Agribisnis Indonesia by Noer Rachman Hamidi

Menghadirkan Pekerjaan Terbaik

Posted by Noer Rachman Hamidi


Urbanisasi adalah penyakit kronis kota-kota besar dunia termasuk Indonesia yang hingga kini belum ketemu obatnya yang efektif. Selama sumber-sumber penghidupan atau pekerjaan terbaik adanya di kota-kota besar, maka selama itu pula masalah urbanisasi akan terus terjadi. Oleh sebab itu, untuk menghentikan arus urbanisasi – dan bahkan membalik arusnya menjadi deurbanisasi – daerah-daerah harus bisa menghadirkan sumber penghidupan atau pekerjaan terbaik. Bagaimana caranya ?

Bila kita tanyakan kepada para pencari kerja terdidik di negeri ini, yaitu para sarjana tentang pekerjaan apa yang terbaik menurut mereka ? maka jawabannya akan berdasarkan pengalaman atau pendidikan mereka. Pekerjaan di industri keuangan, industri teknologi, telekomunikasi, manufacturing dlsb. adalah  yang kemungkinan besar menjadi pilihan mereka.

Hal yang tidak jauh berbeda jawabannya apabila ditanyakan kepada para pencari kerja dari kalangan yang berpendidikan lebih rendah, bedanya mereka membidik di tenaga-tenaga administratif-nya, buruh pabrik dan sejenisnya.

Karena jawaban mereka inilah, maka mereka akan berbondong-bondong ke kota besar mencari pekerjaan yang menurut mereka terbaik – karena jenis-jenis pekerjaan semacam ini adanya memang di kota-kota besar dan sekitarnya.

Kota besar dan sekitarnya menjadi padat melebihi daya dukung kehidupannya, dan berbagai problem bermunculan. Krisis perumahan, kelangkaan air bersih, pencemaran lingkungan, kekumuhan, kemacetan dan berbagai penyakit fisik, psikis sampai penyakit sosial adalah diantaranya.

Penyakit turunan dari masalah urbanisasi ini belum ketemu obatnya karena kita belum pernah mencari obat dari sumber yang seharusnya. Dimana obat atau solusi atas penyakit-penyakit ini seharusnya kita cari ? Dimana lagi kalau bukan di petunjuk kehidupan kita yang hakiki ?

Coba tanyakan apa pekerjaan yang terbaik menurut petunjukNya itu ? jawabannya antara lain akan muncul dari hadits nabiNya yang shahih. Apa yang diucapkan Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasalam adalah juga wahyu yang diwahyukan (QS 53:4), jadi yang terbaik menurut Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam adalah juga yang terbaik menurut Allah.

Sekarang kita perhatikan hadits sahih berikut : Dari Abu Hurairah R.A. dari Rasulullah SAW, beliau bersabda : 
“Di antara penghidupan (pekerjaan) manusia yang terbaik, adalah seorang laki-laki yang memegang kendali kudanya di jalan Allah. Dia terbang diatasnya (dia menaikinya dengan jalan yang cepat). Setiap mendengar panggilan perang dia terbang diatasnya dengan bersemangat untuk mencari kematian dengan jalan terbunuh (dalam keadaan syahid) atau menyongsong kematian ditempat datangnya.  Atau seorang laki-laki yang menggembala domba di puncak gunung dari atas gunung ini atau lembah dari beberapa lembah. Dia mendirikan sholat, memberikan zakat dan menyembah kepada Tuhannya hingga kematian datang kepadanya. Dia tidak mengganggu kepada manusia, dan hanya berbuat baik kepada mereka.” (H.R. Muslim).

Dari hadits tersebut di atas kini kita tahu bahwa pekerjaan terbaik itu berjihad, namun bila kita tidak dalam posisi untuk melakukannya saat ini – masih ada pekerjaan terbaik kedua yaitu menggembala domba di puncak-puncak gunung dan di lembah-lembah.

Sekarang kita tahu, ada pekerjaan terbaik menurut kita-kita seperti yang kita tanyakan ke para pencari kerja tersebut di atas. Adapula pekerjaan terbaik menurut Allah dan RasulNya, mana kira-kira yang hakiki kebenarannya ? yang menurut kita atau yang menurut Allah dan RasulNya ? ya mestinya yang terbaik secara hakiki adalah yang menurut Allah dan RasulNya !

Sekarang pertanyaannya adalah bisakah penghidupan atau pekerjaan terbaik menurut Allah dan RasulNya tersebut kita hadirkan kembali di jaman ini ? Jawabannya bukan hanya bisa, tetapi juga sekaligus bisa mengatasi penyakit kronis urbanisasi dan penyakit turunannya tersebut di atas.

Untuk menghadirkan pekerjaan terbaik di daerah-daerah, Intinya adalah menghadirkan pekerjaan yang bukan hanya terbaik menurut daerah atau menurut kita – tetapi terbaik menurut Allah dan RasulNya. Yang kita tawarkan ke masyarakat sebenarnya bukan hanya sekedar pekerjaan, tetapi peluang untuk bisa dieksplorasi sendiri oleh masyarakat, mulai dari yang berpendidikan rendah, para sarjana baru sampai juga peluang bagi kalangan eksekutif muda dan eksekutif senior sekalipun.

Untuk masyarakat yang berpendidikan rendah, mereka bisa dididik menjadi para penggembala domba. Mungkin awalnya bisa jadi tidak menarik, karena ini sudah tidak dilakukan oleh mayoritas pekerja kita. Mereka hanya perlu diberi pemahaman, bahwa menggembala  domba adalah pekerjaan para nabi ! dan sampai akhir jaman-pun tetap akan relevan sesuai dengan hadits tersebut di atas.

Dari sisi penghasilan-pun inysaAllah tidak akan kurang nilainya dari yang mereka akan peroleh bila mereka bekerja di kota-kota besar sebagai tenaga administrative atau buruh pabrik. Penghasilan mereka akan bersifat variable dari perkalian pertambahan berat badan domba-domba yang dia gembalakan dengan  factor pengali tertentu - yang dikaitkan langsung dengan prosentase harga berat kotor domba yang lagi berlaku di pasar.

Untuk para sarjana baru, mereka bisa dididik menjadi supervisor para penggembala tersebut. Tugasnya adalah memanage portfolio domba-domba yang digembalakan oleh seluruh penggembala dalam kelolaannya. Seorang supervisor bisa mensupervisi ratusan penggembala dalam suatu wilayah tertentu.

Tugasnya ini meliputi supervisi kesehatannya, pendataan pertumbuhan berat domba-dombanya sampai mengatasi masalah-masalah yang terkait resiko, moral hazard dlsb. Bila ada domba yang mati, misalnya – supervisor harus tahu dimana domba tersebut dikuburkan untuk memastikan bahwa memang ada domba yang mati. Bila ada domba yang hilang dia harus berkoordinasi dengan kepolisian setempat selain mencari yang hilang juga mencegah kejadian serupa terulang. Bila ada penyakit, dia harus koordinasi dengan dokter hewan atau dinas kesehatan setempat dlsb.

Lantas bagaimana para sarjana ini digaji ? sama dengan para penggembala tadi yaitu prosentase tertentu dari pertambahan berat dari seluruh domba yang digembalakan oleh seluruh penggembala dalam supervisinya. Faktor prosentase-nya sendiri jauh lebih kecil dari prosentase para penggembala, tetapi dari jumlah domba yang jauh lebih banyak.

Untuk para eksekutif tugasnya lain lagi, merekalah yang akan menjalin hubungan dengan para gubernur, bupati, direksi perkebunan, direksi perhutani, pengelola jalan tol, pengelola kereta api dlsb. Intinya merekalah yang akan membuka pintu-pintu kerjasama dengan berbagai instansi terkait yang kita butuhkan lahannya untuk tempat para penggembala kita menggembalakan ternaknya.

Para eksekutif ini pula yang akan membuka pasar ketika hewan-hewan tersebut waktunya dipasarkan. Melalui kreatifitas mereka pula kita akan sampaikan pesan nyata bahwa salah satu daging terbaik bagi kesehatan menurut World Healthiest Food adalah daging domba yang digembalakan makan rumput yang disebut grass-fed lamb
(Reff: http://www.whfoods.com/genpage.php?tname=foodspice&dbid=117)

Daging domba bukan sumber penyakit, malah sebaliknya dia menjadi obat bagi sejumlah penyakit. Daging domba adalah salah satu bagian dari Mediterranean diet yang terkenal menurunkan resiko penyakit cardiovascular. Dia sumber lemak-lemak Omega-3 dan sekitar 40 % lemak daging domba yang makan rumput adalah berupa  oleic acid – yaitu asam yang biasanya ada di minyak zaitun yang memang diresepkan dalam tibbun nabawiyah sebagai obat bagi 70 penyakit !

Para eksekutif-lah yang akan membangun komunikasi efektif tentang keunggulan daging domba ini, cara penanganan dagingnya sampai sekaligus juga membangun kreasi-kreasi baru di masyarakat untuk berbagai masakan lezat berbasis daging domba.

Dari mana para eksekuif ini mendapatkan gajinya ? dia akan bisa menikmati bagian hasil dari proses penciptaan nilai – value creation process yang terjadi di industri per-dombaan yang sedang kita bangun bersama ini.

Semua peran tersebut bisa terus dielaborasi oleh masing-masing pihak, sehingga akan terbangun industri per-dombaan yang solid sampai ke daerah-daerah terpencil. Saat itulah orang-orang yang sudah bekerja di kota-pun akan berbondong-bondong mencari kesempatan di pekerjaan terbaik ini di bukit-bukit dan di lembah-lembah !

Kita bisa saja memberikan ilustrasi angka-angka detil sampai perhitungan angka penghasilan para pihak tersebut di atas, tetapi tidaklah baik bila angka-angka penghasilan ini yang menjadi daya tarik awal. Karena bila hanya penghasilan yang menjadi motifnya, orang akan kecewa bila target penghasilannya tidak tercapai.

Kita ingin yang menjadi motif adalah karena membenarkan apa yang disampaikan oleh RasulNya yang berarti juga wahyu dari Allah sendiri. Bila RasulNya menyampaikan bahwa inilah pekerjaan terbaik kedua setelah berjihad, maka inilah yang kita ikuti tanpa banyak bertanya-tanya dan berhitung-hitung.

Di lapangan tentu saja akan ada ujian dalam berbagai bentuk kesulitan – maka inipun akan bisa kita tempuh dengan sukarela dan ikhlas karena niat kita hanya ingin mengamalkan petunjuk Allah dan RasulNya. Yang bergabung bukan yang ketika gagal nanti menagih janjinya, karena yang berjanji tentang pekerjaan terbaik ini adalah RasulNya yang berjanji tentang pekerjaan terbaik, maka kita ikuti bareng-bareng – kita hanyalah bagian yang sama dari rencana ini secara keseluruhan.

Janji siapa yang paling benar ? tentu janji Allah dan RasulNya. Padahal ada janji berikutnya setelah kita melaksanakan tugas kita menggembala (QS 16:10) ini, yaitu janji Allah untuk menyuburkan bumi dengan tanaman-tanaman semusim, degan zaitun, kurma, anggur dan seluruh buah-buahan lainnya (QS 16 :11).

Jadi hasil dari peogram ini  insyaAllah kedepannya akan menyuburkan negeri ini dengan limpahan hasil bumi dan segala  macam buah-buahan yang selama ini kita impor. Zaitun, kurma, anggur yang selama ini hanya kita sering dengar, insyaAllah akan menjadi tanaman kita sehari-hari. Begitu pula dengan berbagai jenis buah lainnya, negeri ini insyaAllah akan menjadi produsen terbesar buah-buahan dunia karena disinilah negeri tropis yang paling kaya bio diversity-nya dan disinilah petunjuk Allah kita jalankan.

Barangkali salah satunya dari multiplier effect-nya yang subhanallah tersebut diataslah harta terbaik yang dikabarkan oleh NabiNya itu juga terkait dengan domba.

Dari Abu Said Al-Khudri berkata : Rasulullah SAW bersabda : “Waktunya akan datang bahwa harta muslim yang terbaik adalah domba yang digembala di puncak gunung dan tempat jatuhnya hujan. Dengan membawa agamanya dia lari dari beberapa fitnah (kemungkaran atau pertikaian sesama muslim)”. (H.R. Bukhari)

Tentu saja di lapangan tidak semudah yang kita tulis, oleh sebab itu meluruskan niat sebelum Anda bergabung menjadi yang utama. Bila niat sudah lurus bahwa pekerjaan kita hanya salah satu sarana untuk mencari RidloNya semata, maka insyaAllah tidak ada tantangan yang terlalu besar untuk bisa kita taklukkan dengan ijinNya.

Wallahu A'lam.


agribisnis indonesia, alfaafa, sejarah alfaafa, desain pertanian qurani, resolusi pertanian, resolusi peternakan, budidaya tanaman zaitun, budidaya tanaman kurma, membangun ketahanan pangan, kemakmuran umat memakmurkan petani kebun quran
http://www.whfoods.com/genpage.php?tname=foodspice&dbid=117 Description: Menghadirkan Pekerjaan Terbaik
Rating: 4.5
Reviewer: google.com
ItemReviewed: Menghadirkan Pekerjaan Terbaik
Kami akan sangat berterima kasih apabila anda menyebar luaskan artikel Menghadirkan Pekerjaan Terbaik ini pada akun jejaring sosial anda, dengan URL : http://www.agribisnis-indonesia.com/2015/08/menghadirkan-pekerjaan-terbaik.html

Bookmark and Share

0 comments... Baca dulu, baru komentar

Post a Comment