; 17:91; 18:32;  23:19 dan QS 36 :34.

Yang jelas kurma adalah tanaman yang bernilai tinggi dan demikian pula anggur, maka ketika keduanya berada dalam satu kebun – pastilah kebun itu memiliki hasil yang sangat tinggi – maka  keduanya juga disebutkan Allah sebagai rezeki yang baik (QS 16 :67).

Bila kebun kurma dan anggur inipun belum memberikan hasil yang maksimal, Allah turunkan resep berikutnya agar tanaman-tanaman ini berbuah banyak dan juga buah-buahan lainnya. Resep itu adalah menggembala sebagai mana ayat berikut :

“Dia-lah, Yang telah menurunkan air hujan dari langit untuk kamu, sebagiannya menjadi minuman dan sebagiannya (menyuburkan) tumbuh-tumbuhan, yang pada (tempat tumbuhnya) kamu menggembalakan ternakmu. Dia menumbuhkan bagi kamu dengan air hujan itu tanam-tanaman; zaitun, kurma, anggur dan segala macam buah-buahan. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar ada tanda (kekuasaan Allah) bagi kaum yang memikirkan.” (QS 16:10-11)

Jadi tempat menggembala terbaik-pun (no 10 di gambar) ternyata juga terkait dengan pohon kurma, anggur dan berbagai buah-buahan lainnya. Penggembalaan terbaik bukan di negeri-negeri padang rumput tempat dari mana kita mengimpor daging dan susu selama ini !, tetapi bisa jdi di negeri ini bila kita  bisa bener-bener melaksanakan petunjukNya.

Bila ini kita lakukan, maka berlakulah janji Allah bahwa sumber-sumber makanan itu akan datang dari atas kita dan dari bawah kaki kita (QS 5:66), dan demikian pula keberkahannya akan datang dari langit dan dari bumi (QS 7 : 96).

Kemudian keberadaan mata air dan juga sungai sebagai salah satu indikator  kemakmuran juga disebutkan di sejumlah ayat-ayat yang sangat banyak, tetapi bagaimana kita bisa berbuat untuk berkontribusi dalam hadirnya mata air-mata air dan sungai-sungai ini ? Dengan menanam pohon dan khususnya kurma !.

Selain disebutkan secara khusus bahwa tanaman kurma ini memancarkan mata air (QS 36:34) dan mengalirkan anak sungai (QS 19 : 23-24) , hadits perintah menanam pohon sampai kiamat – itu juga khususnya untuk pohon kurma, meskipun tidak salah kalau kita menanam pohon lainnya juga. Yang jelas salah adalah bila kita tidak menaman pohon dan bahkan cenderung menebangnya saja !

“Jika hari kiamat telah tegak, sedang di tangan seorang diantara kalian terdapat bibit pohon kurma; jika ia mampu untuk tidak berdiri sampai ia menanamnya, maka lakukanlah”. [HR. Ahmad]

Apa yang terjadi di dalam tanah ketika kita menanam pohon kurma  di tanah yang kering sekalipun ?

Tanah yang kering adalah tanah yang tidak ada mata airnya, permukaan air tanah atau water table-nya (no 9) ada tetapi posisinya sangat dalam. Molekul-molekul air bisa jadi masih ada di zone tidak jenuh (no 7 pada  pada gambar di atas) – tetapi jumlahnya yang tidak memadai untuk diambil sebagai air untuk kebutuhan manusia dan ternak. Hanya system perakaran tanaman – khususnya kurma – yang masih bisa memanfaatkan air yang sangat sedikit ini.

Ketika air hujan turun dan ditahan di perakaran kurma ini, air merembes terus kebawah sampai kepada zona jenuh (no 8). Seperti tetesan-tetesan air hujan yang jatuh ke kolam, maka dia tidak terus bergerak kebawah lagi – perlahan-lahan dia mengangkat permukaan kolam – yang dalam hal ini adalah mengangkat permukaan water table.

Ketika proses ini berjalan terus, maka saatnya nanti akan tiba – dimana permukaan water table akan sampai di permukaan tanah – dan saat itulah mata air muncul.

Meskipun hanya Allah-lah yang bisa menyimpan air ini, kita sebagai khalifahNya diperintahkan untuk memakmurkan bumi antara lain melalui  penanaman pohon ini, karena dari pohon-pohon yang kita tanam tersebutlah air disimpan di dalam tanah dan dikeluarkanNya dalam bentuk terbaiknya yaitu mata air-mata air.

Sebagaimana air adalah sumber segala kehidupan, maka menanam pohon adalah bentuk konkrit keterlibatan manusia untuk bisa ikut melestarikan kehidupan di bumi ini. Sebaliknya menebang pohon tanpa diikuti penanaman kembali, menyedot air secara berlebihan dari dalam tanah tanpa upaya untuk ikut mengembalikannya lagi – adalah mengancam ketersediaan air bersih di bumi ini yang berarti juga mengancam kehidupan itu sendiri.

agribisnis indonesia, alfaafa, sejarah alfaafa, desain pertanian qurani, resolusi pertanian, resolusi peternakan, budidaya tanaman zaitun, budidaya tanaman kurma, membangun ketahanan pangan, kemakmuran umat memakmurkan petani kebun quran

SelengkapnyaBer-Amal Sholeh Memakmurkan BumiNya

Memulai Kemakmuran dari Domba

Posted by Noer Rachman Hamidi


Pekerjaan memakmurkan bumi ini adalah pekerjaan yang sangat komplek – multi dimensi. Usia manusia yang terbatas, pengalaman dan kecerdasannya-pun terbatas – tidak akan pernah mampu menguasai keseluruhan dimensi tersebut. Lantas bagaimana manusia yang penuh keterbatasan ini bisa mengemban tugas yang sangat kompleks tersebut ? tidak ada jalan lain kecuali dengan mengikuti petunjukNya.

Bila kita hanya mengandalkan kecerdasan dan pengalaman kita, bisa jadi perbuatan yang kita kira baik itu justru berdampak buruk bagi orang lain.  Ketika orang-orang super kaya bersama dengan perusahaan-perusahaan benih dunia membuat Doomsday Seed Fault di laut Barent dekat kutub utara – untuk konon katanya mengamankan benih dunia ketika 'kiamat' tiba ! – yang terjadi malah hampir satu milyar orang kelaparan sebelum 'kiamat' itu tiba.

Sebaliknya, hal kecil - sederhana yang kita lakukan dengan mengikuti petunjukNya atau mengikuti contoh-contoh NabiNya – bisa jadi tersimpan di dalamnya hikmah yang sangat besar – baik hikmah itu kita ketahui atapun belum/tidak kita ketahui.

Misalnya syariat ber-Qurban yang akan rame-rame kita lakukan dalam sepekan yang akan datang. Siapa yang memberi contoh ?, yang memberi contoh adalah Nabi Ibrahim 'Alaihi Salam dan Putranya 'Ismail 'Alaihi salam. Apa yang dicontohkannya ? menyembelih seekor sembelihan yang besar. Para ahli tafsir menyebutkan bahwa yang disebut sembelihan yang besar itu adalah domba atau gibas yang besar dan sempurna (QS 37:107).

Lalu manusia sekarang berfikir ekonomis dan manfaat jangka pendek menurut logikanya sendiri – yang terbatas, yaitu ada paham menyembelih sapi lebih baik karena dagingnya banyak – banyak masyarakat yang bisa menikmati daging pada hari itu.

Meskipun tidak ada yang melarangnya dan berqurban dengan sapi, unta, kerbau dan lain sebagainya semuanya baik – yang tidak baik hanyalah yang tidak berqurban ! tetapi alangkah baiknya lagi kalau kita bisa mencontoh sedekat mungkin dengan contoh aslinya – yaitu menyembelih domba atau gibas yang besar.

Dagingnya tentu tidak sebanyak sapi, tetapi dampak pada dimensi-dimensi lainnya yang insyaAllah sangat luas. Bila qurban-qurban kita kembali ke domba, maka masyarakat akan rame-rame memelihara domba. Apalagi ketika domba-domba ini digembala juga dalam rangka mengikuti perintahNya (QS 20 :54), ketaatan yang satu melahirkan ketaatan berikutnya, manfaat yang satu menggerakkan manfaat berikutnya.

Akibat domba-domba yang digembalakan di tempat-tempat yang juga ditunjukanNya (QS 16:10), maka negeri ini akan menjadi negeri kebun-kebun buah dari segala macam buah-buahan yang ada (QS 16:11). Negeri yang seperti ini dipuji Allah sebagai negeri yang baik – Baldatun Thayyibatun Wa Rabbun Ghafuur (QS 34;15).

Negeri yang baik, mampu memberi makan cukup bagi rakyatnya – kita tidak perlu lagi impor buah malah meng-ekspornya, kita-pun tidak perlu lagi impor daging dan susu.  Daging domba ini adalah daging yang sekarang disebut the world healthiest food sebagai makanan tersehat didunia, mereka menyebut khusus the grass-fed-lamb yaitu daging domba yang diberi makan rumput (digembala di rerumputan !).

Susu domba selain menjadi minuman yang bersih dan mudah diminum (QS  16:66 ), juga sangat efektif untuk berbagai pengobatan penyakit. Tidak perlu industri farmasi yang canggih-canggih untuk ini, tinggal mengumpulkan dan mengemasnya secara baik saja – sudah akan menjadi industri obat-obatan yang tidak kalah dengan industri obat-obatan milik kapitalis yang telah menjadikan obat sangat mahal.

Ketika domba semakin banyak, ada potensi industri baru yaitu industri pakaian dari kulit atau bulu domba. Bahkan pakaian dari kulit dan bulu domba inipun ada di petunjukNya yaitu di surat An-Nahl 80-81. Kita bisa menjadi produsen dan eksportir pakaian terbaik dunia, tidak seperti sekarang kita menjadi importer untuk pakaian yang sebenarnya  tidak begitu bermutu.

Dari contoh kecil dan sederhana yaitu mengembalikan qurban sedekat mungkin dengan contoh aslinya ini saja – kita insyaAllah sudah bisa menggerakkan seluruh dimensi kemakmuran yang ada. Keturunan kita akan lebih baik, alam kita akan lebih baik, lapangan pekerjaan terbuka luas, demikian pula dengan potensi ekonomi riil dalam negeri yang bisa digarap oleh masyarakat luas.

Barangkali dampak yang begitu luas dalam pertumbuhan yang berkelanjutan inilah maka domba juga disebut sebagai harta muslim terbaik dalam hadits shahih berikut :  "Waktunya akan datang bahwa harta muslim yang terbaik adalah domba yang digembala di puncak gunung dan tempat jatuhnya hujan. Dengan membawa agamanya dia lari dari beberapa fitnah (kemungkaran atau pertikaian sesama muslim)". (H.R. Bukhari)

Maka yang kita perlu lakukan di usia yang terbatas dan kemampuan juga terbatas ini adalah bagaimana kita mengerjakkan saja perintah-perintahNya dan menjauhi apa-apa yang dilarangNya, maka kita insyaAllah akan semakin dekat dengan takwa – dan orang bertakwa dijanjikan rezeki yang tanpa batas atau tanpa dhihitung ( QS  3:27 ;24:38; 40:40), dan dari sumber yang tidak disangka-sangka  (QS 65:3)  ! InsyaAllah. ‎


agribisnis indonesia, alfaafa, sejarah alfaafa, desain pertanian qurani, resolusi pertanian, resolusi peternakan, budidaya tanaman zaitun, budidaya tanaman kurma, membangun ketahanan pangan, kemakmuran umat memakmurkan petani kebun quran

SelengkapnyaMemulai Kemakmuran dari Domba

Langkah Memulai Kemandirian Energi dan Pangan.

Posted by Noer Rachman Hamidi


Penggunaan renewable energy atau energi terbarukan, peningkatan efisiensi industri dan perbaikan pengelolaan tanah, hutan dan penggunaan tanah lainnya mengesankan ini adalah tugas para pelaku industri, pengusaha, ilmuwan dan pemerintah – mengesankan pekerjaan perbaikan lingkungan itu hanya 'tugas mereka' dan bukan tugas kita-kita.

Padahal bukankah setiap kita juga ingin berperan dalam memperbaiki lingkungan dan kehidupan itu kini dan nantinya untuk anak cucu kita ?, bukankah kita juga ingin tercatat sebagai orang yang berbuat kebaikan di muka bumi ini dan bukan yang merusaknya ? Lantas bagaimana kita bisa melakukannya ?

Pertama adalah menerima penugasanNya, bahwa setelah kita diperintahkan untuk menyembah kepadaNya dan meng-EsakanNya, tugas kita berikutnya adalah memakmurkan bumiNya (QS 11:61). Apa bentuk konkrit dari pekerjaan memakmurkan buminya ini ? Di antaranya ada dua jenis pekerjaan yang secara spesifik diperintahkan oleh Allah dan RasulNya dalam Al-Qur'an – yang ternyata bisa menjawab semua permasalahan tersebut di awal tulisan ini.

Pekerjaan  yang pertama adalah menggembala seperti yang diperintahkan Allah di dalam surat Thaa-Haa berikut : "Makanlah dan gembalakanlah binatang-binatangmu. Sesungguhnya pada yang demikian itu, terdapat tanda-tanda kekuasaan Allah bagi orang-orang yang berakal." (QS 20 :54)

Bahkan secara spesifik kita juga diberi tahu dimana tempat menggembala terbaik itu yaitu di tempat turunnya hujan dan di tempat tumbuhnya pepohonan : "Dia-lah, Yang telah menurunkan air hujan dari langit untuk kamu, sebagiannya menjadi minuman dan sebagiannya (menyuburkan) pohon-pohonan, yang pada (tempat tumbuhnya itu) kamu menggembalakan ternakmu." (QS 16:10)

Maka terkait tempat penggembalaan terbaik yang nantinya juga menjadi sumber makanan dari berbagai jenis buah-buahan di ayat lanjutannya (QS 16:11), kita juga diperintahkan menanam sampai hari kiamat, ini terungkap dalam hadits : "Jika hari kiamat telah tegak, sedang di tangan seorang diantara kalian terdapat bibit pohon kurma; jika ia mampu untuk tidak berdiri sampai ia menanamnya, maka lakukanlah". [HR. Ahmad]

Dua jenis pekerjaan yang satu secara spesifik diperintahkan di Al-Qur'an (menggembala) dan yang satu lagi diperintahkan secara spesifik  di dalam hadits tersebut di atas (menanam) ternyata adalah dua jenis pekerjaan yang terkait satu sama lain. Keduanya secara bersama-sama menjawab segala kebutuhan manusia hingga di jaman modern ini - yaitu kebutuhan makanan, energi, air bersih, udara bersih dan suhu yang nyaman bagi kehidupan di permukaan bumi.

Dalam hal makanan misalnya, fokus makanan kita yang selama ini pada beras dan gandum ternyata paling boros dalam penggunaan air dan energi dari tahap produksi sampai industrinya. Sawah membutuhkan begitu banyak air, yang bersaing dengan kebutuhan manusia akan air bersih. Gandum yang diproduksi dengah begitu banyak energi mulai dari produksi/penanamannya, transportasi sampai industri hilirnya – juga bersaing dengan kebutuhan energi lainnya. Begitu pula penanaman, pengolahan dan transportasi untuk bahan pangan seperti jagung, kedelai dan jenis biji-bijian lainnya.

Lantas bagaimana kita menyikapinya, lha apa terus tidak makan nasi, mie atau roti ? Kita tentu saja tetap boleh makan makanan dari jenis biji-bijian ini – tetapi dikembalikan pada proporsinya yang benar. Demikian pula fokusnya pada produksi bahan makanan yang boros sumber daya ini, dikurangi menjadi proporsional dengan jenis bahan makanan lainnya. Seperti apa proporsi yang seharusnya itu ?

Kita bisa menggunakan pendekatan ilmiah bahwa manusia butuh unsur makanan yang terdiri dari 1) karbohidrat, 2) protein, 3) lemak, 4) vitamin dan 5) mineral. Maka perhatian terhadap produksi dan konsumsi karbohidrat mestinya juga hanya kurang lebih 1/5 dari seluruh kebutuhan makanan kita. Jenis karbohidrat inilah yang utamanya dikontribusi oleh biji-bijian seperti  beras dan gandum.

Lebih menarik lagi kalau kita menggunakan rujukan Al-Qur'an, Allah menyebut jenis-jenis sumber makanan kita di surat Al-Anam : "…Kami keluarkan dari tanaman yang menghijau itu 1) butir yang banyak; dan 2) dari mayang kurma mengurai tangkai-tangkai yang menjulai, dan 3) kebun-kebun anggur, dan (Kami keluarkan pula) 4) zaitun dan 5) delima yang serupa dan yang tidak serupa..." (QS 6:99).


Juga ketika kita diminta memperhatikan makanan kita di surat Abasa : "…1) lalu Kami tumbuhkan biji-bijian di bumi itu, 2) anggur dan hijauan bergizi, 3) Zaitun dan pohon kurma, 4) tumbuh-tumbuhan (yang) lebat, 5) dan buah-buahan serta rumput-rumputan…" (QS 80 : 27-31)

Intinya mau menggunakan rujukan kebutuhan biologis ataupun rujukan petunjuk-petunjukNya, bahan makanan yang berupa biji-bijian yang umumnya adalah untuk kebutuhan karbohdrat – banyalah 1 dari 5 bahan atau jenis makanan yang kita butuhkan. Maka perhatian dan produksi jenis makanan biji-bijian inipun seharusnya hanya mendapatkan alokasi resources yang proporsional yaitu hanya sekitar 1/5 dari seluruh resources yang ada – baik berupa lahan, dana maupun tenaga kerja dan sumber daya lainnya.

Alokasi resources yang proporsional ini penting agar kita bisa mengalokasikan yang 4/5-nya atau 80%-nya untuk bahan atau sumber pangan lainnya. Sumber bahan pangan lainnya inilah yang sangat menarik untuk perbaikan kehidupan di bumi ini kedepan.

Kurma, anggur, zaitun, delima, tin, dan berbagai buah-buahan dan rerumputan tidak membutuhkan tanah sawah untuk tumbuhnya, tidak membutuhkan air yang banyak dan tidak pula membutuhkan resources yang besar untuk mengolah lahan dan kegiatan produksinya. Bila pada padi, gandum dan sejenisnya sekali tanam – sekali panen,  tidak demikian dengan tanaman jangka panjang seperti kurma dan buah-buahan. Bahan pangan dari hasil jenis tanaman pohon hanya perlu sekali menanam untuk sekian tahun yang akan datang - panen terus menerus tanpa perlu menanamnya lagi.

Sumber-sumber bahan makanan dari jenis tanaman jangka panjang inilah yang nantinya akan menjadi semakin penting bagi kelangsungan peradaban manusia ke depan, karena proporsinya akan mencapai sekitar 80 % dari seluruh bahan makanan yang ada. Menjadi semakin penting lagi karena pohon bukan hanya  menjadi  sumber pangan, tetapi juga sebagai media untuk mengelola air tanah, udara bersih , mengelola suhu permukaan bumi dan mengelola ecosystem kehidupan di permukaan bumi secara keseluruhan.

Tanaman-tanaman jangka panjang sangat sedikit membutuhkan pengolahan tanah atau bahkan tanpa membutuhkan pengolahan tanah ( minimum or no tilling) , sehingga aman dari erosi dan menyerap lebih banyak CO2 di dalam tanah dan melestarikan kesuburan tanah. CO2 inilah antara lain yang menjadi isu besar abad ini, dan masih banyak isu lain yang juga harus dipecahkan seperti ketersediaan tanah yang subur untuk pemenuhan kebutuhan akan bahan obat-obatan dlsb.

Efektifitas tanaman-tanaman jangka panjang ini untuk menjadi solusi bagi perbagai kebutuhan manusia akan semakin meningkat bila dikaitkan dengan penggembalaan ternak. Bahwa tanaman-tanaman ini khususnya tanaman buah-buahan membutuhkan Kalium untuk memperbanyak dan menguatkan buahnya, Kalium terbaik adalah dari kotoran ternak khususnya kencing domba. Sebaliknya ternak seperti domba membutuhkan bahan makanan dari rerumputan yang sangat beragam, rerumputan yang beragam ini tumbuh terbaik di antara pohon-pohonan.

Tanah-tanah yang digembala menjadi tanah yang gembur dan subur, menyerap lebih banyak CO2 dan semakin kondusif untuk tumbuhnya pepohonan – karena rumput yang dimakan ternak secara reguler akan memacu terbentuknya humus (bagian tanah yang sangat subur), memacu pertumbuhan biota tanah dan meningkatkan biomasa serta biological diversity di atas maupun di bawah tanah.

Bila untuk menyelamatkan lingkungan dan sekaligus menjawab berbagai kebutuhan kita ini dapat dilakukan dengan dua pekerjaan yang diperintahkan di Al-Quran dan Hadits tersebut di atas, menggembala dan menanam tanaman (buah) jangka panjang – sedangkan Allah dan RasulNya tidak  memerintahkan kita kecuali yang sesuai dengan kemampuan kita – maka insyaAllah kita semua akan bisa terlibat dalam pekerjaan ini. 

www.agribisnis-indonesia.com


SelengkapnyaLangkah Memulai Kemandirian Energi dan Pangan.