Agribisnis Indonesia by Noer Rachman Hamidi

Ketika Manusia Tidak Mampu Bersyukur dalam Mengelola Bumi.

Posted by Noer Rachman Hamidi


Ketika para ahli pakan ternak mengkonversi biji-bijian seperti jagung- kedelai dlsb menjadi pakan ternak, yang terjadi adalah shortage pangan bagi manusia.

Ketika para ahli energi mengubah penggunaan jagung menjadi bioethanol, masyarakat yang bahan pokok pangannya jagung sampai melakukan huru hara karena menjadi sangat mahalnya harga bahan pokok mereka.

Begitupun juga....
Ketika para pejuang lingkungan hendak mengurangi pencemaran di muka bumi dengan mengganti bahan –bahan kimia dalam kehidupan sehari-hari seperti penggunaan plastic dlsb. yang terjadi justru meningkatnya bahan baku dari nabati – yang membutuhkan lahan yang luas untuk penanamannya, butuh air yang banyak untuk pertumbuhannya dst.

Walhasil...
Ketika manusia berusaha mengatasi masalahnya bidang demi bidang, masalah yang ditimbulkan di bidang lainnya malah bisa menjadi lebih besar dari masalah yang dicoba atasi.

Maka manusia membutuhkan petunjuk dari yang mengetahui seluruh sisi dari setiap persoalan, tetapi siapa yang mengetahui seluruh sisi ini ? Dialah Yang Maha Tahu ! maka petunjuk dari Dia Yang Maha Tahu tentu sudah meliputi segala sisi yang terkait.

Bahkan jawaban untuk segala macam persoalan itu termasuk hal yang dijanjikannya :  “…Dan Kami turunkan Kitab (Al-Qur’an) kepadamu untuk menjelaskan segala sesuatu, sebagai petunjuk,  serta rahmat dan kabar gembira bagi orang yang berserah diri (muslim)”. (QS 16:89)

Sekarang pertanyaannya adalah bagaimana konkritnya Al-Qur’an memberi petunjuk agar semua kebutuhan manusia yang tercakup dalam 5F, yaitu: Food, Fuel, Fiber, Fodder and Feedstock.
Dan bagaimana 5F tersebut tercukupi dengan seimbang ?

Ada satu surat di Al-Qur’an yaitu surat An-Nahl yang juga disebut surat An-Ni’mah karena berisi sejumlah nikmat yang diberikan oleh Allah untuk manusia. Di surat inilah antara lain terdapat seluruh jawaban untuk kebutuhan manusia – termasuk di dalamnya 5 F tersebut.

Bila saja kita mau mengikuti petunjuk di surat ini – dan juga detilnya di surat-surat lainnya, maka manusia tidak akan pernah bingung dalam menggunakan lahan dan produk hasil buminya – karena semuanya sudah ada alokasinya masing-masing.

Food,
Untuk makanan (Food), alokasinya adalah dari tanaman-tanaman semusim seperti padi-padian, biji-bijian dan buah-buahan dari tanaman menahun (QS 16 :11). Manusia juga dapat jatah makan  dari daging ternak dan bahkan juga dari susunya (QS 16:66). Masih kategori makanan adalah juga obat-obatan seperti madu ( QS 16: 69).

Fuel,
Untuk bahan bakar (Fuel), alokasinya adalah  dari tanaman juga, khususnya buah-buahan tertentu seperti zaitun dan bahkan kurma dan anggur (QS 16:11 dan 67). Ketiganya bisa dimakan sebagai makanan prioritasnya, tetapi bisa juga jadi bahan bakar bila diperlukan dalam kondisi tertentu.  Bahkan bahan bakar fosil kita kini juga dahulunya adalah dari tanaman – jutaan tahun lalu.

Zaitun bisa digunakan sebagai bahan bakar secara eksplisit juga dijelaskan di surat lain (QS 24:35), sedangkan kurma dan anggur bisa jadi bahan bakar tersirat di ayat yang berbunyi : “…Dan dari buah kurma dan anggur kamu membuat minuman yang memabukkan dan rezeki yang baik…” (QS 16:67)

Bila kurma dan anggur dibuat minuman yang memabukkan – alcohol , maka memproduksi dan menjual belikannya –pun tidak boleh. Tetapi bagaimana bisa menjadi rezeki yang baik ?

Selain dimakan buahnya dan itu rezeki yang baik, ketika produk melimpah dan melebihi kebutuhan untuk makanan, maka buah-buah tersebut bisa diproses menjadi alcohol atau ethanol – bukan untuk diminum  – tetapi untuk bahan bakar. Memproduksi sampai jual beli bahan bakar tentu saja boleh, dan ini menjadi komoditi yang sangat vital di jaman modern ini – siapa yang menguasainya, mereka akan menguasai porsi rezeki yang baik itu.

Fiber,
Untuk Fiber atau serat yang disebut secara eksplisit adalah serat dari wool (domba), bulu binatang seperti kambing dan unta (QS 16:80). Yang disebut secara tersirat adalah serat yang digunakan lebah untuk membangun rumahnya (QS 16:68), karena lebah membuat rumah dari remah-remah dedaunan atau pepohonan.

Fodder,
Untuk Fodder atau pakan ternak adalah rumput di padang gembalaan yang tumbuh diantara pepohonan dan di tempat turunannya hujan (QS 16:10), maka kalau sumber utama daging kita adalah dari ternak yang digembalakan – tidak akan ada rebutan antara biji-bijian untuk makanan manusia dan biji-bijian pakan ternak. Biji-bijian utamanya untuk manusia, rumput-rumputan untuk ternak – jelas pembagiannya.

Feedstock,
Untuk Feedstock atau bahan baku yang disebut secara khusus adalah kulit binatang (QS 16:80) – yaitu untuk bahan rumah ketika kita dalam perjalanan maupun selagi menetap. Yang disebut secara umum bisa apa saja yang bisa digunakan sebagai bahan baku  untuk memenuhi kebutuhan manusia baik papan, sandang maupun lainnya (QS 16:81).

Karena masing masing jenis kebutuhan sudah ada alokasinya , tidak akan ada tumpang tindih antara satu kebutuhan dengan kebutuhan lainnya. Kita butuh material untuk membangun rumah dan membuat pakaian misalnya, tidak perlu berebut lahan dengan kebutuhan untuk tanaman pangan.  Semua bisa saling mengisi di satu hamparan lahan yang sama.

Ketika di suatu lahan pertanian kita menanam berbagai pohon buah, disitu juga tempat kita menggembala. Pohon buahnya menjadi berbuah banyak dengan adanya kotoran hewan, dan untuk pohon berbuah banyak dibutuhkan banyak penyerbukan yang utamanya menggunakan lebah. Buah banyak akan sejalan dengan madu banyak, dan beeswax atau lilin lebah yang banyak – yang terakhir ini bisa menjadi bahan baku yang semakin berharga.

Dari kombinasi ini sudah terjawab kebutuhan Food (termasuk obat), Fiber, Fodder dan sebagian Feedstock. Ketika kombinasi buah-buahan kita tambah dengan pisang, maka buahnya menambah Food, batangnya menjadi tambahan bahan baku atau Feedstock seperti bahan-bahan yang menjadi focus riset kami saat ini di bidang bioplastic, tree-free paper dan biocomposites.

Bila buah-buahannya kita tambah tiga buah spesifik yang disebut di ayat 11 dari Surat yang sama (An-Nahl) yaitu zaitun, kurma dan anggur ; maka tambah lagi pemenuhan kebutuhan Food itu dan satu lagi masalah terjawab yaitu Fuel. Ekses produksi zaitun bisa menjadi biodiesel, sedangkan ekses produksi anggur dan kurma menjadi bioethanol.

Maka demikianlah kebutuhan manusia bisa terjawab semuanya melalui petunjukNya dan bumiNya. Bumi insyaallah cukup untuk kita semua tinggal dan makmur didalamnya – bila kita mampu mensyukurinya - tidak kurang satu jengkalpun yang tersia-sia, insyaAllah. 


agribisnis indonesia, alfaafa, sejarah alfaafa, desain pertanian qurani, resolusi pertanian, resolusi peternakan, budidaya tanaman zaitun, budidaya tanaman kurma, membangun ketahanan pangan, kemakmuran umat memakmurkan petani kebun quran

Description: Ketika Manusia Tidak Mampu Bersyukur dalam Mengelola Bumi.
Rating: 4.5
Reviewer: google.com
ItemReviewed: Ketika Manusia Tidak Mampu Bersyukur dalam Mengelola Bumi.
Kami akan sangat berterima kasih apabila anda menyebar luaskan artikel Ketika Manusia Tidak Mampu Bersyukur dalam Mengelola Bumi. ini pada akun jejaring sosial anda, dengan URL : http://www.agribisnis-indonesia.com/2015/08/ketika-manusia-tidak-mampu.html

Bookmark and Share

0 comments... Baca dulu, baru komentar

Post a Comment